Minggu, 17 Juli 2016

Amr bin Ash

Namanya adalah Amr bin Ash bin Wail bin Hisyam bin Said bin Sahm Al-Qurasyi as-Sahmi. Di antara jasa besarnya adalah ketika Umar bin Khattab mengamatinya untuk menaklukkan Mesir, dan beliau berhasil menunaikan amanat tersebut. Amr merupakan salah seorang pahlawan bangsa Arab yang sangat terkenal, sekaligus seorang politisi yang cemerlang. Terkenal dengan kecerdasan dan kepintarannya mengatur siasat.

Sebelum Memeluk Islam

Kuniah Amr bin Ash adalah Abu Abdullah atau Abu Muhammad. Ia adalah seorang pedagang yang biasa bersafar ke Syam, Yaman, Mesir dan Habasyah. Amr memiliki bakat alamiah yang komplit, seorang penunggang kuda yang mahir, termasuk di antara kesatriannya kaum Quraisy, negosiator ulung dan ia juga seorang penyair yang puitis dan fasih bahasanya. Tidak heran, mengapa orang orang Quraisy mengirimnya untuk melobi An-Najasyi agar mengembalikan orang orang Mekah yang hijrah ke Habasyah.

Keislaman Amr bin Ash

Amr bin Ash masuk Islam pada tahun 8 H setelah kegagalan Quraisy dalam pernag Ahzab san dan enam bulan sebelum penaklukkan kota Mekah. Saat itu ia datang bersama Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah ke kota Madinah. Ketika tiga orang ini menemui Rasulullah, Rasulullah menatap ketiganya, lalu bersabda, "Mekah telah memberikan putra terbaiknya untuk kalian (umat Islam)."

Amr bin Ash mengatakan, "Pada saat Allah menganugerahkan hidayah Islam di hatiku, aku mendatangi Rasulullah.

Aku mengatakan, 'Julurkanlah tangan Anda, aku akan membaiat Anda.' Rasulullah pun menjulurkan tangan kanannya kepadaku. Lalu kutahan tanganku, 'sebentar.'

Rasulullah bertanya, 'Ada apa wahai Amr?'

Kujawab, 'Aku ingin Anda memberikan syarat kepadaku.'

Rasulullah mengatakan, 'Apa syarat yang kau inginkan?'

Aku menjawab, 'Agar dosa dosaku diampuni.'

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tidakkah engkau ketahui, bahwa keislaman menghapuskan dosa dosa sebelumnya? Demikian juga hijrah menafikan kesalahan kesalahan yang telah lalu? Dan juga haji menyucikan hilaf dan dosa terdahulu?' (HR. Muslim)."

Di masa keislamannya, Rasulullah dekat kepadanya dan mendidiknya dengan pendidikan tauhid yang murni. Rasulullah tahu, Amr adalah orang yang istimewa, terkenal dengan keberanian dan bakat bakat lainnya. Rasulullah mengutus kepadanya seorang utusan yang membawa pesan, "Bawalah pakaian dan senjatamu, lalu temuilah aku."

Amr mengatakan, "Lalu aku menemui beliau yang saat itu sedang berwudhu. Beliau menatapku lalu mengangguk anggukkan kepalanga. Setelah itu beliau bersabda,

'Sesungguhnya aku hendak mengutusmu berperang bersama pasukan. Semoga Allah menyelamatkanmu, memberikan ghanimah dan aku berharap engkau mendapat harta yang baik.'

Amr menanggapi, 'Wahai Rasulullah, aku masuk Islam bukan untuk mencari harta, akan tetapi aku berislam karena aku mencintai agama ini. Dan menjadi salah seorang yang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (sahabatmu).'

Kemudian Rasulullah bersabda,

'Wahai Amr, sebaik baik harta adalah harta yang dimiliki orang shaleh.' (HR Ahmad dalam Musnad-nya no.17798 dan Hakim no.2926)."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Amr bin Ash adalah di antara orang orang yang baik di kalangan Quraisy." (HR. Tirmidzi dalam Sunan-nya no.3845)

Dalam riwayat Hakim dalam Mustadrak Rasulullah mempersaksikan bahwa Amr bin Ash adalah orang yabg beriman, bukan seorang laki laki munafik.

"Dua orang anak laki laki Ash adalah orang yang beriman, yaitu Hisyam dan Amr." (HR. Hakim no.5053 dan Ahmad dalam Musnad-nya no.3845).

