Sebuah citra terbaru dari planet Saturnus yang diambil oleh wahana antariksa Cassini milik NASA menampilkan bagian Utara planet bercincin dalam pandangan yang berbeda. Pada citra terbaru tersebut terlihat atmosfer Saturnus berwarna hijau, biru dan ungu yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Atmosfer Saturnus yang berwarna-warni ini merupakan hasil dari filter spektral pada kamera wahana antariksa Cassini. Filter tersebut dapat mencerminkan permukaan Saturnus dalam warna tertentu sesuai dengan panjang gelombang cahaya.
Kevin Gill, seorang insinyur di Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California mengatakan citra hijau Saturnis ini didapatkan dengan menggabungkan beberapa foto yang diambil oleh kamera wide-angel Cassini dalam cahaya inframerah pada 20 Juli 2016.
Gill menggunakan kombinasi filter spektral yang sensitif terhadap cahaya inframerah pada panjang gelombang 750, 727 dan 619 nanometer. Mata manusia biasanya dapat melihat cahaya hanya di kisaran 390-700 nanometer, sehingga menggunakan filter spektral memungkinkan kita untuk melihat apa yang dinyatakan tak terlihat dengan mata telanjang.
Jenis filter inframerah ini memungkinkan para astronom untuk mempelajari bagaimana atmosfer Saturnus mencerminkan dan menyerap panjang gelombang tertentu dari cahaya Matahari.
Sementara itu, wahana antariksa Cassini telah berada di orbit Saturnus sejak tahun 2004 untuk mempelajari planet dengan cincin ternegah di Tata Surya tersebut beserya satelit-satelit alaminya. Cassini dijadwalkan untuk mengakhiri misinya dengan ditabrakan ke atmosfer Saturnus pada September 2017 mendatang.
Credit : InfoAstronomy
Tampilkan postingan dengan label Tata Surya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tata Surya. Tampilkan semua postingan
Jumat, 07 Oktober 2016
Sabtu, 01 Oktober 2016
Mengenal Matahari, Bintang Terdekat Bumi
Tahukah kalian kalau Matahari adalah bintang terdekat planet Bumi kita? Ya, Matahari adalah bintang di pusat Tata Surya. Bentuknya nyaris bulat dan terdiri dari plasma panas bercampur medan magnet. Seluruh planet dan asteroid berputar mengelilinginya karena tarikan gravitasi Matahari yang besar. Mari kenali Matahari lebih jauh.
Diameter Matahari diperkirakan sekitar 1.392.000 km atau kira-kira 109 kali diameter Bumi dan massanya sekitar 2x10^30 kg atau 330.000 kali massa Bumi, mewakili kurang lebih 99,86% massa total Tata Surya kita. Sampai di sini, tentu sudah bisa dibayangkan betapa besarnya Matahari kita.
Secara kimiawi, sekitar tiga perempat massa Matahari terdiri dari hidrogen, sedangkan sisanya didominasi helium. Sisa massa tersebut (1,69% setara dengan 6.629 kali massa Bumi) terdiri dari elemen-elemen berat seperti oksigen, karbon, neon, besi dan lain-lain.
Struktur dan lapisan Matahari terdiri dari inti yang berdiameter sekitar 280.000 km. Energi yang dihasilkan inti Matahari setara dengan 90 juta miliar ton TNT. Ada juga lapisan zona radiasi, zona konveksi, fotosfer, kromosfer dan korona atau atmosfer terluar Matahari yang meluas ke angkasa sejauh beberapa juta kilometer.
Pada Matahari juga ada bagian bernama bintik Matahari atau sunspot, bintik hitam ini merupakan bagian Matahari yang memiliki suhu lebih rendah dari area di sekitarnya. Sunspot bisa terbentuk disebabkan oleh interaksi mahnetik.
Selainsunspot juga ada yang namanya angin Matahari (solar wind). Kata 'angin' di sini bukan dalam artian sebenarnya, melainkan hembusan partikel-partikel bermuatan, terutama terdiri dari proton dan elektron dengan sedikit ion berat, yang siletupkan dari korona Matahari dengan kecepatan mencapai 400 kilometer per detik.
Matahari terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu akibat peluruhan gravitasi suatu wilayah di dalam sebuah awan molekul besar. Sebagian besar materi berkumpul di tengah, sementara sisanya memilih menjadi cakram beredar yang kelak menjadi Tata Surya. Massa pusatnya semakin panas dan padat dan akhirnya memulai fusi termonuklir di intinya.
