Jumat, 29 Juli 2016

Inilah Yang Terjadi Jika Kita Berdiri Di Permukaan Planet Jupiter


Di bumi, kita telah terbiasa berjalan-jalan dan mampu berdiri di permukaan berbatunya. Namun, di Jupiter yang merupakan planet gas raksasa, pengalaman berdiri di permukaan Bumi akan terasa berbeda. Bagaimana jadinya jika berdiri di permukaan Jupiter?

Mari kita sejenak mengabaikan kondisi ekstrim seperti kuatnya gravitasi, tekanan atmosfer, suhu tinggi dan angin tornado yang ditemukan di planet gas raksasa seperti Jupiter, dan mari kita turun melalui atmosfernya.

Tidak seperti Bumi yang permukaannya berbatu, permukaan Jupiter merupakan hidrogen yang memiliki 60% kepadatan air. Jadi, jika kita berdiri disana, kita akan tenggelam hingga puluhan ribu kilometer sampai mencapai inti Planet Jupiter yang amat sangat luar biasa panas dan berbatu.

Interior Jupiter tersebut belum mampu dipetakan, dan itulah salah satu tujuan ilmiah misi Juno, yang baru mencapai Jupiter pada 4 Juli 2016 lalu. Wahana antariksa Juno akan menggunakan pengukuran gravitasi dan elektromagnetik yang tepat untuk memetakan apa yang terjadi di bawah atmosfer Jupiter.

Seperti yang sudah dipelajari oleh kita di bangku sekolah dasar, Jupiter adalah planet yang benar-benar hangat, dengan bagian atas atmosfer bersuhu sekitar 630°C. Namun, jika kita nekat mendarat di Jupiter lalu terhisap turun karena permukaannya adalah gas, tempratur juga akan semakin turun serta tekanan dan kecepatan angin akan lebih meningkat.

Wahana antariksa Galileo, yang menyelam ke Jupiter pada tahun 1995, langsung mengalami kerusakan alat elektronik sekitar 58 menit ketika berada di kedalaman 156 kilometer di dalam atmosfer Jupiter. Wahana antariksa Galieo tersebut mencatat bahwa ia menerima tekanan 23 atmosfer dan suhu 153°C. Sebuah kombinasi yang terbukti mematikan.

Jadi, mendarat di permukaan Jupiter bukanlah hal yang seharusnya tidak dilakukan, sangat berbahaya. Alih-alih membangun koloni manusia di permukaan planet terbesar di Tata Surya kita tersebut, kita justru akan tewas secara mengenaskan.

Credit : InfoAstronomi

Kamis, 28 Juli 2016

Ini Solusi Untuk Kamu Yang Jenuh Dengan Pekerjaan Tapi Tidak Bisa Resign Begitu Saja

Jenuh dengan pekerjaan memang wajar dirasakan. Apalagi jika kau sudah menggeluti pekerjaan itu dalam jangka waktu yang cukup lama. Rasanya kamu ingin berhenti saja. Tunggu, tapi resign dari pekerjaan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi jika sekarang ini pekerjaanmu sudah cukup mapan dan karir masa depan cukup terjamin. Lalu, Apa yang harus kamu lakukan?


1. Ingat kembali kenapa dulu kamu mencintai pekerjaanmu.

Jika saat ini semangatmu bekerja mulai padam, kamu bisa mengingat kembali motivasi awal kamu dulu. Ingat alasan yang membuatmu mencintai pekerjaanmu yang sekarang. Misalnya saja kamu mencintainya karena ini adalah pekerjaan yang kamu impikan sejak dulu atau justru karena ini merupakan profesi yang sesuai minat dan bakatmu. Percaya, dengan mengingat motivasi awal, rasa penat yang sedang melanda akan teringankan.


2. Selalu ambil liburan di akhir pekan dan manfaatkan jatah cuti tahunan

Jatah hari libur di akhir pekan wajib dimanfaatkan untuk merefresh diri sendiri. Hal ini yang akan membuat semangatmu kembali membara di awal minggu. Selain itu, manfaatkan jatah cuti secara maksimal. Kamu bisa liburan ke luar kota atau ke luar negeri. Rehat sejenak dari kesibukan juga bisa jadi cara paling ampuh untuk membuatmu kembali bertenaga saat akan bekerja.


