Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Oktober 2018

Ada Tombol On Off-nya, Ini Dia Helm Anti Begal Karya Anak Bangsa


Inovasi keren kembali diciptakan oleh siswa SMK, Gede Bagus dan Agung Budi, siswa SMKN 1 Purworejo menciptakan helm anti begal. Helm yang menggunakan sistem mikrokontroler, helm tersebut terkoneksi dengan sistem kelistrikan yang ada apada motor. Nantinya, saat begal merampas motor, kita tinggal menekan tombol yang ada pada helm untuk mematikan sistem kelistrikkan motor.

"Tombol tersebut mengirim sinyal frekuensi ke modul yang ada di sepeda motor dan seketika mematikan kelistrikan serta membunyikan sirine pada motor untuk menarik perhatian orang sekitar," kata Eko Wahyu selaku guru pembimbing jurusan Teknik Kendaraan-Bermotor Ringan (TKR) SMKN 1 Purworejo.

Nantinya sinyal yang dikirim dari helm bisa menjangkau sampai 50 meter. Sinyal tersebut memberikan perintah untuk mematikan kelistrikan dari koil yang ada pada sepeda motor. Dan tidak akan isa hidup kembali sebelum tombol pada helm dimatikan.

"Saya berdua merancang dan bikin ini karena sempat marak aksi begal di jalan raya. Idenya saya tempatkan pada helm karena memang pelaku begal biasanya hanya ambil motor saja sedangkan helm tetap dipakai korban," kata Agung.

Teknologi ini sendiri masih dalam perkembangan. Eko dan Agung masih menyempurnakannya dan proses paten masih berlangsung. Mereka berharap bahwa helm ini bisa diproduksi secara massal dan digunakan pada segala jenis helm.

Sabtu, 29 September 2018

Panasonic Ramaikan Persaingan Kamera Mirrorless Full Frame


Tahun 2018 tampaknya menjadi era yang menarik bagi peminat kamera mirrorless dengan sensor full frame. Setelah segmen ini hanya didominasi Sony dengan seri A7 selama 5 tahun, kini beberapa pabrikan Jepang lain sudah meluncurkan produk serupa. Nikon dan Canon sudah lebih dulu merilisnya. Kini giliran Panasonic.

Perusahaan elektronik asal Jepang itu meluncurkan dua kamera sekaligus, yaitu S1 dan S1R pada hari Selasa (15/09/2018) di Cologne, Jerman, sehari sebelum acara pameran fotografi Photokina digelar. Untuk 2 kamera yang masuk dalam jajaran S Series itu, Panasonic mengandalkan fitur video. S1 dan S1R adalah kamera mirrorless full frame pertama yang mampu merekan video resolusi 4K dengan framerate 60 fps. 2 kamera ini memang ditunjukkan untuk para fotografer sekaligus videografer.

"Beberapa tahun belakangan ini, jalur telekomunikasi meningkat dengan cepat ketika platform berbagi video di media sosial semakin populer", demikian isi pernyataan resmi Panasonic, dilansir dari Petapixel. "Hasilnya, semakin banyak orang menikmati konten gabungan footo dan video."

Layar pada 2 kamera ini bisa diarahkan ke aras, bawah, dan samping. Ini lebih fleksibel bagi para videografer, khususnya vlogger karena layar bisa ditekuk hingga menghadap ke depan. Bentuk kameranya seperti Sony A7 dan Nikon Z7, perpaduan klasik dan modern. Layar OLED penampil informasi ada di bagian kanan atas, seperti Nikon Z7.

S1 dan S1R juga memiliki fitur lain yang setara dengan Sony A7 generasi ketiga, yaitu sistem In-Body Dual Image Stabilization, memngkinkan pemotretan dan perekaman video yang lebih stabil dengan menggunakan lensa apapun. Ditambah dua slot kartu memori (XQD dan SD), yang memungkinkan fotografer melakukan back up secara langsung di kartu kedua saat memotret.

Perbedaan utama S1 dan S1R ada pada sensor yang digunakan. Keduanya sama-sama full frame (sensor berukuran fisik sebesar 36x24mm), tapi S1R dititikberatkan pada resolusi yang mencapai 47 megapiksel, sementara S1 sekitar 24 megapiksel. Fitur lainnya belum diumumkan oleh Panasonic, juga harga masing-masing kamera.


