Kamis, 19 Januari 2017
GJ 1132b, Planet Kembaran Venus yang Atmosfernya Beroksigen
Sekitar 14 bulan yang lalu, sebuah tim astronom mengumumkan penemuan planet ekstrasurya GJ 1132b yang merupakan planet kembaran Venus. Sebuah jurnal penelitian baru juga menjelaskan kemungkinan adanya oksigen di atmosfer planet tersebut. Meskipun suhu permukaannya sangat panas karena dekat dengan bintang induknya.
Planet GJ 1132b diketahui memiliki massa yang 1,6 besar dari Bumi, tidak seperti Venus, tetapi suhunya diperkirakan antara 120°C hingga 320°C, atau rata-rata 227°C. Suhu tersebut memang sanagt panas bagi perspektif kita, tapi sebenarnya sedikit lebih dingin daripada kebanyakan planet berbatu yang banyak ditemukan sejauh ini.
GJ 1132b mengorbit bintang induknya pada jarak sekitar 2,2 juta kilometer atau sekitar 1,5 persen dari jarak Bumi-Matahari. Meskipun bintang induknya , yang bernama GJ 1132, adalah bintang katai merah dengan seperlima massa Matahari, planet GJ 1132b terpapar jauh lebih banyak cahaya panas dari bintang induknya daripada yang Bumi terima dari Matahari.
GJ 1132b lewat di depan bintang induknya cukup sering dari sudut pandang kita di Bumi karena memiliki periode orbit yang pendek. Planet ini berada pada jarak 39 tahun cahaya dari Bumi. Cukup dekat dalam skala kosmik, sehingga kita memiliki kesempatan besar untuk mendeteksi komposisi atmosfernya lebih lanjut selama transit planet di kemudian hari.
Seorang mahasiswi pascasarjana Laura Schaefer dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics telah menciptakan model untuk mengkaji kemungkinan adanya oksigen pada atmosfer planet GJ 1132b ini. Dalam jurnal penelitiannya yang diterbitkan dalam The Astrophysical Journal. Schaefer telah meneliti bagaimana keberadaan lautan magma di permukaan GJ 1132b mempengaruhi atmosfernya.
Oksigen yang berada pada atmosfer planet asing GJ 1132b ini akan diserap oleh lautan magma ini. Namun Schaefer menyimpulkan hanya sepersepuluhnya saja yang akan diserap. Selebihnya akan melarikan diri ke luar angkasa, meskipun GJ 1132b memiliki grafitasi lebih kuat dari Bumi.
"Pada planet bersuhu rendah. Oksigen bisa menjadi tanda-tanda kehidupan dan kelaikhunian. Tapi pada planet yang panas seperti GJ 1132b, hal itu menandakan sebaliknya, keberadaan oksigen justru membuat planet makin terpanggang dan panaas," kata Shaefer dalam jurnal penelitiannya.
Mempelajari planet seperti GJ 1132b dapat membantu kita memahami evolusi Venus. Para astronom saat ini bingung mengapa Venus hampir tidak memiliki molekul oksigen, meskipun diduga ia pernah memiliki lautan air cair di masa lalu.
Credit : InfoAstronomy
Rabu, 18 Januari 2017
22 Istilah Dalam Bahasa Indonesia yang Jarang Didengar Orang
1. Rebas :
Bertitikan; Berjatuhan (Air, Air Mata)
2. Racau :
Berbicara tidak karuan (Waktu sakit, demam dan sebagainya); Mengigau; Mengeluarkan bunyi secara beruang-ulang tanpa mempunyai arti khusus (dituturkan anak usia 3-12 tahun)
3. Berandang :
Tampak dengan jelas; mudah terlihat (Karena tidak ada yang menutupi atau melindungi)
4. Cokol :
Duduk-duduk berkumpul; Bedial; Bertempat tinggal (Bersarang: Kawanan penjahat dan sebagainya)
5. Lasak :
Selalu ingin bergerak; Tidak dapat tenang (Diam); Selalu ingin mengerjakan sesuatu
6. Bedegap :
Kuat; Tegap
7. Lanyak :
Melumat-lumat tanah dengan menginjak-injak supaya gembur atau berlumpur; Memukul kuat-kuat; Tidak mempedulikan; Melecehkan
8. Cakal :
Bagus; Elok; Cakap; Cemerlang
9. Nyenyat :
Sunyi senyap; Hening
10. Gamang :
Merasa takut (Ngeri serta khawatir); Lengang
Merasa takut (Ngeri serta khawatir); Lengang
11. Camar :
Lahap; Rakus; Sangat gemar
Lahap; Rakus; Sangat gemar
12. Ambau :
Terjun; Menyerah
13. Jenat :
Mati; (Sudah) Meninggal
14. Syak :
Rasa kurang percaya (Sangsi, Curiga, Tidak yakin, Ragu-ragu)
15. Sigi/Menyigi :
Menjolok (Mencungkil, mengorek) lubang atau liang
16. Menyaru :
Menyamar
17. Risak :
Mengusik; Mengganggu
18. Masgyul :
Bersusah hati karena suatu sebab; Sedih; Kesal; Sebal
Bersusah hati karena suatu sebab; Sedih; Kesal; Sebal
19. Lunyai :
Lusuh; Kumal
20. Laung :
Suara yang kuat (nyaring) yang diteriakkan (Untuk memanggil atau menyeru)
21. Sani :
Mulia; Luhur; Indah
22. Sondai :
Miring; Landai
Miring; Landai
Jumat, 11 November 2016
Alam Semesta Teramati Ternyata Lebih Kecil Dari Perkiraan Awal
Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, para ilmuan telah memperbarui pengukuran radius alam semesta teramati (observable universe). Dan ternyata, alam semesta teramati tidak sebesar yang kita kira sebelumnya.
