Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 September 2018

Proses Kelahiran dan Pembentukan Galaksi

Galaksi Bunga Matahari, M63. Kredit: Bills Nyder

Galaksi adalah sebuah sistem masif yang terikat gaya gravitasi yang terdiri atas bintang (dengan segala bentuk manifestasinya, antara lain bintang neutron dan lubang hitam), gas dan debu medium antarbintang, serta materi gelap. Tahukah Anda bagaimana galaksi bisa terbentuk?

Galaksi tidak tersebar secara acak di alam semesta, tetapi sering ditemukan di sebuah "gugus galaksi", yang pada gilirannya juga merupakan bagian dari kelompok yang lebih besar yang disebut "super-gugus galaksi."

Para astronom di paruh kedua abad ke-20 telah banyak membuat penemuan yang menakjubkan, memperluas pemahaman kita tentang alam semesta. Pengetahuan manusia tentang bagaimana alam semesta tercipta telah tumbuh secara eksponensial. Namun demikian, beberapa pertanyaan mendasar masih belum terjawab, salah satunya; bagaimana galaksi pertama terbentuk?

Model kosmologi yang ada saat ini mengenai alam semesta awal didasarkan pada teori Dentuman Besar (Big Bang). Sekitar 300.000 tahun setelah peristiwa Big Bang, atom-atom hidrogen dan helium mulai terbentuk, dalam sebuah peristiwa yang disebut rekombinasi. Hampir semua hidrogen adalah netral (tidak terionisasi) dan dengan mudah menyerap cahaya, serta belum ada bintang yang terbentuk.

Akibatnya periode ini disebut "Zaman Kegelapan". Dari fluktuasi kepadatan (atau ketidakseragaman anisotropi) dalam materi purba inilah struktur-struktur yang lebih besar mulai muncul. Hasilnya, massa materi barionik mulai memadat dalam cincin cahaya materi gelap dingin. Struktur-struktur primordial inilah yang akhirnya menjadi galaksi yang kita lihat hari ini. 

Bukti tentang kemunculan awal galaksi ditemukan pada tahun 2006, ketika diketahui bahwa galaksi IOK-1 memiliki pergeseran merah (red shift) yang luar biasa tinggi sebesar 6,96, setara dengan jangka waktu hanya 750 juta tahun setelah Big Bang.

Hal ini menjadikannya sebagai galaksi terjauh dan paling purba yang pernah dilihat. Meskipun beberapa ilmuwan mengklaim objek lainlah (misalnya galaksi Abell 1835 IR1916) yang memiliki red shift lebih tinggi (dan karena itu sudah ada pada tahap yang lebih awal dalam evolusi alam semesta), namun usia dan komposisi IOK-1 ditentukan dengan cara yang lebih dapat diandalkan. 

Adanya protogalaksi yang seawal itu kemunculannya menunjukkan bahwa protogalaksi tersebut pastilah berkembang dalam apa yang disebut "Zaman Kegelapan". Namun, pada bulan Maret 2016 para astronom melaporkan bahwa galaksi GN-z11 adalah galaksi terjauh yang diketahui dengan nilai red shift 11,1. Galaksi tersebut diperkirakan sudah ada sejak sekitar 400 juta tahun setelah Big Bang. 


Citra galaksi terjauh, GN-z11. Kredit: NASA/ESA/Hubble


Diketahui galaksi GN-z11 ini diperkirakan terletak pada jarak 13,4 miliar tahun cahaya, dan karena pemuaian alam semesta, saat ini diperkirakan galaksi GN-z11 terletak lebih dari 32 miliar tahun cahaya dari Bumi.

Bagaimana proses rinci terbentuknya galaksi seawal itu berlangsung masih merupakan sebuah pertanyaan pokok yang belum terjawab dalam astronomi. Teori yang ada dapat dibagi dalam dua kategori: dari atas ke bawah (top-down) atau dari bawah ke atas (bottom-up).

Dalam teori top-down (seperti model Eggen-Lynden-Bell-Sandage [ELS]), protogalaksi terbentuk dalam sebuah runtuhan serentak berskala besar yang berlangsung selama kira-kira seratus juta tahun. Dalam teori bottom-up (seperti model Searle-Zinn [SZ]), struktur kecil seperti gugus bola terbentuk dahulu, lalu kemudian sejumlah struktur tersebut bergabung untuk membentuk galaksi yang lebih besar. 

Begitu protogalaksi mulai terbentuk dan mengerut, bintang-bintang halo pertamapun (disebut bintang Populasi III) muncul di dalamnya. Bintang-bintang ini tersusun hampir seluruhnya oleh hidrogen dan helium dan kemungkinan berukuran masif. 

Jika memang benar demikian, maka bintang-bintang yang sangat besar ini akan menghabiskan pasokan bahan bakarnya dengan cepat dan menjadi supernova, melepaskan unsur-unsur berat ke medium antarbintang. Bintang-bintang generasi pertama ini mengionisasi ulang hidrogen netral sekitarnya, menciptakan gelembung ruang yang mengembang yang bisa dengan mudah dilalui cahaya. 

Sumber: infoastronomy

Jumat, 13 April 2018

Mengenal Syarat Kelaikhunian Baru untuk Sebuah Planet Ekstrasurya


Sampai pada artikel ini ditulis, pencarian dan penemuan planet-planet ekstrasurya--planet yang berada di luar Tata Surya kita--masih berlangsung. Dan menurut para astronom dari Universitas Yale, Connecticut, AS, saat ini diperlukan syarat kelaikhunian bagi planet-planet asing tersebut.

Selama beberapa dekade terakhir, para astronom berpikir bahwa faktor kunci dalam menentukan apakah sebuah planet dapat mendukung kehidupan adalah jarak dari bintang induknya. Di Tata Surya kita misalnya, jarak Venus terlalu dekat dengan Matahari dan Mars terlalu jauh, dan Bumi lah yang berada di jarak yang tepat. Jarak yang para ilmuwan sebut sebagai "zona laik huni" atau "Zona Goldilocks."

Planet yang berada di Zona Goldilocks dianggap mampu mengatur suhu internal mereka secara mandiri melalui konveksi di mantel planetnya. Sebuah planet yang berada di Zona Goldilock mungkin pada awalnya masih terlalu dingin atau terlalu panas, namun pada akhirnya suhunya akan stabil.

Namun, sebuah studi baru yang muncul di jurnal Science Advances pada 19 Agustus 2016 menunjukkan bahwa, ternyata planet ekstrasurya yang berada di zona layak huni saja belum atau bahkan tidak cukup untuk mendukung kehidupan. Sebuah planet ekstrasurya tersebut juga harus memiliki suhu internal yang sudah tepat dan stabil sejak awal.

"Jika Anda menganalisa semua jenis data ilmiah tentang bagaimana Bumi telah terbentuk dan berkembang dalam beberapa miliar tahun, Anda akan menyadari bahwa pemanasan atau konveksi pada mantel Bumi tidak ada pengaruhnya terhadap suhu internal," kata Jun Korenaga, penulis studi ini dan seorang profesor geologi dan geofisika di Universitas Yale.

Ukuran dan suhu internal planet diperkirakan tidak akan menghambat evolusi planet jika planet tersebut mampu mengatur pemanasan mantelnya, kata Korenaga. "Lautan air cair dan benua tidak akan ada jika suhu internal Bumi tidak berada di kisaran tertentu sejak awal pembentukannya, dan ini berarti bahwa Bumi muda suhunya tidak terlalu panas atau terlalu dingin, melainkan sudah stabil."






Tak Laik Huni Walau Memiliki Lautan Air


Yann Alibert dari Physikalisches Institut & Center for Space and Habitability, Universitas Bern, Swiss, menyatakan bahwa radius sebuah planet memiliki peran penting dalam mendukung kehidupan di planet laik huni. Untuk itu, ia kemudian melakukan penelitian untuk menemukan kondisi yang pas untuk sebuah planet menjadi planet laik huni.

Dalam penelitian ini, Alibert mencari tahu radius maksimum bagi sebuah planet untuk memiliki permukaan air berwujud cair dan tidak memiliki lapisan es di lautannya. Hasilnya? Analisis Alibert menunjukkan kalau eksoplanet dengan lautan tidak akan bisa mendukung kehidupan jika ukurannya terlalu besar sehingga meskipun planet-planet besar memiliki air, kehidupan tidak akan dapat berevolusi di dalamnya.

Jadi apa yang menyebabkan sebuah planet tidak laik huni? Menurut Alibert, kondisi paling penting adalah keberadaan siklus karbon yang menjadi penyangga perubahan temperatur jika bintang induk mengalami perubahan temperatur jadi lebih panas atau dingin.

Di Bumi, siklus karbon melibatkan penangkapan karbon dioksida saat larut dalam lautan dan kemudian bereaksi dengan silikat di dasar laut sehingga memproduksi karbonat yang kemudian masuk ke inti Bumi. Temperatur yang tinggi di inti Bumi berfungsi untuk memecah karbonat dan melepas karbon dioksida melalui aktivitas vulkanik.

Proses inilah yang mengatur perubahan temperatur atmosferik. Jika temperatur turun, maka hanya sedikit karbon dioksida yang larut, menyisakan sebagian besar di atmosfer sehingga bisa menaikkan temperatur lagi. Dan, jika temperatur naik, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Siklus ini penting untuk mencegah terjadinya perubahan temperatur secara drastis yang bisa mengubah planet menjadi bola salju raksasa atau padang gurun raksasa yang gersang.

Meskipun demikian, tidak ada jaminan bahwa planet yang lebih kecil dari ukuran tersebut sudah pasti akan mendukung kehidupan. Ada komponen lain seperti massa, kerapatan, dan senyawa penyusun planet yang harus diperhitungkan.