Untuk lensa, baru ada 3 yang sudah diumumkan, yaitu lensa fix 50mm f/1.4, zoom standar 24-150mm, dan zoom telefoto 70-200mm. Bukaan maksimal dua lensa yang disebut terakhir belum diumumkan oleh Panasonic.


Meski hanya ada 3 lensa, Panasonic menjanjikan 7 lensa lain akan terus dirilis hingga 2020.

Soal lensa, sepertinya S1 dan S1R akan punya sokongan kuat dari berbagai pihak, tak cuma Panasonic. Sebelum merilis 2 kamera tersebut, perusahaan yang berdiri sejak 1918 itu mengumumkan kerja sama dengan Leica dan Sigma dalam L-Mount Alliance.

Kolaborasi satu mount lensa untuk beberapa jenama kamera sudah tak aneh bagi Panasonic. Pada 2008, mereka bekerja sama dengan Olymus untuk membuat konsorsium Micro Four Thirs, yang pada akhirnya diisi juga oleh Blackmagic, DJI, JVC, Kodak, dan Xiaomi. Model kerja sama L-Mount Alliance tidak beda jauh dengan aliansi Micro Four Thirds.

Panasonic, Leica, dan Sigma akan bersama-sama memproduksi lensa dan kamera menggunakan L-Mount. Sebelum S1 dan S1R dirilis, kamera yang menggunakan L-Mount hanya keluaran Leica seperti seri T (Typ 701), TL, TL2, dan CL, serta kamera full frame Leica SL (typ 601).

"Bagi fotografer, bisa memilih ragam jenis lensa untuk sistem kamera yang mereka miliki amat sangat penting," ujar Dr. Andreas Kauffmann, chariman Leica. "Khususnya di pasar mirrorless yang sedang tumbuh cepat, pengguna mencari produk ang punya keragaman jenis dan memenuhi kebutuhan fotografi yang berbeda-beda."

Untuk sementara, Sigma akan merilis lensa pihak ketiga untuk kamera-kamera Leica dan Panasonic yang menggunakan L-Mount. Namun, Sigma sudah mengumumkan akan ikut membuat kamera mirrorless full frame.

Nama mereka sebagai pembuat kamera mungkin tak sebesar Panasonic, Leica, Sony, Nikon, atau Canon. Meski begitu, Sigma sudah beberapa kali memproduksi kamera yang menggunakan sensor Foveon.

Teknologi Foveon memungkinkan gambar dengan detail dan ketajaman yang luar biasa jika dibandingkan dengan sensor CMOS standar. Saat ini, mereka belum pernah menggunakan sensor Foveon berukuran full frame baik untuk DSLR maupun kamera saku.

Selain itu, Sigma juga bertugas membuat adapter Canon EF untuk L-Mount. Dengan demikian, pengguna kamera Panasonic S Series dan Leiica L Series bisa memakai lensa-lensa DSLR Canon lengkap dengan fitur autofokus.

Panasonic belum mengumumkan harga S1 dan S1R, tetapi, melihat fitur yang ditawarkan, tampaknya tak akan jauh berbeda dengan harga mirrorless full frame Nikon dan Canon.


Senin, 16 April 2018

Revols: Headset Nanoteknologi Wireless yang Dapat Menyesuaikan Struktur Telinga Kita

Saat ini mendengarkan musik merupakan suatu aktivitas yang tidak dapat lepas dari kehidupan kita. Untuk mendengarkan musik dengan maksimal kita biasa memakai alat bantu yang bernama Headset/earphone. Tetapi, mungkin kita akan bosan dengan headset yang begitu-begitu saja. Kita butuh inovasi yang revolusioner guna memperbaiki performa headset agar lebih bisa kita nikmati.


Headset Mainstream dan Berbagai Kelemahannya

Teman-teman masih memakai headset?? Coba teman-teman rasakan, apakah nyaman kita memakainya?? Mungkin saja tidak, hal ini disebabkan karena struktur telinga dari masing-masing orang berbeda. Disisi lain, bentuk headset selalu seperti itu dan ukurannya hanya 1 jenis. Selain itu, headset “mainsteam” pasti menggunakan kabel yang membuat kita repot. Ditambah lagi apabila kita sedang beraktivitas yang membutuhkan banyak gerakan,  sudah dipastikan headset yang kita pakai akan lepas. Hm.. banyak juga ternyata kelemahan headset mainstream ini. Inilah yang mendorong di buatnya Revols.

Perbandingan Revols dan Headset Biasa.