3. Jangan pernah bekerja atau memikirkan pekerjaan setelah jam kerja selesai.

Mau tahu cara efektif supaya tidak jenuh terhadap pekerjaanmu? Jangan sentuh pekerjaan setelah jam kerja selesai. Disiplin pada diri sendiri dan selalu pulang tepat waktunya. Setelah sampai si runah, nikmati waktumu untuk melakukan hal yang kamu gemari. Jangan pernah jawab telepon dari bos, email dari klien atau bahkan mengerjakan proposal yang masih menumpuk. Ingatlah bahwa masih ada hari esok dan sekarang ini adalah waktu untuk me time dan keluarga.



4. Susun ulang planning mu ke depan, supaya kamu makin termotivasi mengumpulkan uang.

Menyusun rencana jangka panjang bisa jadi cara efektif untuk membuatmu kembali semangat bekerja. Misalnya saja kamu berencana untuk menikah dua tahun lagi, melunasi cicilan motor bahkan hingga memiliki rumah impian lima tahun mendatang. Hal ini yang bisa jadi cambuk pelecutmu untuk kembali termotivasi mengumpulkan uang. Jadi tidak mungkin kamu resign sekarang, karena kamu masih membutuhkan uang.


5. Ingat bahwa kamu bekerja tidak untuk diri sendiri saja, tapi untuk keluarga dan juga orangtua.

Jika terbesit keinginan untuk resign dari perusahaan tempatmu bekerja sekarang, kamu bisa mengingatkan dirimu sendiri. Masih ada orangtua dan juga keluarga yang kebutuhannya harus dipenuhi. Ayah dan ibu pasti akan sedih ketika kamu keluar dari pekerjaan dan menjadi pengangguran.


6. Mulai cintai dan syukuri pekerjaanmu, ingat betapa kamu beruntung punya pekerjaan seperti sekarang.

Ingat kembali, bahwa kamu lebih beruntung dari orang lain. Kenapa? Karena, sekarang ini kamu sudah punya pekerjaan tetap dan tidak jadi pengangguran. Kau harusnya bisa lebih bersyukur terhadap pundi-pundi rupiah yang selalu masuk ke rekening dan mengamankan pengeluaranmu tiap bulan. Ubah pola pikirmu menjadi lebih positif, maka kamu bisa melihat seberapa besar rejeki yang sudah kamu dapatkan selama ini.

Rabu, 27 Juli 2016

Abdullah bin Mas'ud

Orang pertama yang berani membaca Al-Qur'an dengan jahr (keras) setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. "Barang siapa yang suka membaca Al-Qur'an sesegar seperti baru turun, maka bacalah dengan bacaan Ibnu Ummi Abdin." (Muhammad Rasulullah)

Saat itu ia adalah seorang anak kecil yang belum berusia baligh. Ia berasal dari sebuah desa di lereng Mekah yang jauh dari keramaian manusia. Pekerjaannya ialah menggembalakan domba milik salah seorang pembesar Quraisy yang bernama Uqbah bin Abi Muayyath. Kebanyakan orang memanggilnya dengan Ibnu Ummi Abdin. Nama aslinya adalh Abdullah dan nama ayahnya adalah Mas'ud.

Bocah ini mendengar kisah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tersiar di kalangan kaumnya. Namun ia tidak peduli dengan berita tersebut. Karena saat itu ia masih kecil dan terisolir dari masyarakat Mekah. Ia terbiasa untuk keluar rumah pada pagi hari dengan menggembala domba milik Uqbah, dan baru kembali saat malam tiba.

Pada suatu hari bocah yang bernama Abdullah bin Mas'ud ini melihat ada 2 orang pria dewasa yang sedang berjalan ke arahnya dari jauh. Keduanya terlihat letih. Mereka terlihat amat kehausan sehingga kedua bibirnya pun tampak kering.

Sesampainya mereka di hadapan bocah ini maka keduanya mengucapkan salam kepadanya seraya berkata, "Wahai ananda, tolong peraskan susu domba domba ini untuk menghilangkan dahaga dan membasahi tenggorokan kami." Kemudian bocah itu pun berkata, "Aku tidak akan melakukannya. Domba domba ini bukan milikku. Aku hanya dipercayakan untuk menggembalanya saja!"

Kedua pria tadi memungkiri apa yang dikatakan oleh bocah itu, dan tampak dari wajahnya bahwa mereka menerima alasan bocah itu. Lalu salah seorang di antara mereka berkata kepada bocah tadi, "Tunjukkan kepadaku seekor domba jantan."