Diduga bahwa hampir semua bintang lain terbentuk dengan proses serupa. Klarifikasi bintang Matahari, berdasarkan kelas spektrumnya, adalah bintang deret utama G (G2V) dan sering digolongkan sebagai katai kuning karena radiasi tampaknya lebih intens dalam prosispektrum kuning-merah. Meski warnanya putih, dari permukaan Bumi Matahari tampak kuning dikarenakan pembauran cahaya bitu di atmosfer.
Menurut label kelas spektrum, G2 menandakan suhu permukaannya sekitar 5778 K (5505°C) dan V menandakan bahwa Matahari, layaknya bintang-bintang lain, merupakan bintang deret utama, sehingga energinya diciptakan oleh fusi nuklir nukleus hidrogen ke dalam helium. Di intinya, Matahari memfusi 620 juta ton metrik hidrogen setiap detik.
Dulu, Matahari dipandang para astronom sebagai bintang kecil dan tidak penting. Sekarang, Matahari dianggap lebih terang daripada sekitar 85% bintang di galaksi Bima Sakti yang di dominasi katai merah. Magnitudo absolut Matahari adalah +4,83. Akan tetapi, sebagai bintang yang paling dekat dengan Bumi, Matahari adalah benda tercerah di langit dengan magnitudi tampak -26,74.
Korona Matahari yang panas terus meluas di luar angkasa dan menciptakan angin Matahari, yaitu arus partikel bermuatan yang bergerak hingga heliopause sekitar 100 AU. Gelembung di medium antarbintang yang terbentuk oleh angin Matahari, heliosfer adalah struktur bersambung terbesar di Tata Surya.
Selama miliaran tahun, Matahari menyinari Bumi sehingga tumbuhan bisa memanfaatkan sebagai sumber energi untuk kehidupan. Hewan herbivora memakan tumbuhan, karnivora memakan herbivora dan dengan cara ini Matahari menjadi sangat penting bagi Bumi karena memberikan kehidupan di Bumi. Termasuk pada kita, manusia.
Credit : InfoAstronomy
Rabu, 28 September 2016
3,5 Miliar Tahun yang Lalu, Aktivitas Vulkanik di Merkurius Berhenti Sepenuhnya
Penelitian terbaru dari North Carolina State University menemukan bahwa aktivitas vulkanik di planet Merkurius telah sepenuhnya berakhir sekitar 3,5 miliar tahun yang lalu. Temuan ini menambah wawasan dalam pengetahuan evolusi geologi planet, khususnya Merkurius.
Ada dua jenis aktivitas gunung berapi, efusif dan eksplosif. Aktifitas eksplosif sering menghasilkan abu dna puing-puing besar bekas letusan, seperti letusan Gunung Saint Helens pada 1980. Sedangkan aktivitas efusif menyebabkan adanya aliran lava yang meluas di atas permukaan sebuah planet.
Ahli geologi planet, Paul Byrne dan rekan-rekannya menantukan kapan aktivitas vulkanik di Merkurius berakhir dengan menggunakan data dan foto-foto permukaan yang dicitrakan oleh misi MESSENGER milik NASA. Karena tidak ada sampel fisik dari planet ini yang bisa digunakan untuk penelitian radiometrik, para astronom ini akhirnya menggunakan analisis ukuran frekuensi kawah, di mana jumlah dan ukuran kawah di permukaan planet Merkurius dimasukkan ke dalam model matematika untuk dihitung berapa usia mutlak dari endapan aktivitas vulkanik efusif disana.
Menurut hasil perhitungan mereka, aktivitas vulkanik di Merkurius sepenuhnya berhenti sekitar 3,5 miliar tahun lalu, kontras dengan usia vulkanik yang ditemukan pada planet Venus, Mars dan Bumi, yang masih aktif hingga kini.
"Ada perbedaan besar antara geologi Merkurius dan Bumi, Mars ataupun Venus," kata Byrne. "Merkurius memiliki mantel yang jauh lebih kecil, di mana peluruhan radioaktif menghasilkan panas lebih banyak dibandingkan planet-planet lainnya. Hal ini membuat Merkurius kehilangan panas lebih awal. Akibatnya. Merkurius mulai berkontraksi dan keraknya menutup saluran di mana magma bisa mencapai permukaan. Dan akhirnya Merkurius mendingin."