Headset Revolusioner Tersebut Bernama Revols

Apabila teman-teman mencari headset yang inovatif, maka salah satu jawabannya adalah Revols. Apa fitur uniknya?? Fitur unik yang ada dalam headset ini adalah bisa menyesuaikan struktur telinga kita. Fitur ini membuat kita akan sangat nyaman ketika menggunakan headset ini. Alhasil momen kita untuk menikmati musik akan lebih terasa nikmat. Selain itu headset ini tidak akan lepas dengan mudah dari telinga kita, sehingga kita bisa menggunakan headset ini sambil melakukan aktivitas yang membutuhkan banyak gerakan.

Revols menggunakan nanoteknologi untuk membuat material yang dapat menyesuaikan struktur telinga. Material tersebut sudah mereka kembangkan cukup lama dan sekarang sudah dapat digunakan. Hanya butuh waktu 60 detik untuk material ini menyesuaikan struktur telinga kita. Dan proses ini dapat dilakukan melalui aplikasi Revols pada smartphone kita.


Masih terkendala kabel?? Jangan khawatir, headset ini tidak membutuhkan kabel untuk terkoneksi dengan gadget kita. Headset ini terkoneksi dengan gadget kita dengan menggunakan bluetooth.

Revols memiliki kemampuan baterai yang cukup hebat. Revols ini dapat hidup selama 8 jam dan apabila membutuhkan waktu lebih lama kita dapat menambahkan baterai cadangan yang mebuat headset ini hidup selama 14 jam.


Campaign Kickstarter

Kickstarter selalu menjadi wadah andalan bagi para inovator untuk membantu manufaktur karyanya. Headset Revolt ini telah berhasil mendapatkan funding lebih dari USD 350.000 hanya dalam 2 hari. Hal ini dikarenakan headset ini telah mengubah paradigma kita mengenai headset yang sebelumnya inovasinya masih stuck ditempat yang sama. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat video campaignnya di bawah ini.


Selasa, 10 April 2018

Rasakan Sensasi Menunggangi Pesawat Kertas yang dikendalikan dengan Smartphonemu

Pernahkah teman-teman bermain pesawat kertas?? Pasti semuanya pernah. Pesawat kertas tersebut sudah dapat membuat kita senang meskipun hanya dapat terbang tidak lebih dari 5 detik. Mungkin impian kita waktu kecil ingin membuat pesawat itu bisa terbang terus menerus dan bisa mengendalikannya. Mungkinkah impian kita tersebut menjadi nyata?? Sepertinya memang impian kita  kali ini telah menjadi nyata dengan dimulainya campaign Power Up FPV di kickstarter.


Power Up FPV Aksesoris Pesawat Kertas Impianmu

Sekarang ini kita bisa melakukan banyak hal dengan smartphone kita. Hal ini disebabkan dalam smartphone tersebut terdapat banyak sensor yang dapat digunakan untuk banyak hal. Bagaimana kalau pesawat kertas bisa terbang dan kita kendalikan melalui smartphone?? Power Up FPV dapat melakukannya karena didalamnyaterdapat juga sensor yang dapat tersinkronosasi dengan smartphone kita. Sensor dan komponen yang ada dalam Power Up FPV dapat kita lihat dari gambar di bawah.


Power Up FPV  menawarkan teknologi untuk membuat pesawat kertas kita terbang dalam waktu lama dan dapat kita kendalikan melalui smartphone. Teknologi ini sangat unik karena menawarkan banyak hal. Selain kita bisa mengendalikan pesawat kertas dengan smartphone, kita juga bisa merasakan sensasi seakan-akan kita menunggangi pesawat kertas tersebut karena alat ini dilengkapi dengan kamera. Penasaran bagaimana bentuknya?? Mari kita lihat video campaign mereka di kickstarter.


Perasaan Menunggangi Lebih Nyata dengan Virtual Reality

Fitur menarik lainnya yang ditawarkan dari Power Up FPV ini diantaranya adalah virtual reality menunggangi pesawat. Yup… Pov up ini dilengkapi kamera di bagian atasnya sehingga apabila kita menyambungkannya dengan layar smartphone, kita bisa merasakan sensasi menunggang pesawat kertas kita. Lebih kerennya lagi sensasi tersebut menjadi lebih nyata ketika kita menggunakan virtual reality dari smartphone kita. Ketika kita menggunakan alat virtual reality, kita bisa mengendalikan pesawat kertas tersebut dengan hanya menggerakkan kepala kita ke kiri dan ke kanan. Sangat asyik bukan??