Maka bocah tersebut menunjuk ke arah seekor domba kecil yang ada di dekatnya. Lalu pria tadi menghampiri dan menangkapnya. Ia mengusap puting kambing dengan tangannya sambil membaca nama Allah. Bocah tadi mengamati apa yang dilakukan pria ini dengan penuh keheranan. "Bagaimana mungkin seekor domba jantan kecil dapat mengeluarkan susu?" Gumamnya.

Akan tetapi, puting susu kambing itu tiba tiba menggelembung, lalu keluarlah susu yang begitu banyak darinya. Lalu pria yang lain mengambil sebuah batu kering dari tanah. Kemudian batu tersebut diisinya dengan susu. Dan keduanya minum dengan batu tersebut. Lalu keduanya memberikan susu itu kepada bocah itu untuk diminum. Ia hampir saja tidak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya.

Setelah merasa puas. Pria yang mendapatkan berkah dengan susu kambing tadi berkata, "Berhentilah." Maka berhentilah susu tersebut sehingga puting kambing kembali seperti sedia kala.

Pada saat itu, bocah itu berkata kepada pria yang penuh berkah tadi, "Ajarkan aku ucapan yang kau baca tadi." Ia menjawab, "Engkau adalah seorang bocah yang terpelajar."

Peristiwa tersebut adalah awal mula Abullah bin Mas'ud mengenal Islam. Karena pria yang penuh berkah tadi tiada lain adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan sahabat yang menyertainya saat itu adalah Abu Bakar As-Shiddiq.

Pada hari itu mereka berdua pergi menuju lereng lereng Mekah, karena menghindari penyiksaan oleh kaum Quraisy.

Tak lama berselang dari peristiwa itu, Abdullah bin Mas'ud menyatakan masuk Islam dan menyerahkan dirinya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk membantu Beliau. Maka Rasulullah menjadikan dia sebagai pembantunya.

Abdullah bin Mas'ud terus mendampingi Rasulullah seperti sebuah bayangan. Ia senantiasa menemani Rasulullah baik dalam kondisi menetap atau saat bepergian. Ia juga mendampingi Rasulullah baik di dalam maupun di luar rumah.

Dialah yang membangunkan Rasulullah saat beliau tidur. Dia yang menutupi Tasukullah bila beliau sedang mandi. Dia yang nemakaikan sandal bila Rasul hendak keluar dan melepaskannya lagi bila Rasulullah hendak masuk ke rumah. Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengizinkan Abdullah bin Mas'ud untuk kerumahnya kapan saja ia mau. Rasullullah membiarkan Abdullah mengetahui rahasia Beliau tanpa pernah merasa resah, sehingga ia dikenal dengan sebutan 'penjaga rahasia Rasulullah.'

Abdullah bin Mas'ud dididik di rumah Rasulullah sehingga ia dapat menyerap petunjuk yang diberikan Rasulullah dan berakhlah seperti akhlak Beliau. Ia mengikuti jejak Rasulullah dalam gerak geriknya, sehingga ada yang mengatakan, 'Dia adalah manusia yang paling dekat kepada Rasul dalam menerima petunjuk dan akhlaknya.'

Abdullah bin Mas'ud belajar langsung di bawah bimbingan Rasulullah sehingga ia menjadi sahabat yang paling paham akan bacaan Al-Qur'an. Yang paling mengerti akan maknanya dan paling tahu akan syariat Allah.

Tidak ada kisah yang paling menunjukkan hal ini kecuali cerita seorang pria yang datang kepada Umar bin Khattab saat ia sedang wukuf di Arafah.

Pria ini berkata kepada Umar, "Wahai Amirul Mu'minin, aku datang dari Kufah, di sana ada seorang pria yang menduktekan mushaf Al-Qur'an di luar kepala (saking hapalnya)." Mendengar perkataan itu, Umar pun amat marah. Ia berkata, "Celaka kamu, siapakah dia?" Pria tadi menjawab, "Abdullah bin Mas'ud."

Amarah Umar langsung mereda dan kembali lagi dalam kondisi semua. Lalu ia berujar, "Celaka kamu, Demi Allah aku tidak tahu ada orang yang masih tersisa yang lebih berakhlak dalam urusan ini selain dia. Aku akan bercerita kepadamu tentang hal ini."

Kemudian Umar pun memulai ceritanya, "Suatu malam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berbicara dan bermusyawarah dengan Abu Bakar seputar permasalahan kaum Muslimin. Saat itu aku bersama mereka. Kemudian Rasulullah keluar dan kami ikut keluar bersamanya. Ternyata kami didapati ada seorang pria yang sedang shalat di masjid dan kami tidak tahu siapa dia sebenarnya. Rasulullah diam sejenak untuk mendengarkan bacaannya. Kemudian Beliau menoleh ke arah kami seraya bersabda, 'Siapa yang ingin membaca Al-Qur'an sesegar seperti baru diturunkan, maka bacalah seperti bacaan Ibnu Ummi Abdin.'

