Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2016

Abdullah bin Rawahah

Saat itu, Rasulullah sedang suduk di suatu datatan tinggi di kota Mekah, menyambut para utusan yang datang dari Yastrib (Madinah) dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui kaum Quraisy. Mereka yang datang ini tersiri dari 12 orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan sebutan kaum Anshar (penolong Rasul)

Mereka akan berbaiat kepada Rasulullah, yang kelak disebut dengan Bai'at Aqabah Ula (pertama). Merekalah pembawa dan penyiar Islam pertama ke Yatsrib. Dan bai'at merekalah yang membuka jalan bagi hijrahnya Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya membawa kemajuan bagi Islam. Salah seorang dari utusan yang dibai'at itu adalah Abdullah bin Rawahah.

Ibnu Rawahah adalah seorang penulis dan penyair ulung. Untaian syair-syairnya begitu kuat dan indah didengar. Sejak memeluk Islam, ia membangkitkan kemampuan bersyairnya untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Rasulullah sangat menyukai dan menikmati syair-syairnya, serta  sering menganjurkan kepadanya untuk lebih tekun lagi membuat syair.

Pada suatu hari, Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah. Lalu Nabi bertanya kepadanya "Apa yang kau lakukan jika hendak mengucapkan syair?"

Abdullah menjawab, "Kurenungkan dulu, kemudian baru kuucapkan."

Ia kemudian mengucapkan syair tanpa pikir panjang. "Wahai putra Hasyim, sungguh Allah telah melebihkanmu keutamaan, di mana orang lain takkan iri. Dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakini pada dirimu. Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka. Seandainya engkau bertanya dan memimta pertolongan kepada mereka untuk memecahkan persoalan, tiadalah mereka hendak menjawab atau membela. Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang engkau bawa. Sebagaimana ia telah mengukuhkan dan memveri pertolongan kepada Musa."

Mendengar itu, Rasulullah gembira dan ridha kepadanya. Beliau bersabda, "Dan kamu pun akan diteguhkan Allah."

Ketika Rasulullah sedang thawaf di Baitullah pada Umrah Qadha, Ibnu Rawahah berada di depan beliau sambil berdyair, "Oh Tuhan, kalaulah tidak kepada Engkau, niscaya kami tidaklah akan mendapat petunjuk, tidak akan bersedekah dan shalat. Maka mohon turunkan sakinah atas kamu dan teguhkan pendirian kami jika musuh datang menghadang. Sesungguhnya orang-orang yang telah aniaya terhadap kami, bila mereka membuat fitnah, akan kamu tolak dan kami tentang."

Suatu ketika Abdullah bin Rawahah sangat berduka dengan turunnya ayat "Dan para penyair, banyak pengikut mereka orang-orang sesat." (QS Asy-Syu'ara: 224).

Namun kedukaanbya terhibur dengan turunnya ayat lain, "Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman, beramal saleh, banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya." (QS Asy-Syu'ara: 227)

Ketika kaum Muslimin terjun ke medan perang demi membela kalimat Allah, Abdullah bin Rawahah turut tampil membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah dan Khaibar. Ia menjadikan kalimat syairnya sebagai slogan perjuangan. "Wahai diri! Seandainya kamu tidak tewas terbunuh dalam perang, maka kamu akan mati juga!"

Pada waktu perang Mu'tab, balatentara Romawi sedemikian besarnya, hampir 200.000 orang. Sementara barisan kaum Muslimin sangat sedikit. Ketika melihat besarnya pasukan musuh, salah seorang beekata, "Sebaiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jumlah musuh yang besar. Mungkin kita akan dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperhatikan tetap maju maka kita patuhi."

Namun Abdullah bin Rawahah berdiri di depan barisan pasukan Muslim. "Kawan-kawan sekalian," teriaknya, "Demi Allah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasarkan bilangan, kekuatan atau jumlah pasukan kita. Tapi kita memerangi mereka demi mempertahankan agama kita ini, yang dengan memeluknya, kita dimuliakan Allah. Ayo, maju! Salah satu dari dua kebaikan pasri kita raih. Kemenangan atau syahid di jalan Allah."

Dengan bersorak-sorai, kaum Muslimin yang berjumlah sedikit namun besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak, "Sungguh, demi Allah, benar apa yang dikatakan Ibnu Rawahah."

Perang pun berkecamuk. Pemimpin pasukan pertama, Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid. Demikian pula dengan pemimpin kedua, Ja'far bin Abi Thalib. Abdullah bin Rawahah kemudian meraih janji perang dari tangan Ja'far dan terus memimpin pasukan. Ia pun terus menerjang barisan tentara musuh yang menyerbu bak air bah. Abdullah bin Rawahah pun gugur sebagai syahid, menyusul sua sahabatnya, Zais san Ja'far.

Pada saat pertempuran berlecamuk dengan sengit si Balqa, bumi Syam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tengah berkumpul dengan para sahabat dalam suatu majelis. Tiba-tiba beliau terdiam, dan air mata menetes di pipinya. Rasulullah memandang para sahabatnya lalu berkata, "Panji perang dipegang oleh Zaid bib Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Ha'far, ia bertempur dan syahid juga. Kemudian panji itu dipegang oleh Abdullah bin Rawahah dan ia bertempur, lalu gugur sebagai syahid."

Rasulullah kemudian terdiam sebentar, sementara nata beliau masih berkaca-kaca, menyiaratkan kebahagiaan, ketentraman dan kerinduan. Kemudian beliau bersabda, "Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku si surga."

Rabu, 27 Juli 2016

Abdullah bin Mas'ud

Orang pertama yang berani membaca Al-Qur'an dengan jahr (keras) setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. "Barang siapa yang suka membaca Al-Qur'an sesegar seperti baru turun, maka bacalah dengan bacaan Ibnu Ummi Abdin." (Muhammad Rasulullah)

Saat itu ia adalah seorang anak kecil yang belum berusia baligh. Ia berasal dari sebuah desa di lereng Mekah yang jauh dari keramaian manusia. Pekerjaannya ialah menggembalakan domba milik salah seorang pembesar Quraisy yang bernama Uqbah bin Abi Muayyath. Kebanyakan orang memanggilnya dengan Ibnu Ummi Abdin. Nama aslinya adalh Abdullah dan nama ayahnya adalah Mas'ud.

Bocah ini mendengar kisah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tersiar di kalangan kaumnya. Namun ia tidak peduli dengan berita tersebut. Karena saat itu ia masih kecil dan terisolir dari masyarakat Mekah. Ia terbiasa untuk keluar rumah pada pagi hari dengan menggembala domba milik Uqbah, dan baru kembali saat malam tiba.

Pada suatu hari bocah yang bernama Abdullah bin Mas'ud ini melihat ada 2 orang pria dewasa yang sedang berjalan ke arahnya dari jauh. Keduanya terlihat letih. Mereka terlihat amat kehausan sehingga kedua bibirnya pun tampak kering.

Sesampainya mereka di hadapan bocah ini maka keduanya mengucapkan salam kepadanya seraya berkata, "Wahai ananda, tolong peraskan susu domba domba ini untuk menghilangkan dahaga dan membasahi tenggorokan kami." Kemudian bocah itu pun berkata, "Aku tidak akan melakukannya. Domba domba ini bukan milikku. Aku hanya dipercayakan untuk menggembalanya saja!"