Credit : InfoAstronomy
Kamis, 22 September 2016
Venus Pernah Jadi Planet Laik Huni
Dengan awan asam beracunnya, permukaan yang terik dan tekanan atmosfer yang dapat menghancurkan tulang, suasana Venus menjadikannya salah satu tempat paling mengrikan di Tata Surya kita. Venus saat ini tidak laik huni, namun sebuah penelitian terbaru mengungkapkan ternyata dahulu Vebus mendukung kehidupan.
Ketika kehidupan pertama kali berevolusi di Bumi, planet Venus mungkin pernah menjadi tujuan wisata antariksa yang wajib dikunjungi. "Kedua planet (Venus dan Bumi) oernah sama-sama memiliki lautan air cair yang memiliki evolusi kimiawi di masa lalu," kata David Grinspoon dari Planetary Science Institute di Tucson, Arizona, AS seperti InfoAstronomy.org lansir dari New Scientist.
"Venus juga memiliki rasio yang sangat tinggi dari deuterium untuk atom hidrogen, sebuah tanda bahwa planet kedua dari Matahari ini pernah memiliki sejumlah besar air dalam bentuk cair, namun secara misterius hilang dari waktu ke waktu," kata Grinspoon.
Satu atau dua miliar tahun yang lalu, Venus dan Bumi munfkin merupakan planet yang benar-benar kembar, memiliki laut yang kebiruan dan permukaan berbatu yang hijau karena ditumbuhi tanaman. Sebuah simulasi komputer terbaru juga menunjukkan bahwa Venus awalnya mungkin pernah dihuni kehidupan lain selain di Bumi.
"Ini salah satu misteri besar tentang Venus. Baaimana bisa ia saat ini menjadi begitu berbeda dari Bumi padahal pada awalnya sangat mirip?" kata Grinspoon.
Grinspoon dan rekan-rekannya bukan astronom pertama yang membayangkan bahwa Venus pernah ramah terhadap kehidupan. Venus memang mirip dengan Bumi dalam ukuran dan kepadatan, dan ada sebuah fakta menunjukan kedua planet ini terbentuk bersama-sama dan terbuat dari material proto-planet yang sama.
Penelitian ini bisa membantu astronom dalam pencarian planet ekstrasurya dan mengetahui bagaimana planet berevolusi. Jika Venus oernah menjadi planet laik huni, maka hal itu menunjukkan bahwa planet-planet lain yang berada dekat dengan bintang induk mungkin memiliki skenario yang sama dengan Venus.
Credit : InfoAstronomy
Senin, 19 September 2016
Mengenal Sistem CIncin Planet Uranus
Uranus adalah planet ketujuh dari Matahari dan planet terbesar ketiga dan terberat keempat dalam Rara Surya. Sama seperti Jupiter, Saturnus dan Neptunus, planet yang mirip seperti kelerang berwarna putih kebiruan ini juga memiliki sistem cincin.
Uranus mempunyai sistem cincin yang rumit, yang merupakan sistem terumit kedua yang ditemukan di Tata Surya setelah cincin Saturnus. CIncin-cincin tersebut tersusun dari partikel yang sangat gelap, sehingga sukar diamati dalam cahaya tampak, yang beragam ukurannya dari mikrometer hingga sepersekian meter.
Total ada 13 lapisan cincin yang berbeda saat ini yang diketahui, yang paling terang adalah cincin ε (epsilon). Semua cincin Uranus (kecuali dua) sangat sempit. Yang umumnya mereka lebarnya beberapa kilometer. Cincin tersebut mungkin cukup muda dengan pertimbangan dinamis menandakan bahwa mereka tidak terbentuk bersamaan dengan pembentukan Uranus.
Materi di sistem cincin itu mungkin dulu adalah bagian dari satu (atau beberapa) satelit alami milik Uranus yang terpecah oleh tabrakan berkecepatan tinggi. Dari banyak pecahan-pecahan yang terbentuk sebagai hasil dari tabrakan itu hanya beberapa partikel yang bertahan dalam jumlah terbatas zona stabil yang bersesuaian dengan cincin yang ada sekarang.
Astronom Sir William Herschel mendeskripsikan cincin yang mungkin ada di sekitar Uranus pada 1789. Petampakan ini umumnya dianggap meragukan, karena cincin-cincin itu cukup redup dan pada dua abad berikutnya tak satupun yang diketahui oleh pengamat lain.
