Minggu, 30 September 2018

Sensasi Makan Warteg di Restoran

Warteg atau Warung Tegal biasanya identik dengan warung kecil di pinggir jalan atau gang. Namun pernahkah kamu membayangkan makan Warteg di sebuah restoran?

Konsep unik ini yang diusung Leadwell Group yang kembali membuka gerai makanan ketiga, Fedwell. Tak seperti Warteg pada umumnya, restoran ini berlokasi di kawasan kuliner terkenal, Senopati, Jakarta Selatan.

Gerai baru kali ini mengusung konsep "semua tentang bowls" dengan tema Warteg sehat. Operating Officer Fedwell, Dio Santoso menjamin semua menu makanan yang disajikan berasal dari bahan-bahan yang masih segar.

"Kami berharap dengan inovasi baru seperti Fedwell ini dapat meningkatkan minat masyarakat Indonesia untuk terus mengkonsumsi mkanan sehat dan menjalankan gaya hidup sehat," ujar Dio di Jakarta, Rabu 26 September 2018.

Selain itu, Fedwell juga menyediakan berbagai menu lain yang mengandung protein hingga karbohidrat. :Ini menggabungkan sehat dan lezat yang dapat dinikmati secara bersama dalam waktu sekali makan," ucap Dio.

Dengan konsep semua tentang bowls, para pelanggan nantinya bebas memilih menu makanannya dan dimasukkan ke dalam sebuah mangkuk. Konsep makan baru di sebuah restoran di mana makanan tersaji dalam piring. "Jadi pelanggan tidak perlu bingung atau takut merasa bosan, karena akan ada lebih dari 14 juta kemungkinan menu yang bisa dimasukkan ke dalam bowl, selalu ada sesuatu yang baru untuk pelanggan coba," ujarnya.

Tak hanya mekanan berat, restoran yang buka pukul 10 pagi sampai 9 malam ini juga bisa menjadi tempat nongkrong untuk mereka yang sekedar ingin memakan kudapan. Fedwell menyediakan menu seperti kue sehat, kopi, jus dan berbagai makanan ringan sehat lain.

Sumber : dream.co.id

Sabtu, 29 September 2018

Panasonic Ramaikan Persaingan Kamera Mirrorless Full Frame


Tahun 2018 tampaknya menjadi era yang menarik bagi peminat kamera mirrorless dengan sensor full frame. Setelah segmen ini hanya didominasi Sony dengan seri A7 selama 5 tahun, kini beberapa pabrikan Jepang lain sudah meluncurkan produk serupa. Nikon dan Canon sudah lebih dulu merilisnya. Kini giliran Panasonic.

Perusahaan elektronik asal Jepang itu meluncurkan dua kamera sekaligus, yaitu S1 dan S1R pada hari Selasa (15/09/2018) di Cologne, Jerman, sehari sebelum acara pameran fotografi Photokina digelar. Untuk 2 kamera yang masuk dalam jajaran S Series itu, Panasonic mengandalkan fitur video. S1 dan S1R adalah kamera mirrorless full frame pertama yang mampu merekan video resolusi 4K dengan framerate 60 fps. 2 kamera ini memang ditunjukkan untuk para fotografer sekaligus videografer.

"Beberapa tahun belakangan ini, jalur telekomunikasi meningkat dengan cepat ketika platform berbagi video di media sosial semakin populer", demikian isi pernyataan resmi Panasonic, dilansir dari Petapixel. "Hasilnya, semakin banyak orang menikmati konten gabungan footo dan video."

Layar pada 2 kamera ini bisa diarahkan ke aras, bawah, dan samping. Ini lebih fleksibel bagi para videografer, khususnya vlogger karena layar bisa ditekuk hingga menghadap ke depan. Bentuk kameranya seperti Sony A7 dan Nikon Z7, perpaduan klasik dan modern. Layar OLED penampil informasi ada di bagian kanan atas, seperti Nikon Z7.

S1 dan S1R juga memiliki fitur lain yang setara dengan Sony A7 generasi ketiga, yaitu sistem In-Body Dual Image Stabilization, memngkinkan pemotretan dan perekaman video yang lebih stabil dengan menggunakan lensa apapun. Ditambah dua slot kartu memori (XQD dan SD), yang memungkinkan fotografer melakukan back up secara langsung di kartu kedua saat memotret.

Perbedaan utama S1 dan S1R ada pada sensor yang digunakan. Keduanya sama-sama full frame (sensor berukuran fisik sebesar 36x24mm), tapi S1R dititikberatkan pada resolusi yang mencapai 47 megapiksel, sementara S1 sekitar 24 megapiksel. Fitur lainnya belum diumumkan oleh Panasonic, juga harga masing-masing kamera.


Untuk lensa, baru ada 3 yang sudah diumumkan, yaitu lensa fix 50mm f/1.4, zoom standar 24-150mm, dan zoom telefoto 70-200mm. Bukaan maksimal dua lensa yang disebut terakhir belum diumumkan oleh Panasonic.


Meski hanya ada 3 lensa, Panasonic menjanjikan 7 lensa lain akan terus dirilis hingga 2020.