Kesuksesan Campaign di Kickstarter

Power Up FPV ini mengalami sukses besar karena hanya dalam waktu 2 hari, mereka telah berhasil mendapatkan funding lebih dari USD 140.000. Hal ini tidak lepas dari bagaimana mereka menggunakan sesuatu yang bernama emotional design.

Manusia memang akan sangat senang dengan sesuatu yang dapat membangkitkan emosi. Salah satunya dengan menyentuh masa kecil kita. Sebenarnya fungsi esensial dari Power Up FPV untuk menyelesaikan masalah tidak ada. Hanya saja teknologi ini unggul di kreativitas dan emosional design yang membuat “jiwa anak-anak” kita bergelora kembali. Kita langsung bernostalgia dan berimajinasi dengan alat ini dan itu semua membuat kita merasa senang. Inilah yang membuat alat ini sangat laris dan banyak orang yang ingin memberikan funding.

Sekian artikel mengenai inovasi unik bernama Power Up FPV. Dari teknologi ini memahami emosi manusia juga merupakan faktor penting untuk membuat karya kita sukses. Semoga bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan baru bagi kita semua.

Rabu, 04 April 2018

7 Merek Terkenal yang Punya Asal-Usul Penamaan yang Unik

Dalam menamai sebuah perusahaan, biasanya sebuah perusahaan menggunakan berbagai filosofi yang dalam dan berat agar nama tersebut dapat merepresentasikan visi misi dari perusahaannya. Atau seringkali penamaan sebuah perusahaan dilakukan dengan sederhana seperti menggunakan nama founder perusahaan tersebut.

Namun ada beberapa perusahaan yang sama sekali tak menggunakan cara 'mainstream' untuk menamai perusahaannya. Berbagai hal seperti menggunakan nama yang 'catchy' di telinga atau terinspirasi dari makhluk-makhluk mitologi, dilakukan agar perusahaan mereka mudah dikenal.
Hal ini dilakukan oleh beberapa perusahaan yang akhirnya dikenal sebagai merek yang mendunia ini. Mereka tak menggunakan cara konvensional untuk menamai perusahaannya, tapi justru terdapat hal aneh yang mendasari penamaan perusahaan mereka.

Berikut merek terkenal yang punya asal-usul penamaan yang unik.


1. Volkswagen


Dalam bahasa Jerman, Volkswagen berarti "Mobil untuk rakyat." Penamaan ini didasarkan dari berbagai alasan menarik. Awalnya, Volkswagen muncul sebagai pemenuhan janji pemerintahan Nazi yang ingin memperbaiki kehidupan masyarakat kelas menengah. Memang ketika itu mobil hanya bisa dibeli oleh masyarakat atas. Akhirnya, pemimpin Nazi saat itu, Hitler, ingin mengonsep mobil murah yang dapat dibeli oleh semua orang.

Masalahnya adalah konstruksi mobil tersebut ternyata tidak terlalu bagus. Namun ketika Hitler tak puas dengan prototip pertama mobil Volkswagen, ia membuat tim baru untuk memproduksi mobil Volkswagen pertama yang akan dirilis. Akhirnya, model pertama yang bernama KdF (Kraft durch Freudeatau berarti 'Kekuatan melalui kesenangan'), dibuat tahun 1938. Mobil ini dibuat seterusnya dalam waktu yang lama, dan VW jadi perusahaan yang besar semenjak itu.


2. Nokia


Nokia ternyata awalnya bukanlah sebuah pabrikan ponsel. Sebenarnya, Nokia hanyalah sebuah penggilingan kertas yang dikelola oleh seseorang bernama Fredrik Idestam di tahun 1865 di Finlandia. Fredrik yakin bahwa penggilingan kertasnya ini akan jadi besar suatu hari, dan dia berani untuk mendirikan penggilingan kedua di sekitar sungai Nokianvirta. Akhirnya ia menamai perusahaannya dengan nama Nokia AB.

Nokia akhirnya benar-benar menjadi besar dengan segmen pasar yang sangat tinggi. Nokia pun mencakup banyak sekali bidang, mulai dari perkebunan karet, hingga produksi peralatan elektronik seperti kabel dan generator.

Nokia yang kita kenal sekarang adalah hasil dari generasi-generasi selanjutnya dari perusahaan Nokia yang mencoba peruntungan pasca di Eropa peraturan tentang telekomunikasi tak lagi ketat. Di medio tahun 1980an, Nokia mencoba terjun ke industri telekomunikasi dengan menghasilkan ponsel.