Ini adalah persaksian dari manusia yang paling mulia, yang perkataannya adalah wahyu yang tidak didustakan, atas keimanan Amr bin Ash. Rasulullah sangat mencintai dan mengagumi kemampuan Amr bin Ash, terbukti dengan beliau mengangkatnya sebagai pimpinan pasukan perang Dzatu Salasil dan mengangkatnya sebagai amir wilayah Oman sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat.

Penaklukkan Oleh Amr bin Ash

Pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, Amr bin Ash turut serta dalam memerangi orang orang murtad. Setelah itu Abu Bakar mengangkatnya sebagai panglima salah satu pasukan yang diberangkatkan menuju wilayah Syam. Lalu ia bergabung dengan Khalid bin Walid dalam perang Yarmuk. Kemudian ia merampungkan penaklukkan wilayah Syam. Melalui pemimpin ulung ini, wilayah Gaza, Yafa, Rafah, Nubulus dan lain lain berhasil dikuasai kaum Muslimim.

Pada masa Umar bin Kahatab, ia dipercaya memimpin Palestina. Kemudian Umar memerintahkannya berangkat menuju Mesir untuk menghadapi pasukan Romawi. Umar sangat mengagumi kecerdasan yang dimiliki Amr bin Ash, sampai sampai ia memujinya dengan mengatakan, "Tidak pantas, bagi Abu Abdullah (Amr bin Ash) berjalan di muka bumi ini kecuali sebagai seorang pemimpin." (Riwayat Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 46:155).

Tibalah waktu dimana Umar bin Kahattab memerintahkan Amr untuk berangkat ke Mesir memerangi orang Romawi. Menyerang negara adidaya ini, Amr hanya diberi bekal 4000 orang pasukan yang berangkat bersamanya. Tanoa perasaan gentar dan takut, pasukan pun bertolak menuju  ke tanah para firaun itu.

Amirul Mukminin, Umar bin Khattab tetap memantau pasukan ini, ia senantiasa meneliti kabar kabar tentang Romawi di Mesir dan juga senantiasa berdiskusi dan mendengar kabar kabar tentang Romawi, Umar khawatir dengan pasukan Amr, khawatir mereka tidak mampu menghadapi pasukan Romawi yang begitu kuat dan banyak jumlahnya. Akhirnya Amirul mukminin menulis surat kepada Amr, "Apabila suratku sampai kepadamu sebelum engkau memasuki Mesir, maka kembalilah! Tetapi jika engkau sudah memasukinya, lanjutkanlah dengan keberkahan dari Allah."

Akhirnya surat tersebut sampai ke tangan Amr yang kala itu sudah nemasuki wilayah Arisy. Amr bertanya kepada pasukannya, "Apakah kita sudah memasuki Mesir atau masih berada di wilayah palestina?" Pasukannya menjawab, "Sekarang kita sudah di Mesir." Lalu Amr mengatakan, "Jika demikian kita lanjutkan perjalanan sebagaimana yang diperintahkan Amirum mukminin."

Pemimpin yang cerdik dan pemberani ini membawa pasukannya menaklukkan kota demi kota di wilayah Mesir. Dimulai dari kota Farma, kemudian Belbis dan Ummu Danain. Setelah itu sampailah Amr si kota besar Iskandariyah. Di kota ini terdapat 50.000 orang pasukan Romawi.

4000 pasukan yang tenaganya telah tercurah dalam beberapa peperangan sebelumnya, dengan gagah berani mengepung kota Iskandariyah yang memiliki pasukan besar. Di tengah pengepungan, tersiar kabar bahwa Raja Romawi di Konstantinopel wafat dan digantikan dengan adiknya. Sang adik yang tidak banyak mengetahui tentang konflik di Mesir ini, memandang tidak ada celah untuk mengalahkan umat Islam. Ia memerintahkan perwakilannya di Mesir, Raja Muqauqis, agar mengikat perjanjian damai dengan umat Islam.

Dalam perjanjian damai itu, tersebutlah beberapa poin berikut ini:
(1) Setiap orang menyerahkan dua dinar, kecuali orang tua dan anak anak,
(2) Orang orang Romawi pergi dengan harta dan barang barang mereka dari kota Iskandariyah,
(3) Umat Islam menghormati gereja gereja Kristiani saat memasuki kota, dan syarat lainnya. Setelah itu, Amr mengirimkan kabar gembira ke Madinah bahwa Mesir sudah jatuh ke tangan umat Islam.