Soal lensa, sepertinya S1 dan S1R akan punya sokongan kuat dari berbagai pihak, tak cuma Panasonic. Sebelum merilis 2 kamera tersebut, perusahaan yang berdiri sejak 1918 itu mengumumkan kerja sama dengan Leica dan Sigma dalam L-Mount Alliance.

Kolaborasi satu mount lensa untuk beberapa jenama kamera sudah tak aneh bagi Panasonic. Pada 2008, mereka bekerja sama dengan Olymus untuk membuat konsorsium Micro Four Thirs, yang pada akhirnya diisi juga oleh Blackmagic, DJI, JVC, Kodak, dan Xiaomi. Model kerja sama L-Mount Alliance tidak beda jauh dengan aliansi Micro Four Thirds.

Panasonic, Leica, dan Sigma akan bersama-sama memproduksi lensa dan kamera menggunakan L-Mount. Sebelum S1 dan S1R dirilis, kamera yang menggunakan L-Mount hanya keluaran Leica seperti seri T (Typ 701), TL, TL2, dan CL, serta kamera full frame Leica SL (typ 601).

"Bagi fotografer, bisa memilih ragam jenis lensa untuk sistem kamera yang mereka miliki amat sangat penting," ujar Dr. Andreas Kauffmann, chariman Leica. "Khususnya di pasar mirrorless yang sedang tumbuh cepat, pengguna mencari produk ang punya keragaman jenis dan memenuhi kebutuhan fotografi yang berbeda-beda."

Untuk sementara, Sigma akan merilis lensa pihak ketiga untuk kamera-kamera Leica dan Panasonic yang menggunakan L-Mount. Namun, Sigma sudah mengumumkan akan ikut membuat kamera mirrorless full frame.

Nama mereka sebagai pembuat kamera mungkin tak sebesar Panasonic, Leica, Sony, Nikon, atau Canon. Meski begitu, Sigma sudah beberapa kali memproduksi kamera yang menggunakan sensor Foveon.

Teknologi Foveon memungkinkan gambar dengan detail dan ketajaman yang luar biasa jika dibandingkan dengan sensor CMOS standar. Saat ini, mereka belum pernah menggunakan sensor Foveon berukuran full frame baik untuk DSLR maupun kamera saku.

Selain itu, Sigma juga bertugas membuat adapter Canon EF untuk L-Mount. Dengan demikian, pengguna kamera Panasonic S Series dan Leiica L Series bisa memakai lensa-lensa DSLR Canon lengkap dengan fitur autofokus.

Panasonic belum mengumumkan harga S1 dan S1R, tetapi, melihat fitur yang ditawarkan, tampaknya tak akan jauh berbeda dengan harga mirrorless full frame Nikon dan Canon.


Jumat, 28 September 2018

Pria ini Pecahkan Problem Matematika yang 160 Tahun jadi Misteri

Salah satu persoalan paling rumit dalam matematika berhasil dipecahkan baru-baru ini. Seorang matematikawan terkenal, Sir Michael Atiyah berhasil memecahkan persoalan rumit tersebut.

Matematikawan asal Inggris itu berhasil menemukan cara memecahkan hipotesa Rienmann yang menjadi misteri selama 160 tahun. Hipotesa Rienmann sendiri merupakan salah satu dari tujuh persoalan milenium di bidang matematika yang belum berhasil terpecahkan sebagaimana dinyatakan oleh Clay Mathematics Institute of Cambridge (CMI). Bahkan pihak CMI sendiri menjadikan hal itu sebagai sayembara dengan memberi imbalan hadian sebesar US$ 1 juta atau sekitar Rp 14 miliar.

Atiyah mengaku berhasil menemukan terobosan baru untuk memecahkan persoalan matematika tersebut. Terobosan barunya itu ia presentasikan pada senin (24/9) kemarin di Heidelberg Laureate Forum, Jerman. Presentasinya itu dibagikan oleh Markus Pössel, seorang ahli astrofisika Jerman pada akun Twitter pribadinya.


Terobosan baru yang berhasil ditemukan oleh peraih Fields Medal dan Abel Prize itu masih harus diteliti dan dicek ulang oleh para matematikawan lainnya. Jika penemuannya itu dinyatakan benar dan sesuai, maka Atiyah berhak mendapatkan hadiah dari CMI.

Hipotesa Rienmann sendiri diciptakan oleh matematikawan Bernard Riemann pada tahun 1859 dan terfokus pada distribusi bilangan prima. Yang menjadi masalah dari hipotesa tersebut adalah distribusi bilangan prima bukanlah suatu hal yang tidak teratur dan bisa jadi mengikuti sebuah pola yang teratur. Seperti yang diuraikan pada persamaan Rienmann zeta function. Percobaan untuk membuktikan bilangan prima mengikuti sebuah pola teratur pun sudah dilakukan berulang kali namun masih belum membuahkan hasil.

Menurut pengakuan Atiyah, dirinya juga menggunakan teori buatan John von Neumann dan Friedrich Hirzebruch untuk membantunya menyelesaikan persoalan tersebut. Sementara itu, hingga kini pihak CMI masih belum mau memberi komentar akan penemuan terobosan baru hasil karya pria 89 tahun itu.