Akan tetapi untuk planet yang lebih besar dari nilai ambang batas tersebut dipastikan tidak akan mampu memiliki siklus karbon sehingga dapat diklasifikasikan sebagai planet yang tidak laik huni. Kriteria yang dibuat Alibert diharapkan bisa menjadi salah satu kriteria bagi para astronom saat mempelajari planet-planet yang berada di area laik huni.

Sumber : Infoastronomy.org

Sabtu, 07 April 2018

Mengenal Polaris, Si Bintang Utara


Polaris si bintang utara atau bintang kutub merupakan salah satu bintang yang paling terkenal di langit. Bintang ini terletak hampir berada di atas kutub langit Utara. Jika Anda berada tepat di kutub Utara dan melihat Polaris, bintang ini akan diam (tidak terbit dan terbenam), sementara bintang-bintang lain akan berputar melawan arah jarum jam.

Hal yang luar biasa dari bintang Polaris adalah ia tidak pernah berpindah dari tempatnya. Bumi berputar pada porosnya setiap 24 jam, sehingga bintang-bintang terlihat bergerak mengelilingi Bumi. Sedangkan Polaris terlihat berada tetap di tempatnya karena letaknya tepat di titik sumbu Utara Bumi.

Polaris berjarak kira-kira 433 tahun cahaya dari Bumi, dan sebenarnya merupakan sistem multi bintang. Polaris A adalah sebuah bintang raksasa terang atau maharaksasa (kelas spektrum F7II atau F7Ib) bermassa 6 kali massa Matahari.

Sementara dua komponen yang lebih kecil adalah: Polaris B, sebuah bintang deret utama (kelas spektrum F3V) bermassa 1,5 kali massa Matahari mengorbit Polaris A pada jarak 2400 SA, dan Polaris Ab, sebuah bintang katai yang sangat dekat dengan Polaris A dalam jari-jari orbit 18,5 SA. Terdapat juga dua komponen jauh Polaris C dan Polaris D. Pengamatan terkini memperlihatkan bahwa Polaris bisa jadi adalah sebuah gugus bintang terbuka renggang type A dan F.

Polaris A dapat dilihat dengan menggunakan teleskop sederhana dan pertama kali ditemukan oleh William Herschel pada 1780. Pada 1929, pemeriksaan spektrum Polaris A menghasilkan kesimpulan adanya komponen katai sangat dekat (disebut sebagai Polaris P, Polaris a atau Polaris Ab), yang telah diteorikan dari pengamatan terdahulu.

Dari Indonesia belahan Selatan, bintang kutub ini cukup sulit dan bahkan tidak bisa terlihat. Jadi bagi Anda yang tinggal di Selatan dari Khatulistiwa, maka tidak mungkin bisa melihat Polaris, terutama Pulau Jawa.

Untuk menemukan Polaris, Anda harus terlebih dahulu menemukan Big Dipper, kelompok tujuh bintang yang berbentuk seperti gayung di langit. Setelah itu, tarik garis lurus dari dua bintang terluar Big Dipper. Anda akan menemukan Little Dipper. Dan bintang yang berada di ujung pegangan Little Dipper itu adalah Polaris.


Bendera Alaska

Satu lagi fakta unik tentang si Polaris yaitu digunakannya bintang ini bersama dengan rasi bintang Ursa Major sebagai bendera Alaska. Sebuah lagu juga ditulis tentang bendera tersebut berjudul "Alaskas's Flag" ("Bendera Alaska") yang dijadikan lagu kebangsaan Alaska.

Selain itu, Ursa Major sendiri dapat diartikan sebagai "Beruang besar". Dalam bahasa Yunani, beruang adalah "Arktos", dan oleh karena itu, daerah yang ada di Utara, tepat di bawah rasi bintang ini dinamakan atau dikenal sebagai "Arktik".


Sumber : Infoastronomy

Senin, 30 Januari 2017

Mengenal Polaris, Si Bintang Utara

Bintang Polaris A, Ab dan B

Polaris si bintang Utara atau bintang kutub merupakan salah satu bintang yang paling terkenal di langit. Bintang ini terletak hampir berada di atas kutub langit Utara. Jika kalian berada tempat di kutub Utara dan melihat Polaris, bintang ini akan diam (tidak terbit dan terbenam), sementara bintang-bintang lain akan berputar melawan arah jarum jam.

Hal yang luar biasa dari bintang Polaris adlaah ia tidak pernah berpindah dari tempatnya. Bumi berputar pada porosnya setiap 24 jam, sehingga bintang-bintang terlihat bergerak mengelilingi Bumi. Sedangkan Polaris terlihat berada tetap di tempatnya karena letaknya tepat di titik sumbu Utara Bumi.

Polaris berjarak kira-kira 433 tahun cahaya dari Bumi dan sebenarnya merupakan sistem multi bintang. Polaris A adalah sebuah bintang raksasa terang atau maharaksasa (kelas spektrum F711 atau F71b) bermassa 6 kali massa Matahari.

Sementara dua komponen yang lebih kecil adalah Polaris B. Sebuah bintang deret utama (kelas spektrum F3V) bermassa 1,5 kali massa Matahari, mengorbit Polaris A pada jarak 2500 SA. Dan Polaris Ab, sebuah bintang katai yang sangat dekat dengan Polaris A dalam jari-jari orbit 18,5 SA. Terdapat juga dua komponen jauh, Polaris C dan Polaris D. Pengamatan terkini memperlihatkan bahwa Polaris bisa jadi adalah sebuah gugus bintang terbuka renggang type A dan F.

Polaris A dapat dilihat dengan menggunakan teleskop sederhana dan pertama kali ditemukan oleh William Herschel pada 1780. Pada 1929, pemeriksaan spektrum Polaris A menghasilkan kesimpulan adanya komponen katai sangat denkat (disebut sebagai Polas P, Polaris A atau Polaris Ab), yang telah diteorikan dari pengamatan terdahulu.

Dari Indonesia belahan Selatan, bintang kutub ini cukup sulit dan bahkan tidak bisa terlihat. Jadi bagi kalian yang tinggal di Selatan dari Khatulistiwa, maka tidak mungkin bisa melihat Polaris, terutama Pulau Jawa.

Untuk menemukan Polaris, kalian harus terlebih dahulu menemukan Big Dipper, kelompok tujuh bintang yang terbentuk seperti gayung di langit. Seletah itu, tarik garis lurus dari dua bintang terluar Big Dipper. Kalian akan menemukan Little Dipper. Dan bintanf yang berada di ujung pegangan Little Dipper itu adalah Polaris.

Bendera Alaska

Satu lagi fakta unik tentang si Polaris yaitu digaunakannya bintang ini bersama dengan rasi bintang Ursa Major sebagai bendera Alaska. Sebuah lagu juga ditulis tentang bendera tersebut berjudul "Alasjas's Flag" ("Bendera Alaska") yang dijadikan lagu kebangsaan Alaska

Selain itum Ursa Major sendiri dapat diartikan sebagai "Beruang besar". Dalam bahasa Yunani, beurng adalah "Arktos", dan oleh karena itu, daerah yang ada di Utara, tepat di bawah rasi bintang ini dinamakan atau dikenal sebagai "Arktik"

Credit : InfoAstronomy

Sabtu, 28 Januari 2017

Para Astronom Identifikasi Bintang Muda yang Kelebihan Massa

Ilustrasi cakram protobintang saat bintang muda terbentuk.

Terletak hampir 11.000 tahun cahaya dari Bumi, sebuah bintang bernama G11.92-0.61 MM1 ditemukan memiliki massa 30 kali massa Matahari, padahal ia masih dalam proses pembentukan dari awan molekulnya. Menurut para astronom, bintang ini bisa membantu kita memahami bagaimana bintang-bintang paling masif di alam semesta terbentuk.

Para astronom yang dipimpin oleh sebuah tim dari University of Cambridge sukses mengidentifikasi tahap kunci dalam kelahiran bintang yang sangat besar dan menemukan bahwa bintang-bintang ini terbentuk dalam cara yang mirip dengan bintang yang jauh lebih kecil seperti Matahari kita.

Bintang-bintang raksasa, menurut penelitian para astronom ini, terbentuk dari cakram yang terdiri dari gas dan debu yang berputar yang membentuk protobintang. Hasil penelitian mereka dipresentasikan pada pekan terakhir bulan Agustus lalu di Star Formation 2016 Conference yang diadakan di University Exeter, dan diterbitkan dalam Pemberitahuan Bulanan Royal Astronomical Society.

Di galaksi kita, bintang-bintang muda yang berukuran besar (yang memiliki massa setidaknya delapan kali lebih besar dari Matahari) jauh lebih sulit untuk dipelajari daripada mempelajari bintang-bintang yang lebih kecil. Hal ini karena bintang-bintang besar tersebut memiliki kala hidup yang cepat sehingga cenderung mati muda, ditambah jaraknya yang amat sangat jauh.

"Sebuah bintang seperti Matahari kita memiliki kala hidup selama beberapa juta tahun, sedangkan bintang-bintang besar berkali lipat lebih cepat kala hidupnya, yakni sekitar kurang lebih hanya 100.000 tahun." kata Dr. John Ilee dari Cambridge Institute of Astronomy, penulis utama studi tersebut.

"Bintang-bintang besar juga melakukan proses pembakaran fusi nuklir yang jauh lebih cepat dari bintang-bintang seperti Matahari, sehingga mereka memiliki kala hidup lebih pendek, membuatnya sulit untuk dipelajari ketika mereka muda," tambah Ilee

Protobintang yang Ilee dan rekan-rekannya identifikasi terletak di kawasan yang sangat dingin dan padat di alam semesta yang membuat pembibitan bintang cukup ideal. Namun, wilayah pembentuk bintang yang seperti ini sulit untuk diamati menggunakan teleskop konvensional, karena bintang-bintang muda tersebut dikelilingi ileh awan gas dan debu yang tebal dan buram.