Menjadi Gubernur Mesir

Orang orang Mesir menyambut gembira kedatangan umat Islam, hal itu dikarenakan mereka mengetahui keadilan umat Islam dan mereka bebas dari kezhaliman dan sifat kasar orang orang Romawi. Amr bin Ash berkata kepada penduduk Mesir, "Wahai penduduk Mesir, sesungguhnya Nabi kami telah mengabarkan bahwa Allah akan menaklukkan Mesir untuk umat Islam. Dan beliau mewasiatkan kamu agar berbuat baik kepada kalian. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda,

'Jika kalian menaklukkan Mesir, maka aku wasiatkan agar kalian berbuat baik kepada orang orang Qibthu ini. Mereka berhak atas perlindungan dan kasih sayang." (HR. Muslim no.2543)

Selama masa masa memimpin Mesir, Amr sangat mencintai dan dicintai rakyatnya. Ia memperlakukan mereka dengan adil dan penuh hikmah. Pada masanya juga Mesir mengalami kemajuan pembangunan, di antaranya perencanaan pembangunan kota Fustat (sekarang sisebut Kairo)

Wafatnya Amr bin Ash

Amr bin Ash wafat pada tahun 43 H atau 663 M, saat itu umurnya lebih dari 90 tahun. Ia telah meriwayatkan 39 hadis dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ketika ia sedang sakit yang mengantarkannya kepada wafat, anaknya Abdullah bin Amr datang menemuinya. Abdullah melihat ayahanda tercinta sedang menangis, lalu ia mengatakan, "Wahai ayahanda, bukankah Rasulullah telah memberikan kabar gembira kepadamu, bukankah Rasulullah telah memberikan kabar gembira kepadamu."

Kemudian Amr menghadapkan wajahnya dan mengatakan, "Aku mengalami tiga fase perjalanan hidup, dahulu aku adalah orang yang sangat membenci Rasulullah. Aku sangat senang apabila aku berhasil menangkapnya lalu membunuhnya dengan tanganku. Seandainya aku wafat dalam fase ini, pastilah aku menjadi penduduk neraka.

Ketika Allah menghadirkan kecintaan terhadap Islam di dalam hatiku, aku mendatangi Nabi, kukatakan kepada beliau, 'Julurkanlah tangan Anda, aku akan membaiat Anda.' Rasulullah pun menjulurkan tangan kanannya kepadaku. Lalu kutahan tanganku.

Beliau bertanya, 'Ada apa wahai Amr?'

Kujawab, 'Aku ingin Anda memberikan syarat kepadaku.'

Rasulullah mengatakan, 'Apa syarat yang kau inginkan?'

Aku menjawab, 'Agar dosa dosaku diampuni.'

Kemudian beliau bersabda, 'Tidakkah engkau ketahui, bahwa keislaman menghapuskan dosa dosa sebelumnya? Demikian juga hijrah menafikan kesalahan kesalahan yang telah lalu? Dan juga haji menyucikan hilaf dan dosa terdahulu?'

Tidak ada seorangpun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah, mataku senantiasa membayangkan dirinya. Aku segan menahan pandanganku yang demikian, karena aku sangat menghormatinya. Kalau sekiranya aku dipinta untuk menjelaskan fisik beliau, Aku tidak mampu, karena aku tidak pernah meyorotkan mataku kepadanya karena rasa hormatku untuknya. Jika aku wafat dalam keadaan demikian, aku berharap aku termasuk penduduk surga.

Kemudian terjadilah suatu perkara, yang aku tidak tahu bagaimana keadaanku kala itu. Tidak bersamaku angin yang berhembus demikian juga api. Saat kalian menguburkanku dan kalian lempari aku dengan tanah pekuburan, kemudian kalian berdiri sesaat di pemakamanku, dan aku menunggu apa yang aku akan jawab dari pertanyaan utusan (malaikat) Rab-ku." (Riwayat Muslim dalam kitab Al-Iman no.121)

Credit : KisahMuslim.com

Sabtu, 16 Juli 2016

Solstis Musim Panas 21 Juni 2016


Bumi kita akan memasuki solstis Juni, sebuah peristiwa yang menandakan awal musim panas untuk belahan Bumi utara dan musim dingin di belahan Bumi selatan. Solstis Juni ini bakal terjadi tepatnya pada 20 Juni 2016 pukul 22:34 UTC atau pada 21 Juni 05:34 WIB.

Untuk orang-orang yang tinggal di belahan Bumi utara, di solstis Juni akan merasakan siang hari yang lebih panjang, dan malam hari yang singkat. Sementara di belahan Bumi selatan adalah kebalikannya. Dan untuk wilayah tropis yang berada di ekuator seperti Indonesia, efek solstis Juni tidak terlalu terasa.

Di Indonesia, Matahari akan tetap terbit sekitar pukul 06:00 dan selalu terbenam sekitar pukul 18:00. Ini karena letak Indonesia di daerah ekuator: 6° LU dan 11° LS. Perbedaan kala siang dan malam di Indonesia akan baik-baik saja.