Namun, Herschel masih membuat deskripsi akurat tentang ukuran cincin epsilon, sudut relatifnya terhadap Bumi, warna merahnya dan perubahannya yang tampak bersamaan dengan Uranus mengitari Matahari. Sistem cincin itu benar-benar ditemukan pada 10 Maret 1977 oleh James L. Elliot, Edward W. Dunham dan Douglas J. Mink menggunakan Kuiper Airbone Observatory.
Penemuan itu merupakan keberuntungan. Mereka berencana menggunakan okultasi bintang SAO 158687 oleh Uranus untuk mempelajari atmosfer planet itu. Akan tetapi, saat pengamatan mereka dianalisis, mereka menemukan bahwa bintang itu telah menghilang sebentar dari pandangan lima kali sebelum dan sesudah ia tidak tampak di balik planet itu.
Mereka menyimpulkan bahwa pasti ada suatu sistem cincin di sekitar planet tersebut. Kemudian mereka mendeteksi empat cincin tambahan. Cincin-cincin itu langsung dicitrakan saat Voyager 2 lewat dekat Uranus pada 1986. Wahana antariksa Voyager 2 juga menemukan dua cincin tambahan yang tamoak redup sehingga total jumlahnya menjadi sebelas.
Pada Desember 2006, Teleskop angkasa Hubble mendeteksi sepasang cincin yang sebelumnya tidak diketahui. Yang terbesar terletak pada dua kali jarak cincin yang telah diketahui dari planet itu. CIncin-cincin baru ini begitu jauh dari planet tersebut hingga mereka disebut sistem cincin 'luar'.
Hubble juga melihat dua satelit kecil yang salah satunya, Mab, berbagi orbit dengan cincin terluar yang baru ditemukan. Cincin-cincin baru ini membuat jumlah keseluruhan cincin Uranian menjadi 13. Pada April 2006, gambar cincin baru tersebut dengan Observatorium Keck menghasilkan warna cincin-cincin luar, yang terluar biru dan lainnya merah.
Satu hipotesis mengenai warna biru cincin luar tersebut adalah bahwa ia terdiri atas partikel kecil air es dari permukaan Mab yang cukup kecil untuk menghamburkan cahaya biru. Kontras dengan itu, cincin-cincin dalam planet itu tampak abu-abu.
Pada Desember 2005, Teleskop angkasa Hubble mendeteksi sepasang cincin yang sebelumnya tidak diketahui. Yang terbesar terletak pada dua kali jarak cincin yang telah diketahui dari planet itu. Cincin-cincin baru ini begitu jauh dari planet tersebut hingga mereka disebut sistem cincin "luar".
Hubble juga melihat dua satelit kecil yang salah satunya, Mab, berbagi orbit dengan cincin terluar yang baru ditemukan. Cincin-cincin baru ini membuat jumlah keseluruhan cincin Uranian menjadi 13. Pada April 2006, gambar cincin baru tersebut dengan Observatorium Keck menghasilkan warna cincin-cincin luar: yang terluar biru dan yang lainnya merah.
Satu hipotesis mengenai warna biru cincin luar tersebut adalah bahwa ia terdiri atas partikel kecil air es dari permukaan Mab yang cukup kecil untuk menghamburkan cahaya biru. Kontras dengan itu, cincin-cincin dalam planet itu tampak abu-abu.
Cincin yang Miring
Uniknya, cincin Uranus miring 97,8 derajat dari bidang Tata Surya. Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa cincin (dan planet Uranus itu sendiri) miring lebih dari 90 derajat, bagaimana itu bisa terjadi?
Jika planet-planet di Tata Surya kita berotasi seperti gasing yang berputar termiring-miring relatif terhadap bidang Tata Surya, planet Uranus justru 'menggelinding'. Hal ini membuat satu kutub Uranus menghadap ke Matahari secara terus-menerus sedangkan kutub lainnya menghadap ke arah sebaliknya.
Hanya segaris daerah sempit di sekitar ekuator yang mengalami pergantian siang-malam dengan cepat, namun dengan Matahari sangat rendah dari kaki langit seperti di daerah kutub di Bumi. Pada sisi orbit Uranus yang lain orientasi kutub-kutubnya terhadap Matahari adalah sebaliknya. Tiap kutub terus-menerus disinari Matahari sekitar 42 tahun, diikuti dengan 42 tahun yang gelap.