Kedua pria tadi memungkiri apa yang dikatakan oleh bocah itu, dan tampak dari wajahnya bahwa mereka menerima alasan bocah itu. Lalu salah seorang di antara mereka berkata kepada bocah tadi, "Tunjukkan kepadaku seekor domba jantan."

Maka bocah tersebut menunjuk ke arah seekor domba kecil yang ada di dekatnya. Lalu pria tadi menghampiri dan menangkapnya. Ia mengusap puting kambing dengan tangannya sambil membaca nama Allah. Bocah tadi mengamati apa yang dilakukan pria ini dengan penuh keheranan. "Bagaimana mungkin seekor domba jantan kecil dapat mengeluarkan susu?" Gumamnya.

Akan tetapi, puting susu kambing itu tiba tiba menggelembung, lalu keluarlah susu yang begitu banyak darinya. Lalu pria yang lain mengambil sebuah batu kering dari tanah. Kemudian batu tersebut diisinya dengan susu. Dan keduanya minum dengan batu tersebut. Lalu keduanya memberikan susu itu kepada bocah itu untuk diminum. Ia hampir saja tidak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya.

Setelah merasa puas. Pria yang mendapatkan berkah dengan susu kambing tadi berkata, "Berhentilah." Maka berhentilah susu tersebut sehingga puting kambing kembali seperti sedia kala.

Pada saat itu, bocah itu berkata kepada pria yang penuh berkah tadi, "Ajarkan aku ucapan yang kau baca tadi." Ia menjawab, "Engkau adalah seorang bocah yang terpelajar."

Peristiwa tersebut adalah awal mula Abullah bin Mas'ud mengenal Islam. Karena pria yang penuh berkah tadi tiada lain adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan sahabat yang menyertainya saat itu adalah Abu Bakar As-Shiddiq.

Pada hari itu mereka berdua pergi menuju lereng lereng Mekah, karena menghindari penyiksaan oleh kaum Quraisy.

Tak lama berselang dari peristiwa itu, Abdullah bin Mas'ud menyatakan masuk Islam dan menyerahkan dirinya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk membantu Beliau. Maka Rasulullah menjadikan dia sebagai pembantunya.

Abdullah bin Mas'ud terus mendampingi Rasulullah seperti sebuah bayangan. Ia senantiasa menemani Rasulullah baik dalam kondisi menetap atau saat bepergian. Ia juga mendampingi Rasulullah baik di dalam maupun di luar rumah.

Dialah yang membangunkan Rasulullah saat beliau tidur. Dia yang menutupi Tasukullah bila beliau sedang mandi. Dia yang nemakaikan sandal bila Rasul hendak keluar dan melepaskannya lagi bila Rasulullah hendak masuk ke rumah. Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengizinkan Abdullah bin Mas'ud untuk kerumahnya kapan saja ia mau. Rasullullah membiarkan Abdullah mengetahui rahasia Beliau tanpa pernah merasa resah, sehingga ia dikenal dengan sebutan 'penjaga rahasia Rasulullah.'

Abdullah bin Mas'ud dididik di rumah Rasulullah sehingga ia dapat menyerap petunjuk yang diberikan Rasulullah dan berakhlah seperti akhlak Beliau. Ia mengikuti jejak Rasulullah dalam gerak geriknya, sehingga ada yang mengatakan, 'Dia adalah manusia yang paling dekat kepada Rasul dalam menerima petunjuk dan akhlaknya.'

Abdullah bin Mas'ud belajar langsung di bawah bimbingan Rasulullah sehingga ia menjadi sahabat yang paling paham akan bacaan Al-Qur'an. Yang paling mengerti akan maknanya dan paling tahu akan syariat Allah.

Tidak ada kisah yang paling menunjukkan hal ini kecuali cerita seorang pria yang datang kepada Umar bin Khattab saat ia sedang wukuf di Arafah.

Pria ini berkata kepada Umar, "Wahai Amirul Mu'minin, aku datang dari Kufah, di sana ada seorang pria yang menduktekan mushaf Al-Qur'an di luar kepala (saking hapalnya)." Mendengar perkataan itu, Umar pun amat marah. Ia berkata, "Celaka kamu, siapakah dia?" Pria tadi menjawab, "Abdullah bin Mas'ud."

Amarah Umar langsung mereda dan kembali lagi dalam kondisi semua. Lalu ia berujar, "Celaka kamu, Demi Allah aku tidak tahu ada orang yang masih tersisa yang lebih berakhlak dalam urusan ini selain dia. Aku akan bercerita kepadamu tentang hal ini."

Kemudian Umar pun memulai ceritanya, "Suatu malam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berbicara dan bermusyawarah dengan Abu Bakar seputar permasalahan kaum Muslimin. Saat itu aku bersama mereka. Kemudian Rasulullah keluar dan kami ikut keluar bersamanya. Ternyata kami didapati ada seorang pria yang sedang shalat di masjid dan kami tidak tahu siapa dia sebenarnya. Rasulullah diam sejenak untuk mendengarkan bacaannya. Kemudian Beliau menoleh ke arah kami seraya bersabda, 'Siapa yang ingin membaca Al-Qur'an sesegar seperti baru diturunkan, maka bacalah seperti bacaan Ibnu Ummi Abdin.'

Kemudian terlihat Abdullah bin Mas'ud duduk dan berdo'a. Lalu Rasulullah berkata kepadanya, 'Mintalah pasti engkau akan diberi. Mintalah pasti engkau akan diberi.'

Dalam hati aku berkata, 'Demi Allah, besok pagi aku akan mendatangi Abdullah bin Mas'ud dan aku akan menyampaikan kabar gembira bahwa Rasulullah mengaminkan di'anya.' Keesokan harinya aku mendatangi Abdullah untuk menyampaikan kabar gembira ini, namun Abu Bakar telah mendahuluiku untuk memberi kabar gembira ini kepadanya.

Demi Allah, tidak pernah aku mengalahkan Abu Bakar dalam kebaikan, pasti ia sudah lebih dahulu melakukannya."

Ilmu Abdullah bin Mas'ud tentang Kitabullah telah sampai pada tingkatan sebagaimana yang ia katakan, "Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya. Tidak ada satu ayatpun dari Kitabullah yang turun kecuali aku mengetahui dimana ia diturunkan, dan aku mengetahui dalam peristiwa apa ia diturunkan. Jika aku tahu ada seseorang yang lebih mengerti Kitabullah dariku, jika mungkin bisa ditempuh pasti akan kudatangi ia."

Abdullah bin Mas'ud tidak berlebihan saat ia berkata tentang dirinya. Inilah kisah Umar bin Khattab yang berjumpa dengan sebuah kafilah dalam sebuah perjalanan, dan malam sudah meliputi siang sehingga membuat kafilah tadi kegelapan.

Dalam kafilah tersebut terdapat Abdullah bin Mas'ud. Maka Umar bin Kattab memerintahkan seseorang untuk memanggil mereka. Lalu utusan itu bertanya, "Dari mana kafilah ini?" Maka Abdullah bin Mas'ud menjawab, "Minal fajjil amiq (Dari lembah yang jauh)" Utusan itu kembali bertanya, "Hendak kemana kalian?" Abdullah menjawab, "Al Baital atiq (Ke rumah tua / Ka'bah)" Maka Umar berkata, "Dalam kafilah ini ada seorang yang Alim."

