Kamis, 27 September 2018

Rekomendasi 7 Powerbank dengan Fitur Fast Charging Terbaik



Mayoritas pengguna smartphone sekarang tidak bisa jauh-jauh dari yang namanya powerbank. Powerbank memang mejadi solusi untuk mereka yang butuh kemudahan dalam mengisi ulang daya smartphone yang terkuras setiap saat. Dengan powerbank, pengguna bisa mengisi ulang daya smartphone di mana saja dan kapan saja tanpa repot.

Powerbank kini dapat dengan mudah dijumpai. Berbagai bentuk, kapasitas dayam hingga merk powerbank beredar luas di pasaran. Saat ini, powerbank yang paling banyak diburu adalah yang memiliki fitur Fast Charging. Fitur yang membuat pengisisan daya menjadi lebih cepat. Semulanya, fitur Fast Charging sudah diterapkan di smartphone terlebih dahulu, baru kini diterapkan di perangkat powerbank.

Adanya fitur Fast Charging pada powerbank tentunya semakin mempermudah pengguna. Mereka tidak perlu menunggu lama lagi untuk mengisis daya smartphone dengan powerbank. Nah, kali ini ada Rekomendasi 7 Powerbank dengan fitur Fast Charging terbaik.


1. ACMIC C10PRO


Vendor Indonesia bernama ACMIC membuat terobosan baru dengan meluncurkan powerbank premium yang memiliki teknologi Triple Fast Charging System. Dengan teknologi tersebut, perangkat yang diberinama ACMIC C10PRO ini memiliki kemampuan mengalirkan daya hingga maksimum 5A dengan performa yang diklaim 4 kali lebih baik dari powerbank standar. Selain dapat mengisi daya dengan cepat, powerbank berkapasitas 10.000 mAh ini juga dilengkapi dengan Smart Protection dan juga diklaim memenuhi standar keamanan internasional tertinggi.


2. Zola Falcon Powerbank


Zola Falcon Powerbank belum lama ini diluncurkan dengan teknologi Triple Fast Charging yang mampu melakukan pengisian daya dengan sangat cepat pada perangkat khusus seperti iPhone X, iPhone 8, dan iPhone 8+ dan beberapa perangkat android seperti seri Samsung Galaxy S6, S7, S8, dan S9. Berkapasitas 10.000 mAh, powerbank ini mampu mengisi daya baterai dari 0-100% hanya dalam waktu satu jam. Adanya 10 sistem proteksi membuat pengguna bisa menggunakan powerbank ini secara aman tanpa khawatir smartphone rusak.


3. Anker PowerCore Turbo


Salah satu vendor aksesoris ponsel yakni Anker meluncurkan sebuah powerbank dengan kemampuan Fast Charging. Mereka menerapkan teknologi bernama Anker Breakthrough yang diklaim dapat melakukan pengisian ulang daya smartphone lebih cepat. Powerbank dengan kapasitas baterai hingga 16.000 mAh ini diklaim mampu mengisi baterai smartphone sampai penuh dalam waktu 1,5 jam saja dimana umumnya butuh waktu 3 sampai 4 jam.


4. Delcell Tornado


Dellcell Tornado merupakan powerbank merek lokal dengan kapasitas baterai 10.000 mAh yang memiliki fitur Fast Charging v3.0. Powerbank ini didesain dengan bodi berbahan metal dan layar LCD yang menampilkan sisa daya baterai powerbank dalam persen. Adanya fitur Fast Charging membuat pengguna bisa mempersingkat waktu pengisian daya smarphone. Begitupula pada saat mengisi daya powerbank, pengisiannya pun bisa lebih cepat dari umumnya.


5. Vivan Power Elite MF20


Vivan Power Elite MF20 hadir dengan kapasitas besar yakni 20.800 mAh. Powerbank ini memiliki fitur Fast Charging 3.0 USB type-C. Desain yang tebal, namun ringan membuat powerbank ini mudah dibawa-bawa. Dengan menggunakan powerbank ini, mencharge perangkat smartphone menjadi jauh lebih cepat. Bukan hanya cocok untuk digunakan untuk semua smartphone, Vivan Power Elite MF20 juga aman digunakan untuk semua notebook, macbook hingga Cromebook.


6. Hippo Powerbank Zippy


Hippo Powerbank Zippy hadir dengan ukuran yang mungil dan pas genggaman, Beratnya hanya sekitar 275 gram dengan kapasitas baterai 12.000 mAh. Powerbank ini memiliki kabel USB tipe-C untuk mendukung fitur Fast Charging 3.0. Dengan adanya fitur Fast Charging, pengguna dapat mengisi daya smartphone dengan Hippo Powerbank Zippy dari 0-100% dalam waktu 2 jam.