3. Cadillac


Perusahaan mobil Amerika Serikat yang khas dengan bentuk mobilnya ini, awalnya hanyalah puing-puing perusahaan yang gagal dibangun oleh Henry Ford yang sebelumnya sukses dengan Ford Motor Company. Dibangun untuk segmen atas dengan produk mobil mewah, Cadillac dinamakan juga dari sesuatu yang terkesan mewah pula yakni nama Perancis. Cadillac dinamakan dari seorang petualang Perancis bernama Antoine Laumet de La Mothe Cadillac yang lahir di tahun 1658.

Meski namanya memang terkesan mewah, namun tak ada yang tahu siapa Antoine Cadillac. Akhirnya cerita tentangnya dikarang-karang, termasuk soal Antoine Cadillac yang dianggap membangun Fort-Pontchartain du Detroit, yang akhirnya jadi kota Detroit. Karena Cadillac memang beroperasi di Detroit, pada akhirnya masyarakat 'membeli' ide tersebut dan Cadillac berjaya jadi produsen mobil mewah di Amerika Serikat.


4. Asus


Asus mungkin erat kaitannya dengan elektronika modern mulai dari komputer hingga smartphone. Namun penamaan produsen asal Taiwan ini sama sekali tak modern.

Nama Asus sendiri adalah kependekan dari Pegasus, yang merupakan kuda terbang dari mitologi Yunani. Asus mengklaim bahwa bisnis mereka adalah perwujudan dari "kekuatan, kemurnian, dan semangat menghadapi tantangan," layaknya pegasus.

Namun mengapa mereka tak menamainya Pegasus saja? Ternyata hal ini dikarenakan soal bisnis pula. Hal ini merupakan strategi agar Asus jadi daftar teratas di bisnis teknologi, karena secara alfabetikal perusahaan tersebut diawali huruf "A."


5. Sharp


Salah satu perusahaan elektronik terbesar di Jepang, Sharp, sama sekali tak berhubungan dengan elektronik. Hal ini dimulai daru Hayakawa Tokuji di tahun 1915 yang ingin membuat sebuah penemuan berupa pensil mekanik. Ide yang ia temukan di umurnya yang masih 21 tahun tersebut, diberi nama 'Sharp' karena ia merasa pensil mekaniknya akan selalu tajam, tak seperti pensil lain yang harus diraut dulu agar tajam.

Namun bisnisnya hancur akibat gempa hebat di Kanto pada tahun 1923. Hal ini memaksanya untuk menjual hak cipta pensil ke orang lain dan pindah ke Osaka. Namun setelah pindah ke Osaka, ia justru sukses dalam memproduksi radio. Sejak saat itu, Sharp berkembang sebagai raja elektronik di Jepang.


6. Volvo


Jika diterjemahkan dari bahasa Latin, Volvo berarti 'Aku berputar.' Terdengar unik dalam bahasa Inggris, karena 'I roll' adalah salah satu frase yang terdengar keren. Namun secara harfiah, Volvo dulunya adalah perusahaan bantalan poros roda mobil.

Namun bisnis dari Volvo banting setir ketika mereka memutuskan akan mencoba membangun mobil. Butuh waktu tiga tahun untuk msebuah mobil keluar dari garasi perusahaannya yang berada di Hisingen, Gotebor, Swedia. Namun pada akhirnya Volvo diakui masyarakat sebagai mobil paling aman, yang melindungi pengendara dari resiko kecelakaan fatal.


7. Bluetooth


Sejarah dari Bluetooth tak hanya di namanya, namun juga di logo. Nama Bluetooth sendiri diambil daru nama raja Viking, Harald Blatand. Nama Blatand jika diterjemahkan dari bahasa yang dipakai Viking, artinya Bluetooth atau gigi biru. Nama tersebut juga diberikan rakyatnya kepada rajanya yang konon punya gigi mati yang berwarna biru.

Diceritakan bahwa raja tersebut sangat efektif dalam hal komunikasi, bahkan di zaman itu ia adalah raja yang mampu untuk tidak menggunakan kekerasan dalam bernegosiasi. Hal ini tentu jadi hal baik jika direpresentasikan dalam hal teknologi transfer data nirkabel seperti Bluetooth.

Untuk logo, ternyata logo Bluetooth adalah perpaduan dari inisial Harald Blatand, HB.