Umar pun memerintahkan seseorang untuk bertanya, "Ayat Al-Qur'an mana yang paling agung?" Maka Abdullah menjawab, "Allahu La Ilaaha Illa Huwa Al Hayyu Al Qayuyum, La Takhudzuhu Sinatun Wa La Naum (Allah, tiada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup dan Maha Berdiri. Ia tidak pernah merasa ngantuk dan tertidur)."

Umar memerintahkan, "Tanyakan kepada mereka ayat Al-Qur'an mana yang paling bijak?" Maka Abdullah menjawab, "Inna Allaha Ya'muru Bil Adli Wa Ihsan Wa Iitai Dzil Qurba (Sungguh Allah memerintahkan untuk berbuat adil, baik dan memberikan bantuan kepada kerabat terdekat)."

Umar lalu memerintahkan, "Tanyakan kepada mereka, ayat Al-Qur'an mana yang paling lengkap?" Abdullah menjawab, "Fa Man Ya'mal Mitsqala Dzarratin Khayram Yarahu, Wa Man Ya'mal Mitsqala Dzarrarin Syarran Yarahu (Siapa orang yang melakukan kebaikan seberat biji dzarrah maka ia akan melihatnya. Siapa orang yang melakukan keburukan seberat biji dzarrah maka ia akan melihatnya."

Umar memerintahkan, "Tanyakan kepada mereka, ayat Al-Qur'an mana yang paling membuat takut?" Abdullah menjawab, "Laisa Bi Amaniyikun Wa La Amaniyi Ahlil Kitab Man Ya'mal Suu'an Yujza Bihi Wa La Yajid Lahu Min Duunillahi Waliyyan Wa La Nashiran ((Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan angan ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah)."

Umar lalu memerintahkan, "Tanyakan kepada mereka, ayat Al-Qur'an mana yang paling memberi harapan?" Abdullah menjawab, "Qul Ya Ibadiya Alladzina Asradu Ala Anfusihim Wa La Taqnatuu Min Tahmatillah Innallaha Yaghfiru Adz Dzuuuba Jamiian. Innahu Huwa Al Ghafuur Al Rahim (Katakanlah, 'Hai hamba hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang)."

Umar memerintahkan, "Apakah ada Abdullah bin Mas'ud bersama kalian?" Maka rombongan tersebut serempak menjawab, "Benar."

Abdullah bin Mas'ud tidak hanya pandai, mengerti Al-Qur'an, taat beribadah dan zuhud saja. Akan tetapi ia bahkan adalah sosok yang kuat, tegar, mujahid yang pantang mundur jika berperang.

Dalam hal ini sebagai buktinya cukup dengan pernyataan bahwa dia adalah muslim pertama di muka bumi setelah Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam yang berani membacakan Al-Qur'an dengan terang terangan.

Pada suatu hari pada sahabat Rasulullah tengah berkumpul di Mekah. Saat itu mereka adalah kelompok minoritas yang selalu tertindas. Mereka berkata, "Demi Allah, kaum Quraisy belum pernah mendengar Al-Qur'an dibacakan dengan keras kepada mereka. Siapakah orang yang berani membacakannya kepada mereka?"

Maka Abdullah bin Mas'ud berkata, "Aku yang akan membacakan Al-Qur'an kepada mereka."

Maka para sahabat tadi menukas, "Kami khawatir mereka akan mencelakaimu. Yang kami inginkan adalah seseorang yang memiliki keluarga besar yang dapat melindungi dan menjaganya dari kejahatan mereka, bila mereka berniat melakukannya."

Abdullah menjawab, "Biarkan aku melakukannya, karena Allah akan menjaga dan melindungiku."

Kemudian ia pergi ke Masjidil Haram dan ia berjalan ke arah makam Ibrahim pada waktu dhuha. Saat itu suku Quraisy sedang duduk disekeliling Ka'bah. Abdullah lalu berdiri di depan makam Ibrahim dan membacakan dengan suara keras, "Bismillahirrahmanirrahim, Ar Rahman, Allamal Qur'an, Khalaqal Insana, Allamahul Bayan ((Tuhan) yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur'an. Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara)." Ia masih meneruskan bacaannya.

Mendengar bacaan itu mau tak mau orang orang Quraisy pun mulai meresapi bacaannya. Mereka berkata, "Apa yang sedang dibaca oleh Ibnu Ummi Abdin? Celaka dia! Dia sedang membaca sebagian ayat yang dibawa oleh Muhammad!"

Mereka pun langsung menghampiri Abdullah dan memukuli wajahnya. Namun, ia masih saja meneruskan bacaannya sehingga batas yang Allah tentukan. Kemudian ia datang menghampiri para sahabatnya dan darah pun mengalir dari tubuhnya. Para sahabat berkata, "Inilah yang kami khawatirkan pada dirimu."

Abdullah menjawab, "Demi Allah, mulai saat ini tidak ada yang lebih berat dari pada musuh Allah. Jika kalian mau, besok pagi aku akan membuat mereka seperti ini." Para sahabat menjawab, "Jangan, cukuplah karena engkau telah berani membacakan kepada mereka apa yang mereka benci."

Abdullah bin Mas'ud masih hidup hingga masa khalifah Utsman bin Affan. Saat ia mendekati ajalnya, Utsman menjenguknya lalu bertanya, Apa yang kau keluhkan?" Ia menjawab, "Dosa dosaku." Utsman bertanya, "Apa yang kau inginkan?" Ia menjawab, "Rahmat Tuhanku." Utsman bertanya, "Apakah engkau menginginkan jatahmu yang selalu kau tolak sejak bertahun-tahun lalu?" Ia menjawab, "Aku tidak memerlukannya." Utsman berkata, "Itu akan bermanfaat bagi putri-putrimu sepeninggalanmu nanti." Ia berkata, "Apakah engkau khawatir anak-anakku menjadi faqir? Aku telah memerintahkan mereka untuk membaca surat Al-Waqiah setiap malam. Aku pernah mendengar sabda Rasulullah, ' Siapa yang membaca surat Al-Waqiah seriap malam, maka ia tidak akan terkena kefakiran untuk selamanya."

Begitu malam tiba, Abdullah bin Mas'ud kembali ke pangkuan Illahi. Lisannya basah dengan dzikir kepada Allah. Jenazahnya dishalatkan oleh ribuan kaum Muslimin, termasuk didalamnya Zubeir bin Awwam. Kemudian ia dimakamkan di Baqi. Semoga Allah merahmatinya.

Selasa, 19 Juli 2016

Abdullah bin Amr bin Ash

Abdullah bin Amr bin Ash, ada yang mengatakan bahwa namanya adalah Al Ash. Ketika beliau masuk Islam, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mengubah nama beliau dengan Abdullah. Gelar beliau adalah Abu Muhammad atau ada pula yang mengatakan Abdurrahman atau Abu Nushair Al Quraisy As Sahmi.