Namun, dengan menggunakan teleskop radio Submillimeter Array (SMA) di Hawaii dan Karl G Jansky Very Large Array (VLA) di New Mexico, yang keduanya menggunakan panjang gelombang inframerah, para astronom dengan mudah mampu 'melihat' melalui awan tebal dan buram tadi ke wilayah pembibitan bintang.

Dari pengamatan ini, tim astronom tersebut mengukut massa protobintang adalah lebih dari 30 kalo massa Matahari. Selain itu, cakram yang mengelilingi bintang muda ini juga terhitung memiliki ukuran yang relatif besar, antara dua hingga tiga kali massa Matahari.

LAngkah selanjutnya, para astronom ini akan mengamati kawasan pembibitan bintang etersebut dengan Atacama Large Millimeter (ALMA), yang berada di Cile. INstrumen yang kuat tersebut akan memungkinkan setiap protobintang untuk melihat dan meungkinkan para astronom untuk mempelajari lebih lanjut tentang bintang-bintang muda yang lelebihan massa di galaksi kita.

Credit : InfoAstronomy

Rabu, 25 Januari 2017

Ketika Lubang Hitam Ternyata Tidak Benar-Benar Hitam



Lubang hitam memiliki kecepatan lepas yang lebih besar dari kecepatan cahaya. Selama tidak ada yang bisa bergerak lebih cepat dari cahaya, maka tidak ada yang dapat melarikan diri dari lubang hitam. Ini adalah penjelasan mekanika sederhana dari lubang hitam. Tapi jika kalian menambahkan termodinamika dan mekanika kuantum, semua hal menjadi begitu rancu.

Fisikawan Stephen Hawking telah mengajukan sebuah hipotesis pada tahun 1974 yang menyatakan bahwa lubang hitam sebenarnya tidak hitam. Sebaliknyam benda eksotis di alam semesta ini memancarkan radiasi, kehilangan energi dan bisa menyusut. Namun, jumlah radiasinya terlalu kecil untuk dapat diobservasi, jadi bagaimana kita bisa menguji keabsahan hipotesa ini?

Profesor Jeff Steinhauer dari Israel Institute of Technology tidak hanya menemukan cara untuk mengujinya, tetapi dalam sebuah jurnal penelitian baru yang dipublikasikan dalam Nature Physics,  ia telah mengungkapkan bukti terkuat bahwa emisi dari lubang hitam, yang dikenal sebagai radiasi Hawking, adalah sangat nyata keberadaanya.

Steinhauer membangun sebuah model lubang hitam akustik. Model lubang hitam rancangan Steinhauer adalah, tentu saja, hanya gambaran dari lubang hitam yang sebenarnya. Model tersebut didasarkan pada usulan dari seorang ahli disika bernama Bill Unruh, yang menyarankan di era 80-an bahwa para ilmuan bisa menciptakan model lubang hitam dengan menggunakan berbagai media.

Alih-alih menggunakan cahaya sebagai media, Profesor Steinhauer menggunakan gelomang suara dalam model lubang hitamnya. Eksperimennya melibatkan perangkap yang memiliki frekuensi tertentu yang jauh lebih besar daripada energi dari "pertikel" suara (fonon), yang hanya dapat bergerak dengan kecepatan suara.

"Jika ada fonon di dalam lubang hitam akustik rancangan saya, ia tidak akan bisa melawan arus karena aliran pada lubang hitam ini lebih cepat dari keceparan suara. Seperti orang yang mencoba untuk berenang melawan arus." kata profesor Steinhauer.

Hal ini mungkin tampak sederhana, tetapi itu adalah model yang cukup akurat untuk menggambarkan seperti apa lubang hitam sebenarnya. Dan yang lebih penting, lubang hitam akustik ini teramati memancarkan radiasi HAwking yant telah lama dicari.

Hipotesis Hawking diperlukan karena relativitas dan mekanika kuantum tidak bekerja sama dengan baik. Lubang hitam membutuhkan kedua teori tersebut, sehingga perlu ada penelitian secara terus menerus dan luas terkait sifat lubang hitam dengan mendekati beberapa persamaan yang trlah kita miliki.

"Tujuan mempelajari lubang hitam adalah untuk belajar lebih jauh tentang hukum-hukum baru fisika, bukan hanya tentang lubang hitam itu sendiri." tambah Steinhauer

Radiasi Hawking adalah radiasi yang dilepaskan oleh lubang hitam akibat efek kuantum di dekat cakrawala peristiwa (eent horizon). Radiasi ini dinamai dari fisikawan Stephen Hawking yang membuat argumen yang mendukung keberadaannya pada tahun 1974, dan kadang-kadang juga dinamai dari Jacob Bekenstein yang memperkirakan bahwa lubang hitam seharusnya memiliki suhu dan entopi yang terbatas dan tidak nol.

Hawking menulis karyanya setelah mengunjungi Moskwa pada tahun 1973, di sana ilmuan Soviet, Yakov Zeldovich dan Alecei Starbinsky menunjukkan kepadanya bahwa menurut prinsip ketidakpastian mekanika kuantum, lubang hitam yang berotasi seharusnya menghasilkan dan mengeluarkan partikel. Membuatnya tidak benar-benar hitam.

Radiasi Hawking diketahui dapat mengurangi massa dan energi lubang hitam, sehingga lubang hitam akan kehilangan lebih banyak massa dari yang diterima lalu akan mengecil dan akhirnya menghilang.


Credit : InfoAstronomy

Kamis, 19 Januari 2017

GJ 1132b, Planet Kembaran Venus yang Atmosfernya Beroksigen



Sekitar 14 bulan yang lalu, sebuah tim astronom mengumumkan penemuan planet ekstrasurya GJ 1132b yang merupakan planet kembaran Venus. Sebuah jurnal penelitian baru juga menjelaskan kemungkinan adanya oksigen di atmosfer planet tersebut. Meskipun suhu permukaannya sangat panas karena dekat dengan bintang induknya.

Planet GJ 1132b diketahui memiliki massa yang 1,6 besar dari Bumi, tidak seperti Venus, tetapi suhunya diperkirakan antara 120°C hingga 320°C, atau rata-rata 227°C. Suhu tersebut memang sanagt panas bagi perspektif kita, tapi sebenarnya sedikit lebih dingin daripada kebanyakan planet berbatu yang banyak ditemukan sejauh ini.

GJ 1132b mengorbit bintang induknya pada jarak sekitar 2,2 juta kilometer atau sekitar 1,5 persen dari jarak Bumi-Matahari. Meskipun bintang induknya , yang bernama GJ 1132, adalah bintang katai merah dengan seperlima massa Matahari, planet GJ 1132b terpapar jauh lebih banyak cahaya panas dari bintang induknya daripada yang Bumi terima dari Matahari.

GJ 1132b lewat di depan bintang induknya cukup sering dari sudut pandang kita di Bumi karena memiliki periode orbit yang pendek. Planet ini berada pada jarak 39 tahun cahaya dari Bumi. Cukup dekat dalam skala kosmik, sehingga kita memiliki kesempatan besar untuk mendeteksi komposisi atmosfernya lebih lanjut selama transit planet di kemudian hari.




Seorang mahasiswi pascasarjana Laura Schaefer dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics telah menciptakan model untuk mengkaji kemungkinan adanya oksigen pada atmosfer planet GJ 1132b ini. Dalam jurnal penelitiannya yang diterbitkan dalam The Astrophysical Journal. Schaefer telah meneliti bagaimana keberadaan lautan magma di permukaan GJ 1132b mempengaruhi atmosfernya.

Oksigen yang berada pada atmosfer planet asing GJ 1132b ini akan diserap oleh lautan magma ini. Namun Schaefer menyimpulkan hanya sepersepuluhnya saja yang akan diserap. Selebihnya akan melarikan diri ke luar angkasa, meskipun GJ 1132b memiliki grafitasi lebih kuat dari Bumi.

"Pada planet bersuhu rendah. Oksigen bisa menjadi tanda-tanda kehidupan dan kelaikhunian. Tapi pada planet yang panas seperti GJ 1132b, hal itu menandakan sebaliknya, keberadaan oksigen justru membuat planet makin terpanggang dan panaas," kata Shaefer dalam jurnal penelitiannya.

Mempelajari planet seperti GJ 1132b dapat membantu kita memahami evolusi Venus. Para astronom saat ini bingung mengapa Venus hampir tidak memiliki molekul oksigen, meskipun diduga ia pernah memiliki lautan air cair di masa lalu.

Credit : InfoAstronomy

Jumat, 11 November 2016

Alam Semesta Teramati Ternyata Lebih Kecil Dari Perkiraan Awal



Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, para ilmuan telah memperbarui pengukuran radius alam semesta teramati (observable universe). Dan ternyata, alam semesta teramati tidak sebesar yang kita kira sebelumnya.

Dalam pengukuranterbaru ini, dikatehui bagian dari alam semesta yang secara teknis terlihat dari Bumi sekarang menyusut sekitar 320 juta tahun cahaya ke segala arah.

Merekalah fisikawan Paul Halpern dan Nick ROmasello dari University of Siebces di Pgiladelphia, AS, yang telah menggunakan data perluasan alam semesta terbaru yang dikumpulkan oleh wahana antariksa Planck milik Agensi Antariksa Eropa (ESA), dan menemukan bahwa tepi dari alam semesta teramati sebenarnya 0,7 persen lebih kecil daipada perkiraan awal.