Uranus berotasi menggelinding diperkirakan akibat suatu peristiwa yang mahadahsyat yang mengubahnya menjadi sebagaimana keadaannya sekarang. Sebagian teori menyatakan bahwa saat pembentukan Tata Surya, cikal bakal planet sebesar Bumi bertumbukan dengan Uranus dan menyebabkan sumbu rotasinya berubah menjadi sangat miring.
Ada juga teori yang tidak melibatkan tumbukan. Simulasi yang dilakukan Boue dan Laskar dari Observatorium Paris menunjukkan bahwa Uranus dahulu sekali punya satelit alami yang sangat besar. Massa satelit alami ini, meskipun hanya 0,1% massa Uranus, mampu menarik sumbu rotasi Uranus dalam waktu jutaan tahun. Lalu, kemana satelit alami ini pergi? Kemungkinan besar 'tertendang' oleh gravitasi ketika planet masif lainnya lewat.
Credit : Infoastronomy
Jumat, 16 September 2016
Mempelajari Bagian Dalam Planet Katai Ceres Melalui Tarikan Gravitasinya
Dari puluhan ribu citra yang dipotret dan dikembalikan ke Bumi oleh wahana antariksa Dawn milik Lembaga Antariksa AS (NASA) yang mengorbit planet katai Ceres, interior atau bagian dalam planet katai tersebut tidak terlihat. Tetapi para ilmuwan memiliki cara tersendiri dengan data yang kuat untuk mempelajari struktur dalam Ceres melalui gerakan orbit Dawn sendiri.
Gravitasi Ceres mendominasi jalur orbit Dawn dalam mengelilingi planet katai terbesar di Tata Surya bagian dalam tersebut, sehingga para ilmuan dapat mengukur variasi gravitasi Ceres dengan melacak perubahan halus dalam gerakan orbit Dawn.
Menggunakan data gravitasi dari Dawn ini, para ilmuan telah berhasil memetakan variasi gravitasi Ceres untuk pertama kalinya dalam sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Nature, yang menyediakan petunjuk untuk mempelajari lebih dalam struktur internal planet kerdil ini.
"Data baru menunjukkan bahwa Ceres memiliki interior yang rapuh," kata Ryan Park, penulis utama penelitian ini dan ilmuan dinamika Tata Surya Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena California, AS.
Medan gravitasi Ceres diukur dengan memonitor sinyal radio yang dikirim ke Dawn, dan kemudian diterima kembali di Bumi oleh Deep Space Network (DSN) NASA. DSN ini adalah kumpulan antena besar yang berada di tiga lokasi berbeda di seluruh dunia yang bekomunikasi dengan wahana antariksa antarplanet. Menggunakan sinyal-sinyal ini, para ilmuan dapat mengukur kecepatan orbit Dawn dengan presisi 0,004 inci (0,1 milimeter) per detik, dan kemudian menghitung rincian medan gravitasi Ceres.
Dari penelitian ini, Ceres diketahui memiliki sifat yang disebut 'Kesetimbangan hidrostatik.; Ini berarti bahwa interior Ceres cukup rapuh. Para ilmuan sampai pada kesimpulan ini dengan membandingkan medan gravitasi Ceres dengan bentuknya. Kesetimbangan hidrostatik Ceres juga adalah salah satu alasan mengapa para astronom mengklarifikasikan Ceres sebagai planet kerdil pada tahun 2006 bersama dengan pluto.
Data menunjukkan bahwa Ceres memiliki komposisi lapisan yang berbeda di setiap kedalaman yang berbeda, dengan lapisan terpadat berada di intinya. Para ilmuwan juga telah menemukan bahwa Ceres kurang padat daripada Bumi, Bulan, asteroid rkasasa Vesta dan benda-benda berbatu lainnya di Tata Surya kita.
Kini wahana antariksa Dawn akan terus mengorbit dan meneliti Ceres. Dawn tiba di orbit Ceres pada 6 Maret 2015 sekitar pukul 19:39 WIB dan menjadikannya wahana antariksa pertama yang mengporbit planet kerdil.