Kemudian terlihat Abdullah bin Mas'ud duduk dan berdo'a. Lalu Rasulullah berkata kepadanya, 'Mintalah pasti engkau akan diberi. Mintalah pasti engkau akan diberi.'

Dalam hati aku berkata, 'Demi Allah, besok pagi aku akan mendatangi Abdullah bin Mas'ud dan aku akan menyampaikan kabar gembira bahwa Rasulullah mengaminkan di'anya.' Keesokan harinya aku mendatangi Abdullah untuk menyampaikan kabar gembira ini, namun Abu Bakar telah mendahuluiku untuk memberi kabar gembira ini kepadanya.

Demi Allah, tidak pernah aku mengalahkan Abu Bakar dalam kebaikan, pasti ia sudah lebih dahulu melakukannya."

Ilmu Abdullah bin Mas'ud tentang Kitabullah telah sampai pada tingkatan sebagaimana yang ia katakan, "Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya. Tidak ada satu ayatpun dari Kitabullah yang turun kecuali aku mengetahui dimana ia diturunkan, dan aku mengetahui dalam peristiwa apa ia diturunkan. Jika aku tahu ada seseorang yang lebih mengerti Kitabullah dariku, jika mungkin bisa ditempuh pasti akan kudatangi ia."

Abdullah bin Mas'ud tidak berlebihan saat ia berkata tentang dirinya. Inilah kisah Umar bin Khattab yang berjumpa dengan sebuah kafilah dalam sebuah perjalanan, dan malam sudah meliputi siang sehingga membuat kafilah tadi kegelapan.

Dalam kafilah tersebut terdapat Abdullah bin Mas'ud. Maka Umar bin Kattab memerintahkan seseorang untuk memanggil mereka. Lalu utusan itu bertanya, "Dari mana kafilah ini?" Maka Abdullah bin Mas'ud menjawab, "Minal fajjil amiq (Dari lembah yang jauh)" Utusan itu kembali bertanya, "Hendak kemana kalian?" Abdullah menjawab, "Al Baital atiq (Ke rumah tua / Ka'bah)" Maka Umar berkata, "Dalam kafilah ini ada seorang yang Alim."

Umar pun memerintahkan seseorang untuk bertanya, "Ayat Al-Qur'an mana yang paling agung?" Maka Abdullah menjawab, "Allahu La Ilaaha Illa Huwa Al Hayyu Al Qayuyum, La Takhudzuhu Sinatun Wa La Naum (Allah, tiada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup dan Maha Berdiri. Ia tidak pernah merasa ngantuk dan tertidur)."

Umar memerintahkan, "Tanyakan kepada mereka ayat Al-Qur'an mana yang paling bijak?" Maka Abdullah menjawab, "Inna Allaha Ya'muru Bil Adli Wa Ihsan Wa Iitai Dzil Qurba (Sungguh Allah memerintahkan untuk berbuat adil, baik dan memberikan bantuan kepada kerabat terdekat)."

Umar lalu memerintahkan, "Tanyakan kepada mereka, ayat Al-Qur'an mana yang paling lengkap?" Abdullah menjawab, "Fa Man Ya'mal Mitsqala Dzarratin Khayram Yarahu, Wa Man Ya'mal Mitsqala Dzarrarin Syarran Yarahu (Siapa orang yang melakukan kebaikan seberat biji dzarrah maka ia akan melihatnya. Siapa orang yang melakukan keburukan seberat biji dzarrah maka ia akan melihatnya."

Umar memerintahkan, "Tanyakan kepada mereka, ayat Al-Qur'an mana yang paling membuat takut?" Abdullah menjawab, "Laisa Bi Amaniyikun Wa La Amaniyi Ahlil Kitab Man Ya'mal Suu'an Yujza Bihi Wa La Yajid Lahu Min Duunillahi Waliyyan Wa La Nashiran ((Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan angan ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah)."

Umar lalu memerintahkan, "Tanyakan kepada mereka, ayat Al-Qur'an mana yang paling memberi harapan?" Abdullah menjawab, "Qul Ya Ibadiya Alladzina Asradu Ala Anfusihim Wa La Taqnatuu Min Tahmatillah Innallaha Yaghfiru Adz Dzuuuba Jamiian. Innahu Huwa Al Ghafuur Al Rahim (Katakanlah, 'Hai hamba hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang)."