Mereka mengatakan bahwa dengan menggunakan pengukuran yang lebih akurat ini, mereka telah berhasil mendapatkan radius alam semesta teramati dari yang awalnya 45.660.000.000 tahun cahaya, saat ini hanya 45.340.000.000 tahun cahaya (1 tahun cahaya adalah sekitar 9,5 triliun km).

"Perbedaan 320 juta tahun cahaya mungkin tidak terlalu berarti pada skala kosmik, tapi tetap saja ini membuat alam semesta teramati yang kita ketahui ternyata lebih kecil," ujar Tomasello.

Alam semesta tramati merupakan sebuah konsep dimana sejumlah galaksi dan materi-materi lain, secara teori, dapat diamati dari Bumi pada saat ini. Cahaya-cahaya dari benda-benda id alam semesta teramati ini telah punya cukup waktu untuk mencapai penglihatan kita sejak kelahiran alam selesta sekitar 13,7 miliar tahun lalu.

Diansumsikan alam semesta adalah isotropik, jarak ke ujung-ujung alam semesta teramati kira-kira sama ke segala arah. Maka, alam semesta termati adalah sebuah volume bola yang pusatnya di pengamat. Setiap lokasi di alam semesta memiliki alam semesta termatinya masing-masing, yang mungkin atau mingkin juga tidak tumpang tindih dengan yang berpusat di Bumi.

Kata teramati di sini tidak ada hubungannya dengan kemampuan teknologi modern untuk mendeteksi radiasi dari objek di dalam daerah ini, melainkan dengan kemungkinan cahaya atau radiasi lain dari objek mencapai pengamat. Pada praktiknya, kita hanya dapat melihat cahaya sejauh ketika foton terbelah ketika masa rekombinasi.

Han ini terjadi ketika pertikel pertama klali dapat melepas foton yang kemudian tidak cepat terserap kembalo oleh partikel lainnya. Sebelum itu, alam semesta terisi oleh plasma yang tidak tembus cahaya ke foton. Gelombang gravitasi yang terdeteksi menandakan bahwa saat ini ada kemungkinan untuk mendeteksi sinyal non-cahaya dari sebelum masa rekombinasi.

Estimasi terbaik usia alam semesta pada 2015 adalah 13,799±0,021 miliar tahun, namun karena adanya ekspansi alam semesta maka manusia mengamati objek yang awalnya sangat dekat namun saat ini menjadi sangat jauhm lebih dari jarak tetap 13,8 miliar tahun cahaya.

Diperkirakan diameter alam semesta teramati adalah sekitar 28,5 gigapersecs (93 miliar tahun cahaya), menjadikan ujung alam semesta teramati berjarak sekitar 45,34 miliar tahun cahaya (menurut perhitungan terbaru ini)

Kamis, 10 November 2016

Apakah Lubang Hitam Memiliki Jalan Keluar Di Ujungnya?



Jauh di dalam lubang hitam, menurut teori, terdapat sebuah daerah yang dikenal sebagai singularitas gravitasi, di mana kurva ruang waktu menjadi tidak terhingga, dan tidak akam ada yang bisa kembali jika sudah mencapainya. Namun, dalam sebuah studi baru, para astronom mengatakan bahwa ada jalan keluar melalui lubang cacing di pusat lubang hitam.

Dengan teori ini, apapun materi yang masuk ke dalam lubang hitam akan mengalami efek spagetifikasi atau membentang dan memanjang secara ekstrim bagai spageti. Dan setelah materi yang mengalami efek spagetifikasi tersebut mencapai singularitas, maka akan kembali ke ukuran dan bentuk normal, lalu muncul di daerah yang berbeda di alam semesta.

Fisikawan Gonzalo Olmo dari Institute of Corpuscular Physic di Valencia mengusulkan skenario baru yang menganggap singularitas sebagai ketidaksempurnaan dalam struktur geometris ruang waktu. Dalam penelitian, yang diterbitkan dalam jurnal Classic and Quantum Gravity, tim astronom ini memfokuskan pada jenis lubang hitam yang tidak bergerak dan bermuatan listrik.

Secara khusus, dalam karya ilmiah ini Olmo telah menerapkan struktur geometri mirip dengan kristal atau lapisan graphene, yang tidak biasanya digunakan untuk menggambarkan sebuah lubang hitam. "Sama seperti kristal yang memiliki ketidaksempurnaan dalam struktur mikroskopisnya, wilayah pusat lubang hitam dapat diartikan sebagai sebuah anomali dalam ruang waktu, yang membutuhkan elemen geometris baru agar dapat menggambarkan mereka lebih tepat."

Dengan menggunakan geometri baru ini, Olmo dan rekan-rekannya dapat memperoleh gambarak lubang hitam di mana titik pusatnya merupakan bola yang sangat kecil. Pada permukaan inilah diperkirakan ada sebuah lubang cacing.

Untuk menggambarkan bagaimana teori ini dalam dunia nyata, kalian dapat menonton film Interstellar (2014), ketika tim astronot melakukan perjalanan antarbintang melalui lubang cacing mencari rumah baru bagi umat manusia. Mereka masuk ke lubang hitam, lalu melintasi lubang cacing, dan keluar ke daerah lain di alam semesta.

Tapi, apa lubang cacing sebenarnya? Lubang cacing atau lebih dikenal sebagai jembatan Einstein-Rosen dalam dunia ilmiah, disebut sebagai sebuah jembatan yang menghubungkan dua partikel alam semesta. Albert Einstein dan asistennya, Nathan Rosen, berusaha untuk menemukan cara yang dapat mengintegrasikan semua kekuatan alam menjadi sebuah model tunggal dan konsisten.

Pada tahun 1935, Einstein dan Rosen mempelajari lebih lanjut kaitan lubang hitam dan lubang cacing tersebut, dan menemui bahwa dari perumusan teori Relativitas Umum, struktur tuang waktu yang melengkung bisa menghubungkan dua wilayah dari ruang waktu yang jauh, melalui suatu bentuk serupa lorong, sebagai jalan puntas dalam ruang.

Apakah lubang cacing itu ada? Secara teori, lubang cacing ini memang merupakan solusi matematis mengenai hubungan geometris antara satu titik dalam ruang waktu dengan titik yang lainnya. Tapi, sampai saat ini belum ada bukti yang bisa mendukung keberadaannya, baik dari pengamatan maupun secara eksperimen.

Credit : InfoAstronomy

Jumat, 07 Oktober 2016

'Hijaunya' Saturnus Dalam Cahay Inframerah

Sebuah citra terbaru dari planet Saturnus yang diambil oleh wahana antariksa Cassini milik NASA menampilkan bagian Utara planet bercincin dalam pandangan yang berbeda. Pada citra terbaru tersebut terlihat atmosfer Saturnus berwarna hijau, biru dan ungu yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Atmosfer Saturnus yang berwarna-warni ini merupakan hasil dari filter spektral pada kamera wahana antariksa Cassini. Filter tersebut dapat mencerminkan permukaan Saturnus dalam warna tertentu sesuai dengan panjang gelombang cahaya.

Kevin Gill, seorang insinyur di Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California mengatakan citra hijau Saturnis ini didapatkan dengan menggabungkan beberapa foto yang diambil oleh kamera wide-angel Cassini dalam cahaya inframerah pada 20 Juli 2016.

Gill menggunakan kombinasi filter spektral yang sensitif terhadap cahaya inframerah pada panjang gelombang 750, 727 dan 619 nanometer. Mata manusia biasanya dapat melihat cahaya hanya di kisaran 390-700 nanometer, sehingga menggunakan filter spektral memungkinkan kita untuk melihat apa yang dinyatakan tak terlihat dengan mata telanjang.

Jenis filter inframerah ini memungkinkan para astronom untuk mempelajari bagaimana atmosfer Saturnus mencerminkan dan menyerap panjang gelombang tertentu dari cahaya Matahari.

Sementara itu, wahana antariksa Cassini telah berada di orbit Saturnus sejak tahun 2004 untuk mempelajari planet dengan cincin ternegah di Tata Surya tersebut beserya satelit-satelit alaminya. Cassini dijadwalkan untuk mengakhiri misinya dengan ditabrakan ke atmosfer Saturnus pada September 2017 mendatang.

Credit : InfoAstronomy

Kamis, 06 Oktober 2016

Planet Mirip Bumi Ditemukan Mengorbit Bintang Proxima Centauri

Perburuan planet ekstrasurya semakin semarak dalam beberapa tahun terakhir. Sejak memulai misinya pada tahun 2009, telah lebih dari empat ribu calon planet asing sukses ditemukan oleh Teleskop Antariksa Kepler, beberapa ratus di antaranya dikonfirmasi "mirip Bumi" (yaitu planet terestrial) dan terletak di dalam zona laik huni bintang induknya (Goldilocks zone).

Ini mungkin sebuah penemuan planet ekstrasurya yang paling menarik untuk saat ini. Seperti InfoAstronomy.org lansir dari Der Spiegel, para astronom mengumumkan baru-baru ini telah menemukan sebuah planet mirip Bumi yang mengorbit bintang Proxima Centauri, yang berjarak hanya 4,25 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini mirip Bumi dalam hal komposisi, ia merupakan planet bebatuan, mengorbit dalam zona laik huni, serta berjarak tidak terlalu jauh dari Bumi kita. Tapi apakah ini "too good to be true"?

Selama lebih dari satu abad terakhit, para astronom telah mengetahui tentang Proxima Centauri, bintang yang merupakan bagian dari sistem tiga bintang yang saling mengorbit bersaama dengan bintang Alpha Centauri A dan B. Sistem tiga bintang ini adalah sistem terdekat Tata Surya kita, dengan Proxima Centauri yang 0,12 tahun cahaya lebih dekat ke Bumi.