Beliau adalah sosok mujahid yang tangguh, tinggi, gemuk dan berwajah kemerah merahan dan juga putih rambut dan jenggotnya. Ketika usianya telah lanjut, kedua mata beliau buta. Abdullah bin Amr adalah orang yang alim, shalih, kuat dan bersemangat dalam beribadah. Beliau adalah sahabat Rasulullah, demikian pula ayahnya, bahkan beliau lebih dahulu masuk Islam sebelum ayahnya. Beliau dikenal sangat rajin membaca Al-Qur'an, tiada punya rasa bosan. Abdullah bin Amr memang dikenal sangat rajin beribadah, baik sholat, puasa, membaca Al-Qur'an maupun sholat malam, sampai beliau berlebihan dalam menjalankannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun memanggil Abdullah dan diperintahkannya agar tidak terlalu berlebihan dalam beribadah. Dan beliau bersabda, "Aku puasa dan berbuka, bangun shalat malam dan tidur juga menikahi wanita, maka yang tidak suka sunahku tidaklah termasuk golonganku."

Abdullah bin Amr ini semenjak masuk Islam, pertama tama yang menjadi pusat perhatiannya adalah Al-Qur'an yang diturunkan secara berangsur angsur. Setiap turun ayat maka dihafalkan dan diusahakan untuk memahaminya, hingga setelah semuanya selesai dan sempurna beliau pun telah hafal keseluruhannya. Dan beliau menghafalkan itu bukanlah hanya sekedar mengingat, akan tetapi dihafalkan dengan tujuan dapat dipergunakan untuk memupuk jiwanya, dan kemudian menjadi hamba Allah yang taat.

Abdullah bin Amr peenah berkata, "Kami telah mengumpulkan Al-Qur'an kemudian kami membaca keseluruhannya dalam waktu semalam." Memang beliau dikaruniakan amal yang sempurna, cerdas, semangat dalam mencari ilmu dari Nabi, rajin dan tekun mencatat. Ia pun memiliki ilmu dan amal yang mapan.

Abu Hurairah pernah berkata, "Tidak ada seorangpun dari shabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang lebih banyak haditsnya dari pada kami kecuali Abdullah bin Amr, karena beliau menulis dan kami tidak menulis."

Diantara keistimewaan beliau adalah bahwa beliau sebaik baik ahli bait. Dan ketika berada di rumah Rasulullah, Rasul bertanya, "Tahukah kamu siapa yang bersama kami di rumah?" Kami berkata, "Siapa Rasulullah?" Beliau menjawab Jibril. Kami berkata, "Assalamualaika yaa Jibril warahmatullah." Kemudian Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Jibril telah menjawab salam kamu." (HR Tabrani)

Beliau wafat pada malam hari di usianya yang ke 72 tahun, bertepatan dengan tahun ke 65 atau 63 hijriah dan dimakamkan di rumahnya sendiri, karena terjadinya kerusuhan waktu itu.

Abdullah bin Amr meriwayatkan hadits dari Umar, Abu Darda, Muadz bin Jabal, Abdurahman bin Auf dan beberapa yang lain. Yang meriwayatkan dirinya antara lain Abdullah bin Umar bin Khattab, As Sa'id bin Yazid, Sa'ad bin Musayyab, Thawus dan Ikrimah.

Sanad paling shahih yang berpangkal darinya ialah yang diriwayatkan oleh Amr bin Syu'aib dari ayahnya dan kakeknya Abdullah. Abdullah bin Amr wafat pada tahun 63 H pada malam pengepungan Al-Fusthath

Minggu, 17 Juli 2016

Amr bin Ash

Namanya adalah Amr bin Ash bin Wail bin Hisyam bin Said bin Sahm Al-Qurasyi as-Sahmi. Di antara jasa besarnya adalah ketika Umar bin Khattab mengamatinya untuk menaklukkan Mesir, dan beliau berhasil menunaikan amanat tersebut. Amr merupakan salah seorang pahlawan bangsa Arab yang sangat terkenal, sekaligus seorang politisi yang cemerlang. Terkenal dengan kecerdasan dan kepintarannya mengatur siasat.

Sebelum Memeluk Islam

Kuniah Amr bin Ash adalah Abu Abdullah atau Abu Muhammad. Ia adalah seorang pedagang yang biasa bersafar ke Syam, Yaman, Mesir dan Habasyah. Amr memiliki bakat alamiah yang komplit, seorang penunggang kuda yang mahir, termasuk di antara kesatriannya kaum Quraisy, negosiator ulung dan ia juga seorang penyair yang puitis dan fasih bahasanya. Tidak heran, mengapa orang orang Quraisy mengirimnya untuk melobi An-Najasyi agar mengembalikan orang orang Mekah yang hijrah ke Habasyah.

Keislaman Amr bin Ash

Amr bin Ash masuk Islam pada tahun 8 H setelah kegagalan Quraisy dalam pernag Ahzab san dan enam bulan sebelum penaklukkan kota Mekah. Saat itu ia datang bersama Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah ke kota Madinah. Ketika tiga orang ini menemui Rasulullah, Rasulullah menatap ketiganya, lalu bersabda, "Mekah telah memberikan putra terbaiknya untuk kalian (umat Islam)."

Amr bin Ash mengatakan, "Pada saat Allah menganugerahkan hidayah Islam di hatiku, aku mendatangi Rasulullah.

Aku mengatakan, 'Julurkanlah tangan Anda, aku akan membaiat Anda.' Rasulullah pun menjulurkan tangan kanannya kepadaku. Lalu kutahan tanganku, 'sebentar.'

Rasulullah bertanya, 'Ada apa wahai Amr?'

Kujawab, 'Aku ingin Anda memberikan syarat kepadaku.'

Rasulullah mengatakan, 'Apa syarat yang kau inginkan?'

Aku menjawab, 'Agar dosa dosaku diampuni.'

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tidakkah engkau ketahui, bahwa keislaman menghapuskan dosa dosa sebelumnya? Demikian juga hijrah menafikan kesalahan kesalahan yang telah lalu? Dan juga haji menyucikan hilaf dan dosa terdahulu?' (HR. Muslim)."

Di masa keislamannya, Rasulullah dekat kepadanya dan mendidiknya dengan pendidikan tauhid yang murni. Rasulullah tahu, Amr adalah orang yang istimewa, terkenal dengan keberanian dan bakat bakat lainnya. Rasulullah mengutus kepadanya seorang utusan yang membawa pesan, "Bawalah pakaian dan senjatamu, lalu temuilah aku."

Amr mengatakan, "Lalu aku menemui beliau yang saat itu sedang berwudhu. Beliau menatapku lalu mengangguk anggukkan kepalanga. Setelah itu beliau bersabda,

'Sesungguhnya aku hendak mengutusmu berperang bersama pasukan. Semoga Allah menyelamatkanmu, memberikan ghanimah dan aku berharap engkau mendapat harta yang baik.'

Amr menanggapi, 'Wahai Rasulullah, aku masuk Islam bukan untuk mencari harta, akan tetapi aku berislam karena aku mencintai agama ini. Dan menjadi salah seorang yang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (sahabatmu).'

Kemudian Rasulullah bersabda,

'Wahai Amr, sebaik baik harta adalah harta yang dimiliki orang shaleh.' (HR Ahmad dalam Musnad-nya no.17798 dan Hakim no.2926)."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Amr bin Ash adalah di antara orang orang yang baik di kalangan Quraisy." (HR. Tirmidzi dalam Sunan-nya no.3845)

Dalam riwayat Hakim dalam Mustadrak Rasulullah mempersaksikan bahwa Amr bin Ash adalah orang yabg beriman, bukan seorang laki laki munafik.

"Dua orang anak laki laki Ash adalah orang yang beriman, yaitu Hisyam dan Amr." (HR. Hakim no.5053 dan Ahmad dalam Musnad-nya no.3845).