Credit : Infoastronomy
Rabu, 14 September 2016
Mengenal Sosok Al-Biruni, Astronom Muslim yang Membuktikan Bumi Bulat
Bumi serta segala isinya merupakan bidang kajian yang menarik perhatian para ilmuan. Peradaban Islam tercatat lebih awal menguasai ilmu Bumi dibandingkan masyarakat Barat. Ketika Eropa terkungkung dalam 'kegelapan' dan masih meyakini bahwa Bumi itu datar di abad pertengahan, para sarjana Muslim telah membuktikan bahwa Bumi bulat seperti bola.
Wacana bentuk Bumi bulat baru berkembang di Barat pada abad ke-16 M. Adalah Nicolaus Copernicus, bapak astronomi modern, yang mencetuskannya. Di tengah kekuasaan Gereja yang dominan, Copernicus yang lahir di Polandia melawan arus dengan menyatakan bahwa seluruh benda di alam semesta berbentuk bola.
Sepertinya halnya peradaban Barat, masyarakat Tiongkok yang lebih dulu mencapai kejayaan dibandingkan dunia Islam pada awalnya meyakini bahwa Bumi itu datar dan kotak. Orang-orang Tiongkok baru mengubah keyakinannya tentang bentuk Bumi pada abad ke-17 M, setelah berakhirnya era kekuasaan Dinasti Ming. Sejak abad itulah, melalui risalah yang ditulis Xiong Ming-yu berjudul Ge Chi Cao wacana bentuk Bumi seperti bola mulai berkembang di Negeri Tirai Bambu.
Sosok Al Biruni dan Bumi Bulat
Sejarah keemasan Islam mencatat cukup banyak polymath atau Orang yang sangat kompeten tidak hanya dalam satu bidang ilmu, namun dalam beberapa bidang ilmu sekaligus. Salah satu diantaranya adalah Abu Rayhan Muhammad bin Ahmad Al-Biruni, yang hidup antara 973 M sampai 1048 M.
Sebagaimana lazimnya anak-anak di masa itu, Al-Biruni sudah hafal Al-Qur'an sebelum baligh. Tentu saja beliau juga belajar ilmu fiqih dasar dan mempelajarinya dengan serius sehingga pada saat berusia baligh beliau sudah mengenal semua syariat Islam yang wajib diketahui dalam kehidupan sehari-hari. Beliau lalu menekuni berbagai cabang ilmu sesuai minatnya.
Pada usia 17, Al-Biruni sudah menghitung posisi lintang bujur dari Kath, Khwarizm, dengan metode tinggi Matahari. Al-Biruni juga memecahkan persamaan geodesi kompleks untuk menghitung jari-jari Bumi. Dan beliau mendapatkan angka sekitar 6339,9 km, hanya berselisih 16,8 km dari nilai modern yaitu 6356,7 km.
Pada usia 22 tahun, Al-Biruni suddah menulis sejumlmah karya ilmiah, termasuk tentang proyeksi peta, penggunaan sistem koordinat 3D-Cartesian (waktu itu belum disebut Cartesian) dan transformasinya ke sistem koordinat polar.
Untuk pengamatan astronomi, Al-Biruni banyak membuat berbagai instrumen astronomi, seperti alat untuk mencari kiblat atau mengukur saat-saat salat di semua tempat di dunia. Al-Biruni secara tegas membedakan astrologi dari astronomi. Dia menolak astrologi karena tidak empiris tetapi hanya menghubung-hubungkan dengan cara yang tidak logis.
Setelah membaca banyak data hasil pengamatannya, Al-Biruni meyakini bahwa Bumi ini bulat, berputar pada porosnya sehari sekali, dan beredar mengelilingi Matahari setahun sekali. Ini hal yang bertentangan dengan pendapat umum saat itu, namun diyakini Al-Biruni paling dekat dengan data-data empiris.
Dan berbeda dengan Ptolomeus, yang hanya memilih data yang sesuai teorinya, Al-Biruni memperlakukan "error" dengan perlakuan yang lebih ilmiah, termasuk memperbaiki teorinya. Inilah yang kemudian melahirkan dukungannya pada teori heliosentris Copernicus, dan meninggalkan teori geosentris Ptolomeus. Beliau juga mengatakan bahwa orbit planet-planet itu bukan lingkaran, tetapi elips.