Misi Teleskop Antariksa Kepler telah mengungkapkan ribuan planet ekstrasurya mirip Bumi. Dan baru-baru ini, sebuah tim peneliti Internasional mempersempit jumlah planet ekstrasurya yang berpotensi laik huni menjadi hanya 20 planet. Namun, dua puluh planet tersebut jaraknya ratusan tahun cahaya dari Bumi, tidak ada yang benar-benar dekat.

Planet yang mengorbit bintang Proxima Centauti ini masih tak bernama. Planet ini diyakini mirip Bumi dan berada pada jarak orbit ke Proxima Centauri yang cukup ideal sehingga dapat memungkinkan untuk memiliki cair di permukaannya, yang mana hal tersebut merupakan syarat pentinf untuk munculnya kehidupan. Tidak pernah sebelumnya para ilmuan menemukan "Bumi kedia" yang begitu dekat.

Selain itu, menurut Der Spiegel, penemuan ini dilakukan oleh European Southern Observatory (ESO) menggunakan teleskop reflektor raksasa di La Silla Observatory, Cile. Dan kebetulan, observatorium ini adalah observatorium sama yang mengumumkan penemuan planet asing Alpha Centauri Bb pada tahun 2012, yang juga dinyatakan sebagai "planet ekstrasurnya terdekat ke Bumi". Sayangnya analisis lebih lanjut justru meragukan keberadaannya, mengklain itu adalah kesalahan pengamatan.

Namun, menurut sumber yang tidak disebutkan namanya oleh Der Spiegel, penemuan terbaru dari planet yang mengitari bintang Proxima Centauri ini adalah benar-benar nyata, dan merupakan hasil dari pengamatan yang intensif.

Dikatakan juga bahwa ESO akan mengumumkan temuan ini secara resmi pada akhir Agustus 2016. Namun menurut berbagai sumber, juru bicara ESO Richard Hook menolak untuk mengkonfirmasi atau menyangkal penemuan sebuah planet ekstrasurnya di sekitar bintang Proxima Centauri. "Kami tidak mau membuat komentar apapun." ucap Hook.

Jika pertanyaan yang dibuat oleh sumber yang tidak disebutkan namanya oleh Der Speigel ini benar, maka konfirmasi (atau penolakan) akan muncil tidak lama lagi. Sementara ini, kita semua hanya perlu bersabar. Namun, kalian harus mengakui, ini merupakan prospek yang menarik: sebuah planet mirip Bumi yang jaraknya relatif dekat. Suatu saat mungkin akan ada misi luar angkasa yang menuju ke sana.

Credit : InfoAstronomy

Rabu, 05 Oktober 2016

Memahami Kelahiran dan Kematian Sebuah Bintang



Bintang adalah bola gas raksasa yang energinya berasal dari reaksi fusi nuklir di intinya. Seluruh bintang terlahir dari awan debu. Bintang-bintang mengawali hidup sebagai bintang kerdil sebelum berubah menjadi bintang raksasa atau maharakasasa. Bagaimana proses bintang tercipta hingga akhirnya mati?

Bintang-bintang di alam semesta memiliki kesamaan dalam pembentukannya, namun berbeda proses kemaatiannya. Bintang-bintang bisa mati dengan berbagai cara tergantung pada besarnya massa awal bintang tersebut.

Kelahiran Bintang Kerdil

Bintang-bintang baru berasal dari awan debu gas berukuran raksasa. Awan gas mulai mengerut karena gaya gravitasi menariknya. Kompresi ini memanaskan awan debu gas tersebut, sehingga awan akan mulai terpilin dan pancaran gas keluar dari kedua kutubnya.

Bintang akan semakin terang karena fusi nuklir terjadi di pusatnya. Seluruh gas dan debu di angkasa yang melingkupnya berembus keluar. Bintang baru pun segera keluar dari "kepompong" berdebunya.

Bintang baru tersebut masih merupakan bintang kerdil, namun sepanjang kala hidupnya ia akan berevovlusi menjadi bintang raksasa. Bintang raksasa adalah bintang kerdil yang suhunya mulai mendingin dan atmosfer terluarnya mengembang menjadi besar. Dalam 5 miliar tahun dari sekarang, hal ini akan menjadi pada Matahari kita.

Sementara itu, bintang maharaksasa memulai hidupnya sebagai bintang kerdil dalam deret utama, namun bintang ini lebih terang, panas dan padat daripada Matahari serta bisa ratusan kali lebih besar ukurannya. Bintang maharaksasa ada sangat banyak di alam semesta, tetapi usianya terlampau singkat.

Kematian Bintang Raksasa dan Maharaksasa

Jika bintang memanfaatkan seluruh hidrogen dalam inti, pembakaran hidrogen mulai terjadi di kulit pembungkusnya. Lalu, bintang akan mengalami pemanasan dan kulit terluar bintang akan mengembang. Ketika bagian dalam bintang raksasa ini memanas, ia akan menghembuskan kulit terluar yang telah mengembang tadi.

Peristiwa mengembangnya kulit terluar bintangnya ini akan membentuk awan debu gas baru yang disebut nebula planeter. Dan inti bintang raksasa yang kulit terluarnya sudah terkelupas itu akan menjadi bintang kerdil putih. Inilah juga yang akan terjadi pada Matahari 5 miliar tahun lagi.

Sementara itu, berbeda dengan bintang rajsasa, bintang maharaksasa yang memiliki kala hidup singkat akan mengakhiri hidupnya dengan "bunuh diri" kosmik dalam sebuah ledakan bintang yang luar biasa yang disebut supernova. Supernova ini akan membuat bintang maharaksasa berevolusi menjadi bintang yang sangat padat alias bintang neutron atau bahkan menjadi lubang hitam.

Credit : InfoAstronomy

Sabtu, 01 Oktober 2016

Mengenal Matahari, Bintang Terdekat Bumi


Tahukah kalian kalau Matahari adalah bintang terdekat planet Bumi kita? Ya, Matahari adalah bintang di pusat Tata Surya. Bentuknya nyaris bulat dan terdiri dari plasma panas bercampur medan magnet. Seluruh planet dan asteroid berputar mengelilinginya karena tarikan gravitasi Matahari yang besar. Mari kenali Matahari lebih jauh.

Diameter Matahari diperkirakan sekitar 1.392.000 km atau kira-kira 109 kali diameter Bumi dan massanya sekitar 2x10^30 kg atau 330.000 kali massa Bumi, mewakili kurang lebih 99,86% massa total Tata Surya kita. Sampai di sini, tentu sudah bisa dibayangkan betapa besarnya Matahari kita.

Secara kimiawi, sekitar tiga perempat massa Matahari terdiri dari hidrogen, sedangkan sisanya didominasi helium. Sisa massa tersebut (1,69% setara dengan 6.629 kali massa Bumi) terdiri dari elemen-elemen berat seperti oksigen, karbon, neon, besi dan lain-lain.

Struktur dan lapisan Matahari terdiri dari inti yang berdiameter sekitar 280.000 km. Energi yang dihasilkan inti Matahari setara dengan 90 juta miliar ton TNT. Ada juga lapisan zona radiasi, zona konveksi, fotosfer, kromosfer dan korona atau atmosfer terluar Matahari yang meluas ke angkasa sejauh beberapa juta kilometer.

Pada Matahari juga ada bagian bernama bintik Matahari atau sunspot, bintik hitam ini merupakan bagian Matahari yang memiliki suhu lebih rendah dari area di sekitarnya. Sunspot bisa terbentuk disebabkan oleh interaksi mahnetik.

Selainsunspot juga ada yang namanya angin Matahari (solar wind). Kata 'angin' di sini bukan dalam artian sebenarnya, melainkan hembusan partikel-partikel bermuatan, terutama terdiri dari proton dan elektron dengan sedikit ion berat, yang siletupkan dari korona Matahari dengan kecepatan mencapai 400 kilometer per detik.

Matahari terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu akibat peluruhan gravitasi suatu wilayah di dalam sebuah awan molekul besar. Sebagian besar materi berkumpul di tengah, sementara sisanya memilih menjadi cakram beredar yang kelak menjadi Tata Surya. Massa pusatnya semakin panas dan padat dan akhirnya memulai fusi termonuklir di intinya.

Diduga bahwa hampir semua bintang lain terbentuk dengan proses serupa. Klarifikasi bintang Matahari, berdasarkan kelas spektrumnya, adalah bintang deret utama G (G2V) dan sering digolongkan sebagai katai kuning karena radiasi tampaknya lebih intens dalam prosispektrum kuning-merah. Meski warnanya putih, dari permukaan Bumi Matahari tampak kuning dikarenakan pembauran cahaya bitu di atmosfer.

Menurut label kelas spektrum, G2 menandakan suhu permukaannya sekitar 5778 K (5505°C) dan V menandakan bahwa Matahari, layaknya bintang-bintang lain, merupakan bintang deret utama, sehingga energinya diciptakan oleh fusi nuklir nukleus hidrogen ke dalam helium. Di intinya, Matahari memfusi 620 juta ton metrik hidrogen setiap detik.

Dulu, Matahari dipandang para astronom sebagai bintang kecil dan tidak penting. Sekarang, Matahari dianggap lebih terang daripada sekitar 85% bintang di galaksi Bima Sakti yang di dominasi katai merah. Magnitudo absolut Matahari adalah +4,83. Akan tetapi, sebagai bintang yang paling dekat dengan Bumi, Matahari adalah benda tercerah di langit dengan magnitudi tampak -26,74.