Ini adalah persaksian dari manusia yang paling mulia, yang perkataannya adalah wahyu yang tidak didustakan, atas keimanan Amr bin Ash. Rasulullah sangat mencintai dan mengagumi kemampuan Amr bin Ash, terbukti dengan beliau mengangkatnya sebagai pimpinan pasukan perang Dzatu Salasil dan mengangkatnya sebagai amir wilayah Oman sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat.

Penaklukkan Oleh Amr bin Ash

Pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, Amr bin Ash turut serta dalam memerangi orang orang murtad. Setelah itu Abu Bakar mengangkatnya sebagai panglima salah satu pasukan yang diberangkatkan menuju wilayah Syam. Lalu ia bergabung dengan Khalid bin Walid dalam perang Yarmuk. Kemudian ia merampungkan penaklukkan wilayah Syam. Melalui pemimpin ulung ini, wilayah Gaza, Yafa, Rafah, Nubulus dan lain lain berhasil dikuasai kaum Muslimim.

Pada masa Umar bin Kahatab, ia dipercaya memimpin Palestina. Kemudian Umar memerintahkannya berangkat menuju Mesir untuk menghadapi pasukan Romawi. Umar sangat mengagumi kecerdasan yang dimiliki Amr bin Ash, sampai sampai ia memujinya dengan mengatakan, "Tidak pantas, bagi Abu Abdullah (Amr bin Ash) berjalan di muka bumi ini kecuali sebagai seorang pemimpin." (Riwayat Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 46:155).

Tibalah waktu dimana Umar bin Kahattab memerintahkan Amr untuk berangkat ke Mesir memerangi orang Romawi. Menyerang negara adidaya ini, Amr hanya diberi bekal 4000 orang pasukan yang berangkat bersamanya. Tanoa perasaan gentar dan takut, pasukan pun bertolak menuju  ke tanah para firaun itu.

Amirul Mukminin, Umar bin Khattab tetap memantau pasukan ini, ia senantiasa meneliti kabar kabar tentang Romawi di Mesir dan juga senantiasa berdiskusi dan mendengar kabar kabar tentang Romawi, Umar khawatir dengan pasukan Amr, khawatir mereka tidak mampu menghadapi pasukan Romawi yang begitu kuat dan banyak jumlahnya. Akhirnya Amirul mukminin menulis surat kepada Amr, "Apabila suratku sampai kepadamu sebelum engkau memasuki Mesir, maka kembalilah! Tetapi jika engkau sudah memasukinya, lanjutkanlah dengan keberkahan dari Allah."

Akhirnya surat tersebut sampai ke tangan Amr yang kala itu sudah nemasuki wilayah Arisy. Amr bertanya kepada pasukannya, "Apakah kita sudah memasuki Mesir atau masih berada di wilayah palestina?" Pasukannya menjawab, "Sekarang kita sudah di Mesir." Lalu Amr mengatakan, "Jika demikian kita lanjutkan perjalanan sebagaimana yang diperintahkan Amirum mukminin."

Pemimpin yang cerdik dan pemberani ini membawa pasukannya menaklukkan kota demi kota di wilayah Mesir. Dimulai dari kota Farma, kemudian Belbis dan Ummu Danain. Setelah itu sampailah Amr si kota besar Iskandariyah. Di kota ini terdapat 50.000 orang pasukan Romawi.

4000 pasukan yang tenaganya telah tercurah dalam beberapa peperangan sebelumnya, dengan gagah berani mengepung kota Iskandariyah yang memiliki pasukan besar. Di tengah pengepungan, tersiar kabar bahwa Raja Romawi di Konstantinopel wafat dan digantikan dengan adiknya. Sang adik yang tidak banyak mengetahui tentang konflik di Mesir ini, memandang tidak ada celah untuk mengalahkan umat Islam. Ia memerintahkan perwakilannya di Mesir, Raja Muqauqis, agar mengikat perjanjian damai dengan umat Islam.

Dalam perjanjian damai itu, tersebutlah beberapa poin berikut ini:
(1) Setiap orang menyerahkan dua dinar, kecuali orang tua dan anak anak,
(2) Orang orang Romawi pergi dengan harta dan barang barang mereka dari kota Iskandariyah,
(3) Umat Islam menghormati gereja gereja Kristiani saat memasuki kota, dan syarat lainnya. Setelah itu, Amr mengirimkan kabar gembira ke Madinah bahwa Mesir sudah jatuh ke tangan umat Islam.

Menjadi Gubernur Mesir

Orang orang Mesir menyambut gembira kedatangan umat Islam, hal itu dikarenakan mereka mengetahui keadilan umat Islam dan mereka bebas dari kezhaliman dan sifat kasar orang orang Romawi. Amr bin Ash berkata kepada penduduk Mesir, "Wahai penduduk Mesir, sesungguhnya Nabi kami telah mengabarkan bahwa Allah akan menaklukkan Mesir untuk umat Islam. Dan beliau mewasiatkan kamu agar berbuat baik kepada kalian. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda,

'Jika kalian menaklukkan Mesir, maka aku wasiatkan agar kalian berbuat baik kepada orang orang Qibthu ini. Mereka berhak atas perlindungan dan kasih sayang." (HR. Muslim no.2543)

Selama masa masa memimpin Mesir, Amr sangat mencintai dan dicintai rakyatnya. Ia memperlakukan mereka dengan adil dan penuh hikmah. Pada masanya juga Mesir mengalami kemajuan pembangunan, di antaranya perencanaan pembangunan kota Fustat (sekarang sisebut Kairo)

Wafatnya Amr bin Ash

Amr bin Ash wafat pada tahun 43 H atau 663 M, saat itu umurnya lebih dari 90 tahun. Ia telah meriwayatkan 39 hadis dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ketika ia sedang sakit yang mengantarkannya kepada wafat, anaknya Abdullah bin Amr datang menemuinya. Abdullah melihat ayahanda tercinta sedang menangis, lalu ia mengatakan, "Wahai ayahanda, bukankah Rasulullah telah memberikan kabar gembira kepadamu, bukankah Rasulullah telah memberikan kabar gembira kepadamu."

Kemudian Amr menghadapkan wajahnya dan mengatakan, "Aku mengalami tiga fase perjalanan hidup, dahulu aku adalah orang yang sangat membenci Rasulullah. Aku sangat senang apabila aku berhasil menangkapnya lalu membunuhnya dengan tanganku. Seandainya aku wafat dalam fase ini, pastilah aku menjadi penduduk neraka.

Ketika Allah menghadirkan kecintaan terhadap Islam di dalam hatiku, aku mendatangi Nabi, kukatakan kepada beliau, 'Julurkanlah tangan Anda, aku akan membaiat Anda.' Rasulullah pun menjulurkan tangan kanannya kepadaku. Lalu kutahan tanganku.

Beliau bertanya, 'Ada apa wahai Amr?'

Kujawab, 'Aku ingin Anda memberikan syarat kepadaku.'

Rasulullah mengatakan, 'Apa syarat yang kau inginkan?'

Aku menjawab, 'Agar dosa dosaku diampuni.'

Kemudian beliau bersabda, 'Tidakkah engkau ketahui, bahwa keislaman menghapuskan dosa dosa sebelumnya? Demikian juga hijrah menafikan kesalahan kesalahan yang telah lalu? Dan juga haji menyucikan hilaf dan dosa terdahulu?'