Umar memerintahkan, "Apakah ada Abdullah bin Mas'ud bersama kalian?" Maka rombongan tersebut serempak menjawab, "Benar."

Abdullah bin Mas'ud tidak hanya pandai, mengerti Al-Qur'an, taat beribadah dan zuhud saja. Akan tetapi ia bahkan adalah sosok yang kuat, tegar, mujahid yang pantang mundur jika berperang.

Dalam hal ini sebagai buktinya cukup dengan pernyataan bahwa dia adalah muslim pertama di muka bumi setelah Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam yang berani membacakan Al-Qur'an dengan terang terangan.

Pada suatu hari pada sahabat Rasulullah tengah berkumpul di Mekah. Saat itu mereka adalah kelompok minoritas yang selalu tertindas. Mereka berkata, "Demi Allah, kaum Quraisy belum pernah mendengar Al-Qur'an dibacakan dengan keras kepada mereka. Siapakah orang yang berani membacakannya kepada mereka?"

Maka Abdullah bin Mas'ud berkata, "Aku yang akan membacakan Al-Qur'an kepada mereka."

Maka para sahabat tadi menukas, "Kami khawatir mereka akan mencelakaimu. Yang kami inginkan adalah seseorang yang memiliki keluarga besar yang dapat melindungi dan menjaganya dari kejahatan mereka, bila mereka berniat melakukannya."

Abdullah menjawab, "Biarkan aku melakukannya, karena Allah akan menjaga dan melindungiku."

Kemudian ia pergi ke Masjidil Haram dan ia berjalan ke arah makam Ibrahim pada waktu dhuha. Saat itu suku Quraisy sedang duduk disekeliling Ka'bah. Abdullah lalu berdiri di depan makam Ibrahim dan membacakan dengan suara keras, "Bismillahirrahmanirrahim, Ar Rahman, Allamal Qur'an, Khalaqal Insana, Allamahul Bayan ((Tuhan) yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur'an. Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara)." Ia masih meneruskan bacaannya.

Mendengar bacaan itu mau tak mau orang orang Quraisy pun mulai meresapi bacaannya. Mereka berkata, "Apa yang sedang dibaca oleh Ibnu Ummi Abdin? Celaka dia! Dia sedang membaca sebagian ayat yang dibawa oleh Muhammad!"

Mereka pun langsung menghampiri Abdullah dan memukuli wajahnya. Namun, ia masih saja meneruskan bacaannya sehingga batas yang Allah tentukan. Kemudian ia datang menghampiri para sahabatnya dan darah pun mengalir dari tubuhnya. Para sahabat berkata, "Inilah yang kami khawatirkan pada dirimu."

Abdullah menjawab, "Demi Allah, mulai saat ini tidak ada yang lebih berat dari pada musuh Allah. Jika kalian mau, besok pagi aku akan membuat mereka seperti ini." Para sahabat menjawab, "Jangan, cukuplah karena engkau telah berani membacakan kepada mereka apa yang mereka benci."

Abdullah bin Mas'ud masih hidup hingga masa khalifah Utsman bin Affan. Saat ia mendekati ajalnya, Utsman menjenguknya lalu bertanya, Apa yang kau keluhkan?" Ia menjawab, "Dosa dosaku." Utsman bertanya, "Apa yang kau inginkan?" Ia menjawab, "Rahmat Tuhanku." Utsman bertanya, "Apakah engkau menginginkan jatahmu yang selalu kau tolak sejak bertahun-tahun lalu?" Ia menjawab, "Aku tidak memerlukannya." Utsman berkata, "Itu akan bermanfaat bagi putri-putrimu sepeninggalanmu nanti." Ia berkata, "Apakah engkau khawatir anak-anakku menjadi faqir? Aku telah memerintahkan mereka untuk membaca surat Al-Waqiah setiap malam. Aku pernah mendengar sabda Rasulullah, ' Siapa yang membaca surat Al-Waqiah seriap malam, maka ia tidak akan terkena kefakiran untuk selamanya."

Begitu malam tiba, Abdullah bin Mas'ud kembali ke pangkuan Illahi. Lisannya basah dengan dzikir kepada Allah. Jenazahnya dishalatkan oleh ribuan kaum Muslimin, termasuk didalamnya Zubeir bin Awwam. Kemudian ia dimakamkan di Baqi. Semoga Allah merahmatinya.