Korona Matahari yang panas terus meluas di luar angkasa dan menciptakan angin Matahari, yaitu arus partikel bermuatan yang bergerak hingga heliopause sekitar 100 AU. Gelembung di medium antarbintang yang terbentuk oleh angin Matahari, heliosfer adalah struktur bersambung terbesar di Tata Surya.

Selama miliaran tahun, Matahari menyinari Bumi sehingga tumbuhan bisa memanfaatkan sebagai sumber energi untuk kehidupan. Hewan herbivora memakan tumbuhan, karnivora memakan herbivora dan dengan cara ini Matahari menjadi sangat penting bagi Bumi karena memberikan kehidupan di Bumi. Termasuk pada kita, manusia.

Credit : InfoAstronomy

Jumat, 30 September 2016

Bagaimana Kita Bisa Memotret Bima Sakit Padahal Kita Ada di Dalamnya?

 
Ada sebuah pertanyaan menarik, "Kenapa kita bisa memotret galaksi Bima Sakti padahal kita ada di dalamnya?" Banyak foto-foto seseorang yang berhasil memotret keindahan Bima Sakti dari Bumi, dan banyak pula yang menganggapnya hanya editan. Padahal, memotret Bima Sakti dari Bumi tidak terlalu sulit.

Jawaban dari kenapa kita bisa memotret Bima Sakti padahal kita ada di dalamna adalah, seperti kita mencoba untuk mengambil gambar dari bagian dalam rumah kalian, sementara kalian berada di dalamnya.

Karena kita berada di dalam Bima Sakti, kita tidak bisa mengambil gambar galaksi kita ini dari sudut "atas" piringan galaksi Bima Sakti. Namun, kita bisa membuat ilustrasi seperti apa galaksi Bima Sakti yang mungkin terlihat dari luar galaksi, ilustrasinya adalah pada gambar di atas.

Sementara kita tidak bisa mengambil gambar lengkap galaksi kita sendiri, kita sangat beruntung karena Tata Surya kita berada di sepanjang salah satu lengan spiral Bima Sakti. Matahati, Bumi dan seluruh anggota Tata Surya kita berada di lokasi yang bernama lengan Orion. Karena keuntungan ini, kita dapat memotret sebagian kecil dari galaksi Bima Sakti di langit malam.

Lain halnya jika kita berada lebih dekat ke pusat galaksi kita, kita akan dibuat silau oleh banyaknya bintang-bintang di langit malam dari para bintang yang terletak di dekat pusat galaksi kita. Terletak di lokasi ideal di Bima Sakti juga bisa membuat kita dapat belajar lebih dalam mengenai galaksi sendiri dari gambar dan data lainnya, serya belajar tentang galaksi-galaksi tetangga kita yang lebih jauh. Dengan memotret dan mempelajari galaksi-galaksi tetangga yang hampir mirip galaksi kita, kita dapat mengumpulkan gambaran yang sangat akurat tentang bagaimana bentuk galaksi kita.

Lalu, Bagaimana Cara Memotret Bima Sakti?

Hampir setiap pekan, redaksi InfoAstronomy.org mendapatkan kiriman foto Bima Sakti dari pembaca. Sebetulnya memotret Bima Sakti tidak perlu di gunung atau tempat tinggi. Namun, agar Bima Sakti terlihat jelas, kita tidak boleh di tempat yang banyak polusi cahaya. Makanya memang lebih mudah memotret galaksi Bima Sakti di pegunungan daripada di areka kota.

Banyak software untuk mengecek kondisi bintang dan letak Bima Sakti. Umumnya , paling enak memotret Bima Sakti itu adalah mulai bulan April hingga bulan September di arah selatan.

Mulai Memotret

Jika sudah tahu seluk beluk menemukan letak bentangan galaksi Bima Sakti di langit. Saatnya kalian memotret, kalian bisa gunakan kamera Digital Single-Lens Reflex atau DSLR untuk memotret Bima Sakti

Pengaturan karema DSLR untuk memotret Bima Sakti :

  1. Gunakan diafragma terbesar di kamera kalian, misal F/2.8 atau F/3.5.
  2. Gunakan speed terendah, dalam hal ini 30 detik. Jangan gunakan speed melebihi 30 detik, seperti 40s, 60s atau 90s, karena semakin lama rana yang terbuka, membuat bintang terlihat bergaris (sperti memotret star trail).
  3. Gunakan cable release dan tripod untuk menghindari gambar menjadi blur.
  4. Gunakan ISO maksimal, 1250.
  5. Hindari menggunakan format JPEG, melainkan gunakan format RAW untuk memotret Bima Sakti, supaya fotonya lebih tajam atau bagus dan enak untuk diedit nanti di Photoshop atau Lightroom.
  6. Gunakan manual focus dan infinity untuk mendapatkan ketajaman maksimal.
  7. Mulailah memotret.

Apakah Bisa Diamati Dengan Mata Telanjang?

Bisa saja melihat Bima Sakti dengan mata telanjang, namun hal ini terasa agak sulit. Apalagi bagi kalian yang tinggal di kota yang tingkat polusinya tinggi. Dengan mata telanjang, Bima Sakti nantinya akan terlihat bagai kabut atau kapas putih yang membentang dari Utara ke Selatan.

Kalian bisa main ke pegunungan atau pedesaan yang langitnya masih belum tercemar polusi, jauh dari terangnya lampu dna cahaya kota. Gunung yang terekomendasi untuk mengamati Galaksi Bima Sakti dengan mata telanjang adalah Bromo, Prau, Rinjani, Merbabu, Ciremai, Sindara dan masih banyak lagi.

Credit : InfoAstronomy


Rabu, 28 September 2016

3,5 Miliar Tahun yang Lalu, Aktivitas Vulkanik di Merkurius Berhenti Sepenuhnya






Penelitian terbaru dari North Carolina State University menemukan bahwa aktivitas vulkanik di planet Merkurius telah sepenuhnya berakhir sekitar 3,5 miliar tahun yang lalu. Temuan ini menambah wawasan dalam pengetahuan evolusi geologi planet, khususnya Merkurius.

Ada dua jenis aktivitas gunung berapi, efusif dan eksplosif. Aktifitas eksplosif sering menghasilkan abu dna puing-puing besar bekas letusan, seperti letusan Gunung Saint Helens pada 1980. Sedangkan aktivitas efusif menyebabkan adanya aliran lava yang meluas di atas permukaan sebuah planet.

Ahli geologi planet, Paul Byrne dan rekan-rekannya menantukan kapan aktivitas vulkanik di Merkurius berakhir dengan menggunakan data dan foto-foto permukaan yang dicitrakan oleh misi MESSENGER milik NASA. Karena tidak ada sampel fisik dari planet ini yang bisa digunakan untuk penelitian radiometrik, para astronom ini akhirnya menggunakan analisis ukuran frekuensi kawah, di mana jumlah dan ukuran kawah di permukaan planet Merkurius dimasukkan ke dalam model matematika untuk dihitung berapa usia mutlak dari endapan aktivitas vulkanik efusif disana.

Menurut hasil perhitungan mereka, aktivitas vulkanik di Merkurius sepenuhnya berhenti sekitar 3,5 miliar tahun lalu, kontras dengan usia vulkanik yang ditemukan pada planet Venus, Mars dan Bumi, yang masih aktif hingga kini.

"Ada perbedaan besar antara geologi Merkurius dan Bumi, Mars ataupun Venus," kata Byrne. "Merkurius memiliki mantel yang jauh lebih kecil, di mana peluruhan radioaktif menghasilkan panas lebih banyak dibandingkan planet-planet lainnya. Hal ini membuat Merkurius kehilangan panas lebih awal. Akibatnya. Merkurius mulai berkontraksi dan keraknya menutup saluran di mana magma bisa mencapai permukaan. Dan akhirnya Merkurius mendingin."

Credit : InfoAstronomy

Selasa, 27 September 2016

Dua Planet Berbatu Mirip Bumi Ditemukan Pada Jarak 38,8 Tahun Cahaya






Dua planet baru bernama TRAPPIST-1b dan TRAPPIST-1c, yang merupakan dua planet terdalam dalam sistem tiga planet TRAPPIST-1 berhasil ditemukan. Kedua planet tersebut telah dikonfirmasi merupakan planet berbatu seperti Bumi, bukan planet gas raksasa seperti Jupiter.

Menurut sekelompok astronom yang dipimpin oleh Julien de Wit, astronom Massachusetts Institute of Technology (MIT), bintang induk kedua planet tersebut yang bernama TRAPPIST-1 merupakan bintang kerdil ultradingin terletak pada jarak hanya 38,8 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Aquarius [1 tahun cahaya = 9,4 triliun km]

Bintang TRAPPIST-1 ini lebih dingin dan lebih merah dari Matahari kita, dengan usianya diperkirakan sekitar 500 juta tahun dan dengan luminositas, massa dan radius masing-masing 0,05%, 8% dan 11,5% lebih rendah dari Matahari.

Pada tanggal 2 Mei, Julien de Wit dan rekan-rekannya mengumumkan mereka telah menemukan tiga planet seukuran Bumi dengan periode orbit pendek yang dekat dengan zona laik huni dari bintang TRAPPIST-1. Bintang tersebut merupakan pusat dari sistem bintang yang diorbiti tiga planet bernama TRAPPIST-1b, 1c dan 1d.

Baru-baru ini, dalam sebuah makalah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature, tim astronom yang dipimpin Julien de Wit itu melaporkan bahwa TRAPPIST-1b dan 1c ada;ah planet yang permukaannya berbatu, atau yang terbuat dari batuan. Temuan ini memperkuat hipotesis yang mengatakan kemungkinan kedua planet tersebut laik huni.