Tidak ada seorangpun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah, mataku senantiasa membayangkan dirinya. Aku segan menahan pandanganku yang demikian, karena aku sangat menghormatinya. Kalau sekiranya aku dipinta untuk menjelaskan fisik beliau, Aku tidak mampu, karena aku tidak pernah meyorotkan mataku kepadanya karena rasa hormatku untuknya. Jika aku wafat dalam keadaan demikian, aku berharap aku termasuk penduduk surga.

Kemudian terjadilah suatu perkara, yang aku tidak tahu bagaimana keadaanku kala itu. Tidak bersamaku angin yang berhembus demikian juga api. Saat kalian menguburkanku dan kalian lempari aku dengan tanah pekuburan, kemudian kalian berdiri sesaat di pemakamanku, dan aku menunggu apa yang aku akan jawab dari pertanyaan utusan (malaikat) Rab-ku." (Riwayat Muslim dalam kitab Al-Iman no.121)

Credit : KisahMuslim.com

Sabtu, 16 Juli 2016

Abdullah bin Abbas

Abdullah bin Abbas adalah anak dari Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah. Ibu beliau vernama Ummul Fadhl Lubabah binti Harits Al-Hilaliyah. Beliau lahir tiga tahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah dan berumur tiga belas tahun ketika Nabi meninggal. Dalam sebagian riwayat disebutkan, beliau berbadan gemuk, putih, dan tinggi. Beliau adalah seorang yang pandai serta fasih berbicara. Banyak dari lawan bicara Ibnu Abbas mengikuti pendapatnya setelah berdialog dengannya. Seorang ulama tabi'in, Masruq bin Al-ajda mengatakan , "Ketika aku melihat Abdullah bin Abbas, aku katakan 'Dia adalah orang yang paling tampan.' Lalu ketika dia berbicara aku katakan, 'Dia orang yang paling pandai bicara.' Dan ketika dia berbicara aku katakan, 'Dia orang yang paling berilmu.'"

Ulama tabi'in lainnya, Abu Wa'il Syaqiq bin Salamah mengatakan "Ibnu Abbas berkhutbah kepada kami pada musim haji. Beliau membuka dengan surah Nur. Beliau membacanya dan menafsirkannya. Aku pun mengatakan 'Aku tidak pernah melihat atau mendengar ucapan seseorang yang semisal ini. Andai Persia, Romawi dan Turki mendenganya, niscaya mereka akan masuk Islam.'"

Soal tafsir pun Ibnu Abbas ahlinya. Abdullah bin Mas'ud , seorang ulama sahabat, mengakui kepiawaian Ibnu Abbas dengan mengatakan, "Penafsir Al-Qur'an yang paling baik adalah Ibnu Abbas. Jika dia berumur seperti kita, niscaya tidak ada seorangpun dari kita yang ilmunya mencapai sepersepuluh ilmunya."

Al-Qasim bin Muhammad mengatakan tentangnya, "Aku tidak melihat di majelis Ibnu Abbas satu kebatilanpun. Aku tidak pernah mendengar fatwa yang lebih cocok dengan sunnah daripada fatwanya. Para muridnya menjuluki beliau Al-Bahr (Lautan Ilmu) dan Al-Habr (Tinta)." Demikianlah Ibnu Abbas dijukuki Habrul Ummah.

Siapa tak kenal Ummar bin Khatab, sang khalifah kedua setelah Abu Bakar? Ternyata, sahabat sekelas Ummar pun mengakui keilmuan Ibnu Abbas yang waktu itu masih muda. Tercatat oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahih beliau bahwasanya suatu saat Ummar memasukkan Ibnu Abbas muda ke dalam majelisnya bersama para tokoh Islam. Pada waktu itu, para tokoh Badr yang telah matang dalam usia sangsi akan kemampuan Ibnu Abbas. Merekapun bertanya pada Ummar, "Kenapa anda memasukkan pemuda ini ke tengah majelis kita padahal kami juga punya anak seperti dia."

Ummar pun menjawab "Kalian telah mengetahui tentangnya (yakni kepandaiannya.)"

Suatu saat, Ummar memanggil Ibnu Abbas ke tengah majelis mereka untuk memperlihatkan kepandaian Ibnu Abbas. Ummar menanyakan kepada mereka, "Apa yang kalian ketahui tentang firman Allah ta'ala (yang artinya) 'jika telah datang pertolongan Allah dan penaklukan'?"
Sebagian tokoh Badr tersebut pun menjawab, "Allah memerintahkan kita untuk beristighfar setelah Allah menolong dan memudahkan kita untuk menaklukkan Mekah." Sedang sebagian lainnya memilih diam.

Sekarang giliran Ibnu Abbas, "Demikiankah?" Kata Ummar pada Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas mengatakan, "Tidak."
"Lantas, apa menurutmu?" Tanya Ummar.
Ibnu Abbas mengatakan, "Itu adalah wafatnya Rasulullah. Allah memberitahukannya kepada beliau 'Jika datang kepadamu pertolongan dan penaklukan'. [Q.S. Al-Nashr : 1] itu adalah tanda dari dekatnya wafat Nabi, 'Maka bertasbih lah dengan pujian kepada Rabbmu dan mintalah ampun. Sesungguhnya dia Maha Pengampun'. [Q.S. Al-Nashr : 3].

Ummar pun mengatakan, "Aku tidak mengetahuinya kecuali seperti apa yang engkau katakan."

Demikianlah ketajaman dan ketelitian Ibnu Abbas dalam memahami wahyu. Dia mengetahui bahwa perintah istighfar tidak bisa digunakan ketika terjadi kemenangan dan penaklukan. Dia mengetahui perintah istighfar dan taubat biasanya digunakan untuk mengahkhiri sesuatu, maka dia pun menafsirkan pertolongan dan penaklukan dalam ayat tersebut sebagai tanda akan diwafatkannya beliau.

Berawal dari do'a yang mustajab

Berbagai keutamaan yang Ibnu Abbas raih ini sejatinya tidak lepas dari do'a mustajab yang dipanjatkan oleh Rasulullah. Saat itu, Rasulullah hendak buang hajat. Ibnu Abbas kecil memahami kebiasaan Rasulullah yang berwudhu setiap kali habis dari buang hajat. Dia pun meletakkan air wudhu di tempat keluarnya Nabi. Lantas, ketika Nabi melihat air wudhu yang sudah dipersiapkan, Rasulullah pun bertanya, "Siapa yang meletakkan ini?" Ibnu Abbas menjawab, "Ibnu Abbas." Maka Rasulullah pun meletakkan telapak tangannya di bahu Ibnu Abbas kecil seraya berdo'a.

"Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam masalah agama dan ajarkanlah kepadanya tafsir."

Dari do'a inilah kemuliaan demi kemuliaan dia peroleh. Namun, tentu saja kemuliaan ini bukan turun dari langit begitu saja. Allah memberi taufik kepada Ibnu Abbas untuk menuntut dan mencari kemuliaan tersebut dengan sepenuh tenaga yang Allah karuniakan kepadanya, bukan hanya dengan berpangku tangan.

Akhir Hayat Ibnu Abbas

Ibnu Abbas meninggal di tha'if pada tahun 68 H pada pemerintahan Ibnu Zubair. Waktu itu, umur beliau sekitar 70 tahun. Di antara yang menshalati beliau adalah seorang ulama tabi'in, Muhammad bin Ali bin Abu Thalib yang dikenal dengan Ibnu Hanafiyah. Beliau mengatakan, "Telah meninggal seorang ulama rabbani bagi umat ini."