Dalam pengukuranterbaru ini, dikatehui bagian dari alam semesta yang secara teknis terlihat dari Bumi sekarang menyusut sekitar 320 juta tahun cahaya ke segala arah.
Merekalah fisikawan Paul Halpern dan Nick ROmasello dari University of Siebces di Pgiladelphia, AS, yang telah menggunakan data perluasan alam semesta terbaru yang dikumpulkan oleh wahana antariksa Planck milik Agensi Antariksa Eropa (ESA), dan menemukan bahwa tepi dari alam semesta teramati sebenarnya 0,7 persen lebih kecil daipada perkiraan awal.
Mereka mengatakan bahwa dengan menggunakan pengukuran yang lebih akurat ini, mereka telah berhasil mendapatkan radius alam semesta teramati dari yang awalnya 45.660.000.000 tahun cahaya, saat ini hanya 45.340.000.000 tahun cahaya (1 tahun cahaya adalah sekitar 9,5 triliun km).
"Perbedaan 320 juta tahun cahaya mungkin tidak terlalu berarti pada skala kosmik, tapi tetap saja ini membuat alam semesta teramati yang kita ketahui ternyata lebih kecil," ujar Tomasello.
Alam semesta tramati merupakan sebuah konsep dimana sejumlah galaksi dan materi-materi lain, secara teori, dapat diamati dari Bumi pada saat ini. Cahaya-cahaya dari benda-benda id alam semesta teramati ini telah punya cukup waktu untuk mencapai penglihatan kita sejak kelahiran alam selesta sekitar 13,7 miliar tahun lalu.
Diansumsikan alam semesta adalah isotropik, jarak ke ujung-ujung alam semesta teramati kira-kira sama ke segala arah. Maka, alam semesta termati adalah sebuah volume bola yang pusatnya di pengamat. Setiap lokasi di alam semesta memiliki alam semesta termatinya masing-masing, yang mungkin atau mingkin juga tidak tumpang tindih dengan yang berpusat di Bumi.
Kata teramati di sini tidak ada hubungannya dengan kemampuan teknologi modern untuk mendeteksi radiasi dari objek di dalam daerah ini, melainkan dengan kemungkinan cahaya atau radiasi lain dari objek mencapai pengamat. Pada praktiknya, kita hanya dapat melihat cahaya sejauh ketika foton terbelah ketika masa rekombinasi.
Han ini terjadi ketika pertikel pertama klali dapat melepas foton yang kemudian tidak cepat terserap kembalo oleh partikel lainnya. Sebelum itu, alam semesta terisi oleh plasma yang tidak tembus cahaya ke foton. Gelombang gravitasi yang terdeteksi menandakan bahwa saat ini ada kemungkinan untuk mendeteksi sinyal non-cahaya dari sebelum masa rekombinasi.
Estimasi terbaik usia alam semesta pada 2015 adalah 13,799±0,021 miliar tahun, namun karena adanya ekspansi alam semesta maka manusia mengamati objek yang awalnya sangat dekat namun saat ini menjadi sangat jauhm lebih dari jarak tetap 13,8 miliar tahun cahaya.
Diperkirakan diameter alam semesta teramati adalah sekitar 28,5 gigapersecs (93 miliar tahun cahaya), menjadikan ujung alam semesta teramati berjarak sekitar 45,34 miliar tahun cahaya (menurut perhitungan terbaru ini)
Langganan:
Postingan (Atom)