Para astronom juga ditentukan bahwa atmosfer kedua planet ini sangat solid, mirip dengan atmosfer Bumi, Venus dan Mars. Julien de Wit dan rekan-rekannya sampai pada kesimpulan ini setelah melakukan penelitian awal dari atmosfer kedua planet sekitar beberapa hari setelah mengumumkan penemuan sistem planet tersebut.

Mereka juga melakukan penelitian dengan Teleskop Antariksa Hubble dengan mengarahkannya ke sistem bintang TRAPPIST-1 untuk mempelajari kedua planet dengan transit ganda, yakni saat kedua planet hampir  bersamaan lewat di depan bintang induknya, persis seperti ilustrasi di atas.

Menggunakan Hubble, para astronom ini berhasil mencatat spektrum transmisi gabungan antara TRAPPIST-1b dan 1c. Data tersebut mengungkapkan bahwa kedua planet ini merupakan bebatuan bulat yang mengitari bintang induk ultradinginnya.

Bintang TRAPPIST-1 sendiri ditemukan oleh sebuah tim astronom yang dipimpin oleh Michael Gillon dari Insttitute d'Astrophysique et Geophysique di University of Liege di Belgia menggunakan teleskop TRAPPIST (Transiting Planets and Planetesimals Small Telescope) di La Silla Observatory, gurun Atacama, Cile.

Credit : InfoAstronomy



Kamis, 22 September 2016

Venus Pernah Jadi Planet Laik Huni



Dengan awan asam beracunnya, permukaan yang terik dan tekanan atmosfer yang dapat menghancurkan tulang, suasana Venus menjadikannya salah satu tempat paling mengrikan di Tata Surya kita. Venus saat ini tidak laik huni, namun sebuah penelitian terbaru mengungkapkan ternyata dahulu Vebus mendukung kehidupan.

Ketika kehidupan pertama kali berevolusi di Bumi, planet Venus mungkin pernah menjadi tujuan wisata antariksa yang wajib dikunjungi. "Kedua planet (Venus dan Bumi) oernah sama-sama memiliki lautan air cair yang memiliki evolusi kimiawi di masa lalu," kata David Grinspoon dari Planetary Science Institute di Tucson, Arizona, AS seperti InfoAstronomy.org lansir dari New Scientist.

"Venus juga memiliki rasio yang sangat tinggi dari deuterium untuk atom hidrogen, sebuah tanda bahwa planet kedua dari Matahari ini pernah memiliki sejumlah besar air dalam bentuk cair, namun secara misterius hilang dari waktu ke waktu," kata Grinspoon.

Satu atau dua miliar tahun yang lalu, Venus dan Bumi munfkin merupakan planet yang benar-benar kembar, memiliki laut yang kebiruan dan permukaan berbatu yang hijau karena ditumbuhi tanaman. Sebuah simulasi komputer terbaru juga menunjukkan bahwa Venus awalnya mungkin pernah dihuni kehidupan lain selain di Bumi.

"Ini salah satu misteri besar tentang Venus. Baaimana bisa ia saat ini menjadi begitu berbeda dari Bumi padahal pada awalnya sangat mirip?" kata Grinspoon.

Grinspoon dan rekan-rekannya bukan astronom pertama yang membayangkan bahwa Venus pernah ramah terhadap kehidupan. Venus memang mirip dengan Bumi dalam ukuran dan kepadatan, dan ada sebuah fakta menunjukan kedua planet ini terbentuk bersama-sama dan terbuat dari material proto-planet yang sama.

Penelitian ini bisa membantu astronom dalam pencarian planet ekstrasurya dan mengetahui bagaimana planet berevolusi. Jika Venus oernah menjadi planet laik huni, maka hal itu menunjukkan bahwa planet-planet lain yang berada dekat dengan bintang induk mungkin memiliki skenario yang sama dengan Venus.

Credit : InfoAstronomy

Senin, 19 September 2016

Mengenal Sistem CIncin Planet Uranus


Uranus adalah planet ketujuh dari Matahari dan planet terbesar ketiga dan terberat keempat dalam Rara Surya. Sama seperti Jupiter, Saturnus dan Neptunus, planet yang mirip seperti kelerang berwarna putih kebiruan ini juga memiliki sistem cincin.

Uranus mempunyai sistem cincin yang rumit, yang merupakan sistem terumit kedua yang ditemukan di Tata Surya setelah cincin Saturnus. CIncin-cincin tersebut tersusun dari partikel yang sangat gelap, sehingga sukar diamati dalam cahaya tampak, yang beragam ukurannya dari mikrometer hingga sepersekian meter.

Total ada 13 lapisan cincin yang berbeda saat ini yang diketahui, yang paling terang adalah cincin ε (epsilon). Semua cincin Uranus (kecuali dua) sangat sempit. Yang umumnya mereka lebarnya beberapa kilometer. Cincin tersebut mungkin cukup muda dengan pertimbangan dinamis menandakan bahwa mereka tidak terbentuk bersamaan dengan pembentukan Uranus.

Materi di sistem cincin itu mungkin dulu adalah bagian dari satu (atau beberapa) satelit alami milik Uranus yang terpecah oleh tabrakan berkecepatan tinggi. Dari banyak pecahan-pecahan yang terbentuk sebagai hasil dari tabrakan itu hanya beberapa partikel yang bertahan dalam jumlah terbatas zona stabil yang bersesuaian dengan cincin yang ada sekarang.


Astronom Sir William Herschel mendeskripsikan cincin yang mungkin ada di sekitar Uranus pada 1789. Petampakan ini umumnya dianggap meragukan, karena cincin-cincin itu cukup redup dan pada dua abad berikutnya tak satupun yang diketahui oleh pengamat lain.


Namun, Herschel masih membuat deskripsi akurat tentang ukuran cincin epsilon, sudut relatifnya terhadap Bumi, warna merahnya dan perubahannya yang tampak bersamaan dengan Uranus mengitari Matahari. Sistem cincin itu benar-benar ditemukan pada 10 Maret 1977 oleh James L. Elliot, Edward W. Dunham dan Douglas J. Mink menggunakan Kuiper Airbone Observatory.



Penemuan itu merupakan keberuntungan. Mereka berencana menggunakan okultasi bintang SAO 158687 oleh Uranus untuk mempelajari atmosfer planet itu. Akan tetapi, saat pengamatan mereka dianalisis, mereka menemukan bahwa bintang itu telah menghilang sebentar dari pandangan lima kali sebelum dan sesudah ia tidak tampak di balik planet itu.

Mereka menyimpulkan bahwa pasti ada suatu sistem cincin di sekitar planet tersebut. Kemudian mereka mendeteksi empat cincin tambahan. Cincin-cincin itu langsung dicitrakan saat Voyager 2 lewat dekat Uranus pada 1986. Wahana antariksa Voyager 2 juga menemukan dua cincin tambahan yang tamoak redup sehingga total jumlahnya menjadi sebelas.

Pada Desember 2006, Teleskop angkasa Hubble mendeteksi sepasang cincin yang sebelumnya tidak diketahui. Yang terbesar terletak pada dua kali jarak cincin yang telah diketahui dari planet itu. CIncin-cincin baru ini begitu jauh dari planet tersebut hingga mereka disebut sistem cincin 'luar'.

Hubble juga melihat dua satelit kecil yang salah satunya, Mab, berbagi orbit dengan cincin terluar yang baru ditemukan. Cincin-cincin baru ini membuat jumlah keseluruhan cincin Uranian menjadi 13. Pada April 2006, gambar cincin baru tersebut dengan Observatorium Keck menghasilkan warna cincin-cincin luar, yang terluar biru dan lainnya merah.

Satu hipotesis mengenai warna biru cincin luar tersebut adalah bahwa ia terdiri atas partikel kecil air es dari permukaan Mab yang cukup kecil untuk menghamburkan cahaya biru. Kontras dengan itu, cincin-cincin dalam planet itu tampak abu-abu.

Pada Desember 2005, Teleskop angkasa Hubble mendeteksi sepasang cincin yang sebelumnya tidak diketahui. Yang terbesar terletak pada dua kali jarak cincin yang telah diketahui dari planet itu. Cincin-cincin baru ini begitu jauh dari planet tersebut hingga mereka disebut sistem cincin "luar".

Hubble juga melihat dua satelit kecil yang salah satunya, Mab, berbagi orbit dengan cincin terluar yang baru ditemukan. Cincin-cincin baru ini membuat jumlah keseluruhan cincin Uranian menjadi 13. Pada April 2006, gambar cincin baru tersebut dengan Observatorium Keck menghasilkan warna cincin-cincin luar: yang terluar biru dan yang lainnya merah.

Satu hipotesis mengenai warna biru cincin luar tersebut adalah bahwa ia terdiri atas partikel kecil air es dari permukaan Mab yang cukup kecil untuk menghamburkan cahaya biru. Kontras dengan itu, cincin-cincin dalam planet itu tampak abu-abu.

Cincin yang Miring

Uniknya, cincin Uranus miring 97,8 derajat dari bidang Tata Surya. Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa cincin (dan planet Uranus itu sendiri) miring lebih dari 90 derajat, bagaimana itu bisa terjadi?

Jika planet-planet di Tata Surya kita berotasi seperti gasing yang berputar termiring-miring relatif terhadap bidang Tata Surya, planet Uranus justru 'menggelinding'. Hal ini membuat satu kutub Uranus menghadap ke Matahari secara terus-menerus sedangkan kutub lainnya menghadap ke arah sebaliknya.

Hanya segaris daerah sempit di sekitar ekuator yang mengalami pergantian siang-malam dengan cepat, namun dengan Matahari sangat rendah dari kaki langit seperti di daerah kutub di Bumi. Pada sisi orbit Uranus yang lain orientasi kutub-kutubnya terhadap Matahari adalah sebaliknya. Tiap kutub terus-menerus disinari Matahari sekitar 42 tahun, diikuti dengan 42 tahun yang gelap.