Jumat, 20 Mei 2016

Abbad bin Bishir

Abbad bin Bisyr berasal dari kaum Anshar, ia masuk Islam saat berusia 15 tahun melalui dakwah yang dilakukan oleh Mus'ab bin Umair. Abbad bin Bisyr dipersaudarakan dengan Ammar bin Yasir, ketika kaum Muhajirin berhijrah ke Madinah. Ia mati syahid dalam pertempuran menumpas Nabi palsu Musailamah Al-Khazzab. Abbad bin Bisyr adalah seorang sahabat yang tidak asing lagi dalam sejarah dakwah Islamiyah. Ia tidak hanya termasuk di antara para 'abid (ahli ibadah), bertaqwa dan menegakkan shalat tahajud setiap malam dengan membaca beberapa juz Al-Qur'an, tapi juga tergokong kalangan para pahlawan yang gagah berani dalam menegakkan kalimat Allah. Tidak hanya itu, ia juga seorang penguasa yang cakap, berbobot dan dipercaya dalam urusan harta kekayaan kaum Muslimin.

Ketika Islam mulai tersiar di Madinah, Abbad bin Bisyr Al-Asyhaly Al-Anshory masih muda. Kulitnya yang bagus dan wajahnya yang rupawan memantulkan cahaya kesucian. Dalam kesehariannya dia memperlihatkan tingkah laku yang baik, bersikap dewasa, kendati usianya belum mencapai 25 tahun. Dia mendekatkan diri kepada seorang da'i dari Mekkah, yaitu Mus'ab bin Umair. Dalam tempo singkat hati keduanya terikat dalam ikatan iman yang kokoh. Abbad mulai membaca Al-Qur'an jepada Mus'ab. Suaranya merdu, menyejukkan dan menawan hati. Begitu senangnya membaca kalimullah, sehingga menjadi kegiatan utama baginya. Diulang-ulangnya siang dan malam, bahkan dijadikannya suatu kewajiban. Karena itu dia terkenal di kalangan para sahabat sebagai iman dan pembaca Al-Qur'an.

Pada suatu malam Rasulullah sedang melaksanakan shalat lail di rumah Aisyah yabg berdempetan dengan masjid Nabawi. Terdengar oleh beliau suara Abbad bin Bisyr membaca Al-Qur'an dengan suara merdu, laksana suara Jibril ketika menurunkan wahyu ke dalam hatinya. Abbad bin Bisyr selalu turut berperang bersama-sama Rasulullah dalam setiap Ghozawatu Rasul (peperangan yang dipimpin Rasulullah). Dalam peperangan-peperangan itu dia bertugas sebagai pembawa Al-Qur'an. Ketika Rasulullah kembali dari peperangan Dzatu Riqo, beliau beristirahat dengan seluruh pasukan kaum Muslimin di lereng sebuah bukit. Waktu itu, seorang prajurit menawan seorang wanita musyrik yang ditinggal pergi oleh suaminya. Ketika suaminya datang kembali, istrinya sudah tiada. Dia bersumpah dengan Latra dan Uzza akan menyusul Rasulullah dan pasukan kaum Muslimin, ia tidak akan kembalu kecuali setelag menumpahkan darah di antara para sahabat.

Setibanya di tempat pemberhentian di atas bukit, Rasulullah bertanya kepada para sahabat : "Siapa yang bertugas jaga malam ini?" Abbad bin Basyr dan Ammar bin Yasir berdiri "Kami, ya Rasulullah." Kata keduanya serentak. Rasulullah telah menjadikan keduanya bersaudara ketika kaum Muhajirin baru tiba di Madinah. Ketika keduanya keluar ke mulut jalan (pos penjagaan), Abbad bertanya jepada Ammar : "Siapakah di antara kita yang berjaga lebih dahulu?" "Saya akan tidur lebih dahulu." Jawab Ammar yabg bersiap-siap untuk berbaring tidak jauh dari tempat penjagaan. Suasana malam kala itu tenang, sunyi dan nyaman. Bintang gemintang, pohon-pohon dan bebatuan seajan bertasbih memuji kebesaran Allah. Hati Abbad tergiur hendak turut melakukan ibadah. Dalam sekejap, ia pun larut dalam manisnya ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacanya dalam shalat. Nikmat shalat dan tilawah berpadu menjadi satu dalam jiwanya.

Dalam dhalat lail itu dibacanya surat Al-Kahfi dengan suara memikukan, merdu bagi siapapun yang mendengarnya. Ketika ia sedang bertasbih dalam cahaya Illahi yang meningkat tinggi, tenggelam dalam kelap-kelip pancarannya, seorang laki-laki datang memacu langkah tergeda-gesa. Laki-laki itu melihat dari kejauhan seorang hamba Allah dedang beribahdah di mulut jalan, dia yakin Rasulullah dan para sahabat berada disana. Sedangkan orang yang sedang shalat itu adalah pengawal yang bertugas jaga. Penyusup itu segera menyiapkan anak panah dan memanah Abbad tepat mengenainya. Abbad mencabut anak panah yang menancap ditubuhnya sambil meneruskan bacaan dan tenggelam lagi dalam shalatnya. Orang itu memanah lagi dan mengenai Abbad dengan jitu. Abbad mencabut juga anak panah kedua ini dari tubuhnya seperti yang pertama. Kemudian orang itu memanah lagi. Lagi-lagi Abbad mencabutnya dan tetap larut dalam shalatnya.

Ketika giliran saudaranya, Ammar, Abbad merangkak ke dekat saudaranya yang terlelap tidur lalu membangunkannya seraya berkata, "Bangun! Aku terluka parah dan lemas." Sementara itu, ketika melihat mereka berdua, si pemanah buru-buru melarikan diri. Ammar menoleh kepada Abbad. Dilihatnya darah mengucur dari tiga lubang di tubuh Abbad. "Subhanallah, mengapa kamu tidak membangunkanku ketika anak panah pertama mengenaimu?" Tanyanya keheranan. "Aku sedang membaca Al-Qur'an dalam shalat. Aku tidak ingin memutuskan bacaanku sebelum selesai. Demi Allah, kalaulah tidak karena takut menyia-nyiakan tugas yang diberikan Rasulullah menjaga mulut jalan kaum Muslimin berkemah, biarlah tubuhku putus daripada memutuskan bacaan dalam shalat tahajudku." Jawab Abbad.

Ketika perang dalam rangka memberantas orang-orang murtad berkecamuk di masa khalifah Abu Bakar, khalifah menyiapkan pasukan besar untuk menindas kekacauan yang ditimbulkan oleh Musailamah Al-Khazzab. Abbad bin Bisyr termasuk pelopor dalam ketentaraan tersebut. Setelah diperhatikannya celah-celah pertempuran, Abbad berpendapat kaum Mislimin tidak akan menang karena kaum Muhajirin dan kaum Anshor saling menyerahkan urusan satu sama lain. Bahkan mereka saling membenci dan saling mencela. Abbad yakin kaum Muslimin tidak akan menang dalam pertempuran dengan kondisi pasukan yang tidak kompak itu. Kecuali jika kaum Muhajirin dan kaum Anshor membentuk pasukannya masing-masing dengan tanggung jawab sendiri-sendiri. Dengan begitu dapat diketahui dengan jelas mana pejuang yang sungguh-sungguh.