7. RAVPower


Memiliki desain yang sederhana, RAVPower mampu menjadi powerbank yang mempersingnkat lama waktu pengisian daya pada perangkat smarphone. Mengandalkan teknologi Fast Charging 3.0 dan USB-A tipe-C, powerbank dengan kapasitas baterai 20.100 mAh ini diklaim mampu melakukan pengisian daya dengan cepat bukan hanya pada satu perangkat smartphone, tapi lebih banyak sekaligus.

Rabu, 26 September 2018

Bahagia dengan Gaya Hidup Minimalis ala Orang Jepang


Hampir setiap orang gemar berbelanja. Terlebih saat ini banyak kemudahan yang bisa didapatkan pada konsumen dalam berbelanja, seperti online shop, free ongkir, diskon kartu kredit dan lain-lainnya. Tidak salah jika memang berbelanja untuk kebutuhan meskipun tidak jarang pula 'kebablasan'. Tanpa kita sadari, kita kerap membeli barang-barang yang sebenarnya tidak benar-benar kita perlukan, yang pada akhirnya hanya menumpuk tidak terpakai.

Berbelanja memang mampu memberikan kepuasan dan kebahagiaan, hanya saja itu hanya bersifat sementara. Jika tidak segera disadari, hal itu justru akan membuatmu terjebak dalam lingkaran konsumerisme.

Ada sebuah penelitian menarik dari Chaplin dan Jhon tentang perilaku konsumtif masyarakat. Dilansir dari laman theminimalist, ternyata semakin seseorang terobsesi pada hal-hal yang bersifat materi, menunjukkan bahwa ia memiliki "self-esteem" yang rendah. Tak ayal, beberapa tahun ini banyak yang meninggalkan gaya hidup konsumtif dan beralih pada gaya hidup "minimalis".

Sebenarnya apa itu gaya gidup minimalis? Kenapa peminatnya semakin bertambah?

Sekilas tentang gaya hidup minimalis


Gaya hidup ini dipengaruhi oleh estetika Buddhisme Zen yang menentang gaya hidup konsumtif dengan cara mengurangi barang-barang yang mereka miliki. Konsep dari gaya hidup ini adalah "Less is more", yang kira-kira maknanya dengan memiliki sedikit barang, kita memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan hal lain yang lebih produktif.

Di tempat yang rutin mengalami gempa seperti Jepang, gaya hidup seperti ini sangat dianjurkan karena dapat mengurangi resiko luka hingga kematian akibat kejatuhan benda yang ada di ruangan.

Kenapa banyak yang mengikuti gaya hidup ini?


Karena banyak manfaatnya. Pertama, kamu tidak perlu repot untuk membersihkan atau merawat barang-barangmu. Kedua, kamu akan lebih memiliki banyak waktu untuk melakukan kegiatan lain seperti olahraga, menulis, yoga dan lain-lain. Ketiga, hidup kamu akan lebih bahagia karena terhindar dari stress dan perasaan negatif lainnya dalam hal mengejar kepuasan materi. Kamu juga bisa fokus pada kebutuhanmu tanpa harus terbebani gengsi.

Keempat, kamu dapat menghemat atau menggunakan uangmu untuk memperkaya kemampuan dan pengalaman, seperti mengikuti kelas memasak, traveling, mengikuti pelantikan fotografi, atau mengikuti kelas kebugaran. Dan kelima, tampatmu akan terasa lebih lias dan lapang, dan secara tidak langsung akan membawa perasaan tenang pada pikiran.

Bagaimana cara melakukannya?


Kamu bisa mulai dengan menyingkirkan benda-benda yang tidak kamu butuhkan. Misalnya pakaian yang jarang kamu pakau atau perabotan yang tidak kamu perlukan. Barang-barang yang tidak  kamu butuhkan bisa kamu jual kembali atau didonasikan.

Hanya sisakan pakaian yang benar-benar kamu perlukan saja


Dengan menyingkirkan perabotan yang tidak perlu, kamu akan lebih mudah membersihkan ruangan



Menata barang juga semakin mudah



Tempat yang terasa "lega" dapat membuat pikiranmu tenang, sehingga dapat meningkatkan produktivitasmu



Selasa, 25 September 2018

Proses Kelahiran dan Pembentukan Galaksi

Galaksi Bunga Matahari, M63. Kredit: Bills Nyder

Galaksi adalah sebuah sistem masif yang terikat gaya gravitasi yang terdiri atas bintang (dengan segala bentuk manifestasinya, antara lain bintang neutron dan lubang hitam), gas dan debu medium antarbintang, serta materi gelap. Tahukah Anda bagaimana galaksi bisa terbentuk?