Sedangkan di belahan Bumi utara dan selatan, hal seperti di Indonesia ini tidak terjadi setiap hari. Pada musim dingin, siang hari bisa terjadi hanya beberapa jam saja atau kurang dari 12 jam dan sisanya malam. Sedangkan pada musim panas, yang terjadi sebaliknya, malam hari hanya beberapa jam, sekitar 6-7 jam tergantung lintang dan sisanya siang.

Matahari terbit sebelum pukul 06:00 dan terbenam lebih dari pukul 21:00 malam. Semakin dekat ke kutub, semakin lama siang, dan di lingkar kutub, siang terjadi 24 jam selama 6 bulan pada musim panas, dan malam selama 24 jam untuk 6 bulan pada musim dingin.


Hal ini membuktikan bahwa bumi mengelilingi matahari. Revolusi bumi dan rotasi bumi terjadi sepanjang tahun, tetapi pusat bumi tidak tegak lurus pada porosnya, melainkan miring 23,5° dari sumbu rotasi sehingga tidak semua area di bumi mendapat panas yang sama di satu waktu. Pada musim dingin di belahan bumi selatan, matahari 'lebih dekat' dengan utara (gambar kanan). Akibatnya cahaya yang didapat lebih sedikit dan suhu di selatan menjadi lebih dingin.

Lalu pada musim gugur dan semi (gambar bawah dan atas), matahari tepat di ekuator dan suhu mulai menghangat. Kemudian, pada musim panas (gambar kiri), matahari 'lebih dekat' ke selatan, sehingga suhu naik dan terjadi musim panas.

Karena itulah pada saat bagian bumi selatan mengalami musim dingin, maka belahan bumi utara mengalami musim panas, dan juga sebaliknya bagi semua musim. Di ekuator, tidak ada perubahan signifikan karena ini. Kita hanya akan mengalami musim peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau.

Solstis Juni 2016 di belahan bumi utara disebut solstil musim panas (summer solstice), dan di belahan bumi selatan disebut solsrim musim dingin (winter solstice). Biasanya akan ada karnaval atau perayaan di negara negara Eropa, Amerika dan negara negara lain yang terkena "dampak" salstis setiap tahunna.

Jadi, tidak ada dampak negatif apapun dari solstis Juni nanti. Bumi kita akan baik baik saja karena ini memang peristiwa periodik setiap tahunnya.

Selamat solstis Juni..

Credit : InfoAstronomy

Abdullah bin Abbas

Abdullah bin Abbas adalah anak dari Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah. Ibu beliau vernama Ummul Fadhl Lubabah binti Harits Al-Hilaliyah. Beliau lahir tiga tahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah dan berumur tiga belas tahun ketika Nabi meninggal. Dalam sebagian riwayat disebutkan, beliau berbadan gemuk, putih, dan tinggi. Beliau adalah seorang yang pandai serta fasih berbicara. Banyak dari lawan bicara Ibnu Abbas mengikuti pendapatnya setelah berdialog dengannya. Seorang ulama tabi'in, Masruq bin Al-ajda mengatakan , "Ketika aku melihat Abdullah bin Abbas, aku katakan 'Dia adalah orang yang paling tampan.' Lalu ketika dia berbicara aku katakan, 'Dia orang yang paling pandai bicara.' Dan ketika dia berbicara aku katakan, 'Dia orang yang paling berilmu.'"

Ulama tabi'in lainnya, Abu Wa'il Syaqiq bin Salamah mengatakan "Ibnu Abbas berkhutbah kepada kami pada musim haji. Beliau membuka dengan surah Nur. Beliau membacanya dan menafsirkannya. Aku pun mengatakan 'Aku tidak pernah melihat atau mendengar ucapan seseorang yang semisal ini. Andai Persia, Romawi dan Turki mendenganya, niscaya mereka akan masuk Islam.'"

Soal tafsir pun Ibnu Abbas ahlinya. Abdullah bin Mas'ud , seorang ulama sahabat, mengakui kepiawaian Ibnu Abbas dengan mengatakan, "Penafsir Al-Qur'an yang paling baik adalah Ibnu Abbas. Jika dia berumur seperti kita, niscaya tidak ada seorangpun dari kita yang ilmunya mencapai sepersepuluh ilmunya."