Sebelum pertempuran yang menentukan itu dimulai, Abbad bermimpi dalam tidunya, seolah-olah ia melihat langit terbuka. Setelah dia memasukinya, dia langsung menggabungkan diri kedalam dan mengunci pintu. Ketika shubuh tiba, Abbad menceritakan mimpinya itu kepada Abu Sa'id Al-Khudriy. "Demi Allah, itu seperti benar-benar kejadian, hai Abu Sa'id." Ujarnya. Ketika perang mulai berlangsung, Abbad naik ke suatu bukit kecil seraya berteriak, "Hai kaum Anshor, berpisahlah kalian dari tentara yang banyak itu! Pecahkan sarung pedang kalian!" Abbad mengulang-ulang seruannta, segingga sekitar 400 prajurit berkumpul di sekelilingnya. Diantara mereka terdapat perwira seperti Tdabit bin Qois, Al-Barro bin Malik dan Abu Dujanah, pemegang pedang Rasulullah.

Abbad dan pasukannya menyerbu memecah pasukan musuh dan menyebar maut dengan pedangnya. Kemunculannya menyebabkan pasukan Musailamah Al-Khazzab terdesak mundur dan melarikan diri ke "kebun maut", Abbad gugur sebagai syahid. Wajah dan tubuhnya penuh dengan luka bekas pedang, tusukan lembing, panah yang menancap dan lainnya. Para sahabat hampir tak mengenalinya, kecuali setelah melihat-lihat beberapa tanda dibagian tubuhnya yang lain.

Kamis, 19 Mei 2016

Mu'adz bin Jabal

Mu'adz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraj, dengan nama julukan "Abu Abdurahman." Dilahirkan di Madinah. Ia memeluk Islam pada usia 18 tahun, ia memiliki keistimewaan sebagai seorang yang sangat pintar dan berdedikasi tinggi. Dari segi fisik, ia gagah dan perkasa. Allah juga mengaruniakan kepadanya kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah, Mu'adz termasuk di dalam rombongan yang berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai'at kepada Rasulullah. Setelah itu Mu'adz kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil meng-Islamkan beberapa orang sahabat yang terkemuka seperti misalnya Amru bin Al-Jamuh.

Pada waktu Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, Mu'adz senantiasa berada bersama Rasulullah sehingga ia dapat memahami Al-Qur'an serta syariat-syariat Islam dengan baik. Hal tersebut membuatnya di kemudian hari muncul sebagai seorang yang paling ahli tentang Al-Qur'an dari kalangan para sahabat. Ia adalah orang yang paling baik membaca Al-Aur'an serta paling memahami syariat-syariat Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah memujinya dengan bersabda "yang kumaksud umatku yang paling alim tentang halal dan haram ialah Mu'adz bin Jabal." (Hadist Tirmidzi dan Ibnu Majah). Ia meriwayatkan Hadist dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan meriwayatkan darinya ialah Anas bin Malik, Masruq, Abu Thufail Amir bin Wasilah. Selain itu, Mu'adz salah satu dari enam orang yang mengumpulkan Al-Qur'an pada zaman Rasulullah.

Setelah kota Makkah didatangi Rasulullah, penduduk Makkah memerlukan tenaga-tenaga pengajar yang tetap tinggal bersama mereka untuk mengajarkan syariat agama Islam. Rasulullah lantas menyanggupi permintaan tersebut dan meminta supaya Mu'adz tinggal bersama dengan penduduk Makkah untuk mengajar Al-Qur'an dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai agama Allah. Sifat terpuji beliau juga jelas terlihat manakala rombongan raja-raja Yaman datang menjumpai Rasulullah guna meng-isytiar-kan keislaman mereka dan meminta kepada Rasulullah supaya mengantarkan tenaga pelajar kepada mereka. Begitupun maka Rasulullah memilih Mu'adz untuk memegang tugas itu bersama-sama dengan beberapa sahabat.

Rasulullah mempersaudarakannya dengan Abdullah bin Mas'ud. Nabi mengirimnya ke negeri Yaman untuk mengajar, memberikan pengetahuan agama dan mendidik sampau hafal Al-Qur'an kepada penduduk Yaman. Rasulullah mengantarnya dengan berjalan kaki sedangkan Mu'adz berkendaraan, dan Nabi bersabda kepadanya "Sungguh, aku mencintaimu."

Lantas beliau mewasiatkan kepada Mu'adz dengan bersabda : "Wahai Mu'adz! Kemungkinan kamu tidak akan dapat bertemu lagi dengan aku selepas tahun ini" , kemudian Mu'adz menangis karena terlalu sedih untuk berpisah dengan Rasulullah. Selepas peristiwa tersebut ternyata Rasulullah wafat dan Mu'adz tidak lagi dapat melihatnya.

Mu'adz sangat terpukul atas berpulangnya Rasulullah. Ia bahkan menangis tersedu-sedu selama beberapa saat. Namun ia segera menyadari tanggung jawab di pundaknya. Ia senantiasa menjaga ghirah (semangat) keislamannya agar tidak surut. Setelah Umar bin Khatab dilantik sebagai Khalifah, ia mengutus Mu'adz untuk mendamaikan pertikaian yang terjadi di kalangan bani Kilab. Ia pun sukses menjalankan amanah itu.

Pada zaman Khalifah Umar pula, gubernur Syam (sekarang Mesir) mengirimkan Yazid bin Abi Sofian untuk meminta guru dari penduduknya. Lalu Umar memanggil Mu'adz bin Jabal, Ubaidah bin As-Somit, Abu Ayub Al-Ansary, Ubai bin Kaab dan Abu Darda' dalam satu majelis. Khalifah Umar berkata pada mereka : "Sesungguhnya saudara kamu di negeri Syam telah meminta bantuan daripada aku supaya mengantarkan siapa saja yang dapat mengajarkan Al-Qur'an kepada mereka dan memberikan pemahaman kepada mereka tentang agama Islam. Oleh karena itu bantulah aku untuk mendapat tiga orang dari kalangan kalian, semoga Allah merahmati kamu. Sekiranya kalian ingin membuat pengundian, kalian boleh membuat undian, jika tidak aku akan melantik tiga orang dari kalangan kalian."

Lalu mereka menjawab : "Kami tidak akan membuat pengundian dengan memandang bahwa Abu Ayub telah terlalu tua, sedang Ubai pun senantiasa mengalami kesakitan, dan yang hanya tinggal kami bertiga saja." Kemudian Umar berkata pada mereka : "Kalian mulailah bertugas di Hims, sekiranya kalian suka dengan keadaan penduduknya, bolehlah salah seorang dari kalian tinggal disana. Kemudian salah seorang daripada kalian hendaknya pergi ke Damsyik, dan seorang lagi ke Palestina."

Lalu mereka bertiga keluar ke Hims dan mereka meninggalkan Ubaidah bin As-Somit disana, Abu Darda' pergi ke Damsyik. Mu'adz bin Jabal berada di Urdun pada saat negeri tersebut tengah terserang wabah penyakit menular.

Mu'adz bin Jabal wafat tahun 18 H ketika terjadi wabah hebat di Urdun tersebut, waktu itu usianya 33 tahun.