Credit : Infoastronomy
Minggu, 11 September 2016
Membandingkan Ukuran Bumi Dengan Planet Jupiter
Sejah Galileo Galilei pertama kali mengamati planet Jupiter pada tahun 1610 menggunakan teleskop yang ia desain sendiri, para ilmuwan dan astronom di dunia telah sangat terpesona oleh planet Jovian yang satu ini. Seperti apa jadinya dika Bumi dibandingkan dengan Jupiter?
Jupiter merupakan planet terbesar di Tata Surya kita. Planet ini merupakan kumpulan besar gulungan gas dan badai yang dahsyat. Ukuran Jupiter hanya sedikit lebih kecil dari ukuran bintang katai coklat, namun Jupiter tidak dapat diklarifikasikan sebagai bintang katai coklat karena tidak memancarkan cahaya sendiri.
Gaya gravitasi Jupiter yang besar juga sukses mengikat lebih dari 60 satelit alami dalam orbit yang mengitarinya. Setidaknya ada 4 satelit alami besar milik Jupiter, yakni Io (diameter 3.642km), Europa (3.122km), Ganymede (5.262km) dan Callisto (4.820km). Keempat satelit ini disebut satelit Galilean karena Galileo menemukannya saat sedang mengamati Jupiter untuk kali pertama.
Ukuran, Massa dan Kepadatan
Bumi memiliki radius rata-rata 6.371km dan massa 5,97 x 10^24kg, sedangkan Jupiter memiliki radius rata-rata 69.911km dan massa 1,8986 x 10^27kg. Sederhananya, Jupiter berdiameter hampir 11 kali diameter Bumi, dan volumenya 1.321 kali lebih besar dari Bumi. Namun, kepadatan Bumi secara signifikan lebih tinggi, karena merupakan planet terestrial (berbatu), yakni 5,514g/cm³, dibandingkan dengan Jupiter yang hanya 1,326 g/cm³.
Karena itu, sebagai planet gas raksasa, Jupiter tidak memiliki permukaan yang padat dan berbatu seperti Bumi, melainkan hanya gas dan gas saja. Diperkirakan tekanan atmosfer Jupiter sama dengan 1 bar, yakni tekanan pada permukaan laut Bumi.
![]() |
| Perbandingan ukuran Jupiter, Bumi dan Bulan. |
Komposisi dan Struktur
Bumi adalah planet terestrial, yang berarti terdiri dari mineral silikat dan logam yang dibedakan antara inti logam dan mantel silikat dan kerak. Inti itu sendiri juga dibedakan, antara inti dalam dan inti luar (yang berputar dalam arah yang berlawanan rotasi Bumi).
Bentuk Bumi sendiri tidak bulat sempurna, melainkan bulat pepat (oblate spheroid), sebuah bentuk bola yang sedikit pipih di kedua kutubnya, sehingga ada semacam tonjolan di sekitar khatulistiwa. Tonjolan di khatulistiwa Bumi ini adalah hasil dari rotasi Bumi, dan menyebabkan diameter di khatulistiwa menjadi 43 kilometer lebih besar dari diameter dari kutub ke kutub.
Sebaliknya, Jupiter tersusun dari materi gas dan cairan yang terbagi antara atmosfer gas di luar dan interior yang lebih padat. Atmosfer luar Jupiter terdiri dari sekitar 88-92% hidrogen dan 8-12% helium dengan sisanya terdiri dari unsur-unsur lain.
Atmosfer mengandung jumlah jejak metana, uap air, amonia dan senyawa berbasis silikon serta jumlah jejak benzena dan hidrokarbon lainnya. Ada juga jejak karbon, etana, hidrogen sulfida, neon, oksigen, fosfin dan sulfur. Kristal amonia beku juga telah diamati di lapisan terluar atmosfer.
Sementara itu, diyakini bahwa inti JUpiter adalah campuran elemen-elemen padat, lapisan di sekitarnya adalah hidrogen metalik cair dengan beberapa helium, dan lapisan luar terutama terbentuk dari molekul hidrogen. Inti Jupiter juga telah dikatehui merupakan inti berbatu, tidak seperti atmosfer luarnya yang hanya gas saja.
Juga seperti Bumi, bentuk Jupiter adalah bulat pepat. Bahkan, pipihnya kutub Jupiter nampak lebih besar daripada Bumi, yakni 0,06487 ± 0,00015, dibandingkan dengan Bumi yang hanya 0,00335. Hal ini disebabkan Jupiter yang terotasi sangat cepat, menyebabkan radius khatulistiwa planet Jupiter sekitar 4600km lebih besar dari diameter dari kutub ke kutub.