Uranus berotasi menggelinding diperkirakan akibat suatu peristiwa yang mahadahsyat yang mengubahnya menjadi sebagaimana keadaannya sekarang. Sebagian teori menyatakan bahwa saat pembentukan Tata Surya, cikal bakal planet sebesar Bumi bertumbukan dengan Uranus dan menyebabkan sumbu rotasinya berubah menjadi sangat miring.

Ada juga teori yang tidak melibatkan tumbukan. Simulasi yang dilakukan Boue dan Laskar dari Observatorium Paris menunjukkan bahwa Uranus dahulu sekali punya satelit alami yang sangat besar. Massa satelit alami ini, meskipun hanya 0,1% massa Uranus, mampu menarik sumbu rotasi Uranus dalam waktu jutaan tahun. Lalu, kemana satelit alami ini pergi? Kemungkinan besar 'tertendang' oleh gravitasi ketika planet masif lainnya lewat.

Credit : Infoastronomy

Jumat, 16 September 2016

Mempelajari Bagian Dalam Planet Katai Ceres Melalui Tarikan Gravitasinya






Dari puluhan ribu citra yang dipotret dan dikembalikan ke Bumi oleh wahana antariksa Dawn milik Lembaga Antariksa AS (NASA) yang mengorbit planet katai Ceres, interior atau bagian dalam planet katai tersebut tidak terlihat. Tetapi para ilmuwan memiliki cara tersendiri dengan data yang kuat untuk mempelajari struktur dalam Ceres melalui gerakan orbit Dawn sendiri.
Gravitasi Ceres mendominasi jalur orbit Dawn dalam mengelilingi planet katai terbesar di Tata Surya bagian dalam tersebut, sehingga para ilmuan dapat mengukur variasi gravitasi Ceres dengan melacak perubahan halus dalam gerakan orbit Dawn.

Menggunakan data gravitasi dari Dawn ini, para ilmuan telah berhasil memetakan variasi gravitasi Ceres untuk pertama kalinya dalam sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Nature, yang menyediakan petunjuk untuk mempelajari lebih dalam struktur internal planet kerdil ini.

"Data baru menunjukkan bahwa Ceres memiliki interior yang rapuh," kata Ryan Park, penulis utama penelitian ini dan ilmuan dinamika Tata Surya Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena California, AS.

Medan gravitasi Ceres diukur dengan memonitor sinyal radio yang dikirim ke Dawn, dan kemudian diterima kembali di Bumi oleh Deep Space Network (DSN) NASA. DSN ini adalah kumpulan antena besar yang berada di tiga lokasi berbeda di seluruh dunia yang bekomunikasi dengan wahana antariksa antarplanet. Menggunakan sinyal-sinyal ini, para ilmuan dapat mengukur kecepatan orbit Dawn dengan presisi 0,004 inci (0,1 milimeter) per detik, dan kemudian menghitung rincian medan gravitasi Ceres.

Dari penelitian ini, Ceres diketahui memiliki sifat yang disebut 'Kesetimbangan hidrostatik.; Ini berarti bahwa interior Ceres cukup rapuh. Para ilmuan sampai pada kesimpulan ini dengan membandingkan medan gravitasi Ceres dengan bentuknya. Kesetimbangan hidrostatik Ceres juga adalah salah satu alasan mengapa para astronom mengklarifikasikan Ceres sebagai planet kerdil pada tahun 2006 bersama dengan pluto.

Data menunjukkan bahwa Ceres memiliki komposisi lapisan yang berbeda di setiap kedalaman yang berbeda, dengan lapisan terpadat berada di intinya. Para ilmuwan juga telah menemukan bahwa Ceres kurang padat daripada Bumi, Bulan, asteroid rkasasa Vesta dan benda-benda berbatu lainnya di Tata Surya kita.

Kini wahana antariksa Dawn akan terus mengorbit dan meneliti Ceres. Dawn tiba di orbit Ceres pada 6 Maret 2015 sekitar pukul 19:39 WIB dan menjadikannya wahana antariksa pertama yang mengporbit planet kerdil.

Credit : Infoastronomy

Kamis, 15 September 2016

Planet-Planet Asing Paling Mirip Bumi Berhasil Dikatalogkan

Ilustrasi planet-planet mirip Bumi.

Sebuah tim astronom internasional telah mengonfirmasi planet-planet asing paling mirip Bumi dari 4.000 an planet asing yang ditemukan oleh Teleskop Antariksa Kepler. Katalog planet terbaru ini berisi senarai planet yang paling mirip dengan planet rumah kita, Bumi.

Penelitian yang telah diterbitkan dalam Astrophysical Journal ini menguraikan kurang lebih 216 planet yang terletak di dalam zona laik huni, sebuah zona atau daerah di sekitar bintang induk yang memungkinkan permukaan planet bisa menahan air dalam bentuk cair. Dari 216 planet ini, 20 diantaranya merupakan kandidat terbaik untuk menjadi planet berbatu yang dapat dihuni seperti Bumi.

"Ini adalah katalog terlengkap dari semua penemuan Kepler yang menguraikan planet-planet yang berada di zona habitasi bintang induknya," kata Stephen Kane, seorang profesor fisika dan astronomi di San Francisco State University dan penulis utama studi tersebut. "Itu berarti kita bisa fokus pada planet-planet dalam makalah penelitian ini dan melakukan studi lanjutan untuk belajar lebih banyak tentang mereka, termasuk jika mereka memang laik huni."

Penelitian ini juga menegaskan adanya bukti tambahan bahwa alam semesta ini penuh dengan planet-planet di mana kehidupan bisa berpotensi muncul. Mempelajari batas-batas zona laik huni juga sangat penting. Jika planet terlalu dekat dengan bintang induknya, planet tersebut akan mengalami efek gas rumah kaca, seperti venus. Tapi kalau terlalu jauh, air akan membeku, seperti terlihat di Mars.

Batas zona laik huni planet-planet dalam katalog planet mirip Bumi.

Mempelajari dan mengkatalogkan lebih dari 4.000 planet ekstrasurya ini perlu waktu lebih dari 3 tahun dan melibatkan para astronom di NASA, Arizona State University, Caltech, University of Hawaii-Manoa, University of Bordeaux, Cornell University dan Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics.

Mendeteksi Planet Ekstrasurya

Alam semesta terlalu luas jika hanya Bumi saja yang memiliki kehidupan. Penemuan plant-planet ekstrasurya ini dapat membantu kita memahami tentang evolusi planet dan mengetahui apakah ada kehidupan lain selain di Bumi atau tidak.

Menemukan planet ekstrasurya bukanlah hal yang mudah, tapi juga tidak terlalu sulit. Sumber cahaya yang terpancar dari planet-planet sangat samar sekali dibandigngkan dengan bintang induknya. Terlihat pada panjang gelombangnya, biasanya cahaya planet itu memiliki terang cahaya kurang dari satu persejuta dibandingkan bintang induknya.

Disamping sulitnya mendeteksi suatu sumber cahaya yang sangat kecil tersebut, bintang induk cukup menyilaukan sehingga menyamarkan cahaya dari planet tersebut, hal ini yang menyulitkan pendeteksian.

Oleh sebab itu, teleskop yang ada saat ini hanya dapat menangkap gambar eksoplanet secara langsung dalam kondisi tertentu. Secara khusus, mungkin saat planet yang sangat besar (lebih besar dari Jupiter), terpisah jauh dari bintang induknya dan sangat panas sehingga memancarkan radiaso inframerah intens, saat itulah teleskop dapat melihatnya.

Berikut ini metode-metode yang digunakan para astronom untuk mendeteksi planet ekstrasurya.

  • Astrometri: Astrometri adalaj pengukuran posisi bintang di langit dengan cara mengamati perubahan posisinya dari waktu ke waktu. Jika bintang tersebut memiliki planet, maka pengaruh gravitasi planet akan menyebabkan bintang itu sendiri untuk bergerak dalam lintasan elips yang bersama planet tersebut sama-sama mengelilingi pusat massanya.
  • Kecepatan Raidal atau Metode Doppler: Variasi dalam kecepatan yang bergerak ke arah bintang atau jauh dari Bumi, yaitu variasi dalam kecepatan radial dari bintang sehubungan dengan Bumi, dapat dikurangi dari beratnya di bintang induk dari baris spektrum disebabkan oleh Efek Doppler. Ini merupakan reknik paling paling produktif untuk mendeteksi planet asing yang telah lama digunakan.
  • Pulsar Waktu: Sebuah pulsar (sisa dari bintang yang kecil, ultrapadat yang telah meledak sebagai supernova) memancarkan gelombang radio secara teratur ketika berotasi. Anomali sedikit saja dalam sinyal-sinyal radio yang memancar dapat digunakan untuk melacak perubahan pada pulsar dari gerakan yang disebabkan oleh keberadaan planet-planet yang mengelilinginya.
  • Metode Transit: Jika suatu planet melintasi atau transit di depan bintang induknya, maka pancaran cahaya bintang itu sedikit berkurang karena terhalang oleh planet tersebut. Tingkat cahaya bintang yang berkurang tersebut tergantung pada ukuran bintang itu sendiri dan ukuranplanet yang melintasinya. Teleskop Antariksa Kepler menggunakan metode ini.

"Ada banyak kandidat planet di luar sana, sayangnya teknologi teleskop yang kita punya masih terbatas untuk mempelajarinya," kata Kane. "Penelitian ini merupakan loncatan yang sangat besar ke arah untuk menjawab pertanyaan kunci tentang apakah ada kehidupan lain selain Bumi di alam semesta."

Credit : Infoastronomy