Al-Qasim bin Muhammad mengatakan tentangnya, "Aku tidak melihat di majelis Ibnu Abbas satu kebatilanpun. Aku tidak pernah mendengar fatwa yang lebih cocok dengan sunnah daripada fatwanya. Para muridnya menjuluki beliau Al-Bahr (Lautan Ilmu) dan Al-Habr (Tinta)." Demikianlah Ibnu Abbas dijukuki Habrul Ummah.

Siapa tak kenal Ummar bin Khatab, sang khalifah kedua setelah Abu Bakar? Ternyata, sahabat sekelas Ummar pun mengakui keilmuan Ibnu Abbas yang waktu itu masih muda. Tercatat oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahih beliau bahwasanya suatu saat Ummar memasukkan Ibnu Abbas muda ke dalam majelisnya bersama para tokoh Islam. Pada waktu itu, para tokoh Badr yang telah matang dalam usia sangsi akan kemampuan Ibnu Abbas. Merekapun bertanya pada Ummar, "Kenapa anda memasukkan pemuda ini ke tengah majelis kita padahal kami juga punya anak seperti dia."

Ummar pun menjawab "Kalian telah mengetahui tentangnya (yakni kepandaiannya.)"

Suatu saat, Ummar memanggil Ibnu Abbas ke tengah majelis mereka untuk memperlihatkan kepandaian Ibnu Abbas. Ummar menanyakan kepada mereka, "Apa yang kalian ketahui tentang firman Allah ta'ala (yang artinya) 'jika telah datang pertolongan Allah dan penaklukan'?"
Sebagian tokoh Badr tersebut pun menjawab, "Allah memerintahkan kita untuk beristighfar setelah Allah menolong dan memudahkan kita untuk menaklukkan Mekah." Sedang sebagian lainnya memilih diam.

Sekarang giliran Ibnu Abbas, "Demikiankah?" Kata Ummar pada Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas mengatakan, "Tidak."
"Lantas, apa menurutmu?" Tanya Ummar.
Ibnu Abbas mengatakan, "Itu adalah wafatnya Rasulullah. Allah memberitahukannya kepada beliau 'Jika datang kepadamu pertolongan dan penaklukan'. [Q.S. Al-Nashr : 1] itu adalah tanda dari dekatnya wafat Nabi, 'Maka bertasbih lah dengan pujian kepada Rabbmu dan mintalah ampun. Sesungguhnya dia Maha Pengampun'. [Q.S. Al-Nashr : 3].

Ummar pun mengatakan, "Aku tidak mengetahuinya kecuali seperti apa yang engkau katakan."

Demikianlah ketajaman dan ketelitian Ibnu Abbas dalam memahami wahyu. Dia mengetahui bahwa perintah istighfar tidak bisa digunakan ketika terjadi kemenangan dan penaklukan. Dia mengetahui perintah istighfar dan taubat biasanya digunakan untuk mengahkhiri sesuatu, maka dia pun menafsirkan pertolongan dan penaklukan dalam ayat tersebut sebagai tanda akan diwafatkannya beliau.

Berawal dari do'a yang mustajab

Berbagai keutamaan yang Ibnu Abbas raih ini sejatinya tidak lepas dari do'a mustajab yang dipanjatkan oleh Rasulullah. Saat itu, Rasulullah hendak buang hajat. Ibnu Abbas kecil memahami kebiasaan Rasulullah yang berwudhu setiap kali habis dari buang hajat. Dia pun meletakkan air wudhu di tempat keluarnya Nabi. Lantas, ketika Nabi melihat air wudhu yang sudah dipersiapkan, Rasulullah pun bertanya, "Siapa yang meletakkan ini?" Ibnu Abbas menjawab, "Ibnu Abbas." Maka Rasulullah pun meletakkan telapak tangannya di bahu Ibnu Abbas kecil seraya berdo'a.

"Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam masalah agama dan ajarkanlah kepadanya tafsir."

Dari do'a inilah kemuliaan demi kemuliaan dia peroleh. Namun, tentu saja kemuliaan ini bukan turun dari langit begitu saja. Allah memberi taufik kepada Ibnu Abbas untuk menuntut dan mencari kemuliaan tersebut dengan sepenuh tenaga yang Allah karuniakan kepadanya, bukan hanya dengan berpangku tangan.

Akhir Hayat Ibnu Abbas

Ibnu Abbas meninggal di tha'if pada tahun 68 H pada pemerintahan Ibnu Zubair. Waktu itu, umur beliau sekitar 70 tahun. Di antara yang menshalati beliau adalah seorang ulama tabi'in, Muhammad bin Ali bin Abu Thalib yang dikenal dengan Ibnu Hanafiyah. Beliau mengatakan, "Telah meninggal seorang ulama rabbani bagi umat ini."