Credit : Infoastronomy
Senin, 18 Juli 2016
Bintang Gagal WISE 0855 Yang Memiliki Atmosfer Berair
Para ilmuan telah menemukan bukti kuat untuk keberadaan awan berair pada atmosfer sebuah katai coklat. Penemuan ini adalah penemuan pertama dalam penelitian jenis jenis awan di luar tata surya kita
Katai coklat atau kadang disebut bintang gagal tersebut bernama WISE 0855, ia adalah objek terdingin yang pernah ditemukan di luar tata surya kita. Walau ini adalah penemuan pertama, bukan berarti kita tidak tahu bahwa ada banyak objek semacam ini, katai coklat adalah objek yang redup, dan temuan ini dapat membantu kita memahami lebih lanjut tentang komposisi benda benda gas raksasa mirip Jupiter ini.
"Awalnya kami memang berpikir bahwa benda yang dingin seperti katai coklat ini memiliki awan air di atmosfernya, dan akhirnya kami mendapatkan bukti terbaik untuk dugaan itu." Kata astronom Andrew Skemer dari University of California, Santa Cruz.
Katai coklat WISE 0855 ditemukan pada tahun 2014, dan terletak pada jarak haya 7,2 tahun cahaya dari Bumi (sebuah jarak yang relatif dekat dengan kita, dalam skala kosmik).
Uniknya, WISE 0855 bukan sebuah planet atau bintang. Katai coklat dijuluki 'bintang gagal' karena mereka terlalu besar untuk disebut planet, tetapi terlalu kecil untuk bereaksi fusi nuklir seperti bintang. Walau begitu, katai coklat terbentuk dengan cara yang sama seperti pembentukan bintang (dari keruntuhan gas dan debu akibat gravitasi di ruang angkasa) tetapi sayangnya katai coklat tidak memiliki massa yang cukup untuk memicu atau mempertahankan reaksi nuklir di inti mereka yang membuat bintang bersinar.
Apa yang membuat memperlajari objek seprti WISE 0855 begitu sulit adalah kenyataan bahwa hampir tidak mungkin bagi kita untuk melihatnya dengan menggunakan spektroskop konvesional. Sebab saking redupnya, katai coklat hanya nampak dalam spektrum inframerah, ditambah jaraknya yang teriliunan kilometer jauhnya. Membuatnya nyaris tak terlihat bahkan dengan beberapa teleskop berbasis darat yang paling kuat.
Namun dengan ketekunan, Skemer dan rekan rekan peneliti menemukan cara untuk mendapatkan spektrum inframerah WISE 0855, dengan menggunakan teleskop Gemini North di Hawaii, dan merekam panjang gelombang yang lebih luas (di 5 mikron) dengan yang digunakan salam spektroskopi konvensional pada optik atau panjang gelombang inframerah (kurang dari 2,5 mikron).
"WISE 0855 lima kali lebih redup dari benda lainnya yang pernah terdeteksi dengan spektroskopi berbasis sarat pada panjang gelombang ini," kata Skemer. "Sekarang kami memiliki spektrum, kita bisa benar benar mulai berfikir tentang apa yang terjadi di dalam objek ini. Spektrum kami menunjukkan bahwa WISE 0855 didominasi oleh uap air dan awan, dengan penampilan keseluruhan yang sangat mirip dengan Jupiter."
WISE 0855 memiliki lima kali massa Jupiter, tapi tidak terlalu dingin dibandingkan dengan Jupiter. Diketahui suhu WISE 0855 adalah sekitar -23°C, dibandingkan dengan Jupiter yang mencapai -143°C.
Perbedaan lain antara WISE 0855 dan Jupiter adalah bahwa para peneliti mengatakan bahwa Jupiter memiliki suasana yang lebih bergolak. Atmosfer Jupiter mengandung banyak senyawa fosfin, yang terbentuk di bagian dalam planet dan menciptakan reaksi kimia baru dalam atmosfer luarnya.
Sebaliknya, WISE 0855 tidak menunjukkan adanya senyawa fosfin yang kuat, yang bisa menimbulkan gejolak di atmosfer terluarnya. Temuan ini telah diterbitkan dalam The Astrophysical Journal Letters.
Credit : InfoAstronomy
Langganan:
Postingan (Atom)