Galaksi tidak tersebar secara acak di alam semesta, tetapi sering ditemukan di sebuah "gugus galaksi", yang pada gilirannya juga merupakan bagian dari kelompok yang lebih besar yang disebut "super-gugus galaksi."

Para astronom di paruh kedua abad ke-20 telah banyak membuat penemuan yang menakjubkan, memperluas pemahaman kita tentang alam semesta. Pengetahuan manusia tentang bagaimana alam semesta tercipta telah tumbuh secara eksponensial. Namun demikian, beberapa pertanyaan mendasar masih belum terjawab, salah satunya; bagaimana galaksi pertama terbentuk?

Model kosmologi yang ada saat ini mengenai alam semesta awal didasarkan pada teori Dentuman Besar (Big Bang). Sekitar 300.000 tahun setelah peristiwa Big Bang, atom-atom hidrogen dan helium mulai terbentuk, dalam sebuah peristiwa yang disebut rekombinasi. Hampir semua hidrogen adalah netral (tidak terionisasi) dan dengan mudah menyerap cahaya, serta belum ada bintang yang terbentuk.

Akibatnya periode ini disebut "Zaman Kegelapan". Dari fluktuasi kepadatan (atau ketidakseragaman anisotropi) dalam materi purba inilah struktur-struktur yang lebih besar mulai muncul. Hasilnya, massa materi barionik mulai memadat dalam cincin cahaya materi gelap dingin. Struktur-struktur primordial inilah yang akhirnya menjadi galaksi yang kita lihat hari ini. 

Bukti tentang kemunculan awal galaksi ditemukan pada tahun 2006, ketika diketahui bahwa galaksi IOK-1 memiliki pergeseran merah (red shift) yang luar biasa tinggi sebesar 6,96, setara dengan jangka waktu hanya 750 juta tahun setelah Big Bang.

Hal ini menjadikannya sebagai galaksi terjauh dan paling purba yang pernah dilihat. Meskipun beberapa ilmuwan mengklaim objek lainlah (misalnya galaksi Abell 1835 IR1916) yang memiliki red shift lebih tinggi (dan karena itu sudah ada pada tahap yang lebih awal dalam evolusi alam semesta), namun usia dan komposisi IOK-1 ditentukan dengan cara yang lebih dapat diandalkan. 

Adanya protogalaksi yang seawal itu kemunculannya menunjukkan bahwa protogalaksi tersebut pastilah berkembang dalam apa yang disebut "Zaman Kegelapan". Namun, pada bulan Maret 2016 para astronom melaporkan bahwa galaksi GN-z11 adalah galaksi terjauh yang diketahui dengan nilai red shift 11,1. Galaksi tersebut diperkirakan sudah ada sejak sekitar 400 juta tahun setelah Big Bang. 


Citra galaksi terjauh, GN-z11. Kredit: NASA/ESA/Hubble


Diketahui galaksi GN-z11 ini diperkirakan terletak pada jarak 13,4 miliar tahun cahaya, dan karena pemuaian alam semesta, saat ini diperkirakan galaksi GN-z11 terletak lebih dari 32 miliar tahun cahaya dari Bumi.

Bagaimana proses rinci terbentuknya galaksi seawal itu berlangsung masih merupakan sebuah pertanyaan pokok yang belum terjawab dalam astronomi. Teori yang ada dapat dibagi dalam dua kategori: dari atas ke bawah (top-down) atau dari bawah ke atas (bottom-up).

Dalam teori top-down (seperti model Eggen-Lynden-Bell-Sandage [ELS]), protogalaksi terbentuk dalam sebuah runtuhan serentak berskala besar yang berlangsung selama kira-kira seratus juta tahun. Dalam teori bottom-up (seperti model Searle-Zinn [SZ]), struktur kecil seperti gugus bola terbentuk dahulu, lalu kemudian sejumlah struktur tersebut bergabung untuk membentuk galaksi yang lebih besar. 

Begitu protogalaksi mulai terbentuk dan mengerut, bintang-bintang halo pertamapun (disebut bintang Populasi III) muncul di dalamnya. Bintang-bintang ini tersusun hampir seluruhnya oleh hidrogen dan helium dan kemungkinan berukuran masif. 

Jika memang benar demikian, maka bintang-bintang yang sangat besar ini akan menghabiskan pasokan bahan bakarnya dengan cepat dan menjadi supernova, melepaskan unsur-unsur berat ke medium antarbintang. Bintang-bintang generasi pertama ini mengionisasi ulang hidrogen netral sekitarnya, menciptakan gelembung ruang yang mengembang yang bisa dengan mudah dilalui cahaya. 

Sumber: